...

Penjelasan Faktur Obat: Fungsi, Jenis, dan Cara Pembuatan

Faktur obat menjadi elemen pendukung yang penting pada proses pembelian serta penjualan produk obat-obatan. Ini mengingat kandungan informasi dalam faktur yang dapat menjadi bukti transaksi Anda saat membeli, menjual, maupun mengembalikan obat. 

Selain itu, faktur juga berfungsi menjadi rujukan dalam pembukuan keuangan bisnis apotek. Itulah mengapa, Anda perlu memahami cara membuat faktur pada artikel ini. Pelajari juga Tips Mengelola Manajemen Apotek dengan Baik.

Apa Itu Faktur Obat?

Ini merupakan cek tagihan yang berfungsi sebagai bukti tertulis daftar pembelian obat dan diberikan oleh pelayan farmasi. Umumnya, daftar pada faktur berisi nama barang, jumlah barang, serta harga barang yang perlu Anda bayar.  

Fungsi 

Tidak hanya pengertian faktur obat, Anda juga perlu mengetahui berbagai fungsinya. Adapun beberapa fungsi utamanya adalah sebagai berikut:

1. Bukti Pembelian yang Sah

Faktur berfungsi sebagai bukti bahwa obat yang terbeli telah terdata secara sah. Ini bermanfaat untuk apotek yang membutuhkan bukti konkret arus masuk dan keluar produknya.

2. Bukti Tagihan yang Valid

Fungsi faktur selanjutnya adalah sebagai bukti valid suatu tagihan fasilitas farmasi seperti apotek. Ini berlaku saat pelanggan ingin membeli suatu obat. Faktur akan berperan sebagai bukti nyata jika terdapat ketidaksesuaian pada produk pesanan.

3. Pedoman Pembukuan Keuangan

Untuk memastikan pengelolaan stok obat efisien, maka faktur obat dibutuhkan sebagai pedoman dalam pembukuan keuangan. Pengurus apotek lebih mudah mengetahui bahwa sebuah produk telah sah terjual sehingga bisa menyesuaikan pada catatan keuangannya.

4. Pedoman Pembukuan Informasi Obat

Satu lagi fungsi faktur, yakni sebagai pedoman pada pembukuan informasi obat di apotek. Mengelola stok produk obat-obatan pun jadi lebih mudah karena faktur membantu mengetahui jumlah obat telah berkurang dari ketersediaan stok sebelumnya.

Komponen Penting dalam Faktur Obat

Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2015 tentang Peredaran, Penyimpanan, Pemusnahan, dan Pelaporan Narkotika, Psikotropika, dan Prekursor Farmasi, faktur obat harus memuat informasi berikut:

  1. Nama, alamat, dan nomor izin fasilitas distributor
  2. Nomor dan tanggal faktur
  3. Nama, alamat, dan nomor izin fasilitas penerima
  4. Nama obat, bentuk sediaan, dan kekuatan sediaan
  5. Jumlah obat (dalam satuan terkecil)
  6. Nomor bets dan tanggal kedaluwarsa untuk setiap obat
  7. Tanda tangan dan nama jelas penanggung jawab

Siapa yang Menandatangani Faktur Obat?

Pertanyaan ini sering muncul dan penting untuk dipahami dengan benar. Secara umum sesuai dengan regulasi yang berlaku:

  1. Dari Pihak Distributor: Faktur obat harus ditandatangani oleh Apoteker Penanggung Jawab atau petugas yang diberi wewenang oleh Apoteker Penanggung Jawab. Ini sesuai dengan Peraturan BPOM Nomor 9 Tahun 2019 tentang Pedoman Teknis Cara Distribusi Obat yang Baik.
  2. Dari Pihak Penerima: Ketika obat diterima, faktur harus ditandatangani oleh Apoteker Penanggung Jawab di fasilitas penerima atau petugas yang diberi wewenang. Hal ini penting untuk memastikan bahwa obat yang diterima sesuai dengan yang tercantum dalam faktur.

Penting untuk dicatat bahwa penandatanganan ini bukan sekadar formalitas. Ini merupakan bentuk pertanggungjawaban hukum atas kebenaran informasi dalam faktur dan kesesuaian obat yang ditransaksikan.

Berapa Lembar Faktur Obat?

Berdasarkan praktik standar di industri farmasi:

Faktur obat umumnya dibuat dalam 3 (tiga) rangkap:

  1. Lembar Asli (Putih): Untuk pembeli (apotek, rumah sakit, atau fasilitas kesehatan lain)
  2. Lembar Kedua (Merah): Untuk bagian akuntansi distributor
  3. Lembar Ketiga (Kuning): Untuk arsip distributor

Meskipun demikian, dengan perkembangan teknologi, beberapa distributor telah beralih ke sistem elektronik. Dalam kasus ini, faktur mungkin hanya terdiri dari satu lembar yang dicetak, sementara salinan digital disimpan dalam sistem.

Komponen Penting dalam Surat Pesanan Obat

Surat pesanan obat harus mencakup beberapa komponen penting, antara lain:

  1. Kop surat fasilitas pemesan
  2. Nomor surat pesanan
  3. Nama dan alamat fasilitas pemesan
  4. Nama dan alamat distributor atau PBF
  5. Nama obat, bentuk sediaan, dan kekuatan
  6. Jumlah obat yang dipesan
  7. Nama dan tanda tangan apoteker penanggung jawab
  8. Nomor Surat Izin Praktik Apoteker (SIPA)
  9. Stempel fasilitas pemesanan
  10. Tanggal pemesanan

Berapa Rangkap Surat Pesanan Obat?

Surat pesanan obat umumnya dibuat dalam 2 (dua) rangkap. Ini adalah praktik standar. Alasan di balik pembuatan dua rangkap ini adalah:

  1. Rangkap Pertama: Dikirimkan kepada distributor atau PBF sebagai dokumen pemesanan resmi.
  2. Rangkap Kedua: Disimpan oleh fasilitas pemesan sebagai arsip dan bukti pemesanan.

Penggunaan dua rangkap ini memastikan bahwa kedua belah pihak memiliki salinan dokumen yang identik, yang sangat penting untuk keperluan verifikasi, audit, dan dokumentasi internal.

Dalam beberapa kasus, terutama untuk obat-obatan yang memerlukan pengawasan khusus seperti narkotika dan psikotropika, mungkin diperlukan rangkap tambahan untuk keperluan pelaporan kepada instansi berwenang seperti Dinas Kesehatan setempat.

Surat Pesanan Dibuat oleh Siapa?

Sesuai dengan regulasi yang berlaku, surat pesanan obat harus dibuat dan ditandatangani oleh Apoteker Penanggung Jawab dari fasilitas pelayanan kefarmasian atau fasilitas pelayanan kesehatan yang bersangkutan. Ini bukan tugas yang dapat didelegasikan kepada staf non-apoteker karena beberapa alasan penting:

  1. Tanggung Jawab Profesional: Apoteker memiliki pengetahuan dan kompetensi untuk memastikan bahwa obat yang dipesan sesuai dengan kebutuhan fasilitas dan memenuhi standar keamanan.
  2. Legalitas: Tanda tangan dan nomor SIPA apoteker penanggung jawab adalah komponen wajib dalam surat pesanan, yang menegaskan legalitas dan akuntabilitas pemesanan.
  3. Kontrol Kualitas: Apoteker dapat memverifikasi kesesuaian jenis obat, bentuk sediaan, dan jumlah yang dipesan dengan kebutuhan fasilitas.
  4. Manajemen Risiko: Apoteker bertanggung jawab untuk memastikan bahwa pemesanan obat sesuai dengan kapasitas penyimpanan dan penggunaan fasilitas, menghindari pemborosan atau kekurangan stok.
  5. Kepatuhan Regulasi: Apoteker memahami regulasi terkait pemesanan obat, terutama untuk obat-obatan yang memerlukan pengawasan khusus.

Jenis-Jenis Faktur Obat

Terdapat berbagai jenis faktur untuk obat yang bisa membantu proses pengelolaan stok di apotek, yaitu sebagai berikut: 

1. Faktur Pembelian

Jenis faktur ini berbentuk dokumen yang dibuat oleh pembeli. Informasi pada faktur adalah pesanan yang diperuntukkan bagi penjual produk. Lebih jelasnya, terdapat informasi seperti nama supplier, nama obat, kuantitas, hingga total harga.  

2. Faktur Penjualan

Faktur penjualan merupakan dokumen yang menjadi bukti dari transaksi pembelian dengan harga penuh atau lunas. Contoh detail informasi yang tertera mulai dari nama apotek, lalu surat izin apotek, serta metode pembayaran. 

3. Faktur Retur

Adapun faktur retur adalah bentuk pengembalian faktur yang dibuat baik oleh pembeli atau penjual karena terdapat ketidaksesuaian pada transaksi. Contohnya, kesalahan seperti obat rusak hingga obat tidak memenuhi standar.

Cara Membuat

Setelah memahami pengertian faktur obat dan jenis-jenisnya, berikut cara pembuatannya secara umum:

1. Menyiapkan Tiga Rangkap Faktur

Biasanya, terdapat tiga rangkap faktur. Salinan pertama adalah faktur asli berwarna putih. Ini akan diserahkan untuk pembeli. Lalu, salinan kedua untuk penjual simpan dengan telah terdapat tanda tangan pembeli di dalamnya. 

Kemudian, jadikan lampiran saat melakukan penagihan pada kemudian hari. Adapun salinan ketiga tersimpan dalam pembukuan.

2. Pengisian Data Supplier

Isi data-data supplier seperti nama, alamat, kota, hingga kode pos. Data ini akan memudahkan proses pengambilan obat-obatan oleh kurir.

3. Mencantumkan Detail Obat

Detail produk obat juga perlu dimasukkan untuk menghindari kesalahan. Pastikan deskripsi nama obat, kuantitas, harga per unit, diskon, pajak, hingga total harganya sesuai. 

4. Melengkapi Data Pembeli 

Sama seperti data supplier, pihak pembeli juga perlu dicantumkan datanya dalam faktur. Masukkan data seperti nama pembeli, alamat, kota, negara, hingga kode pos pada faktur.

5. Menambahkan Informasi Pendukung

Transaksi jual-beli obat yang mendapatkan harga diskon umumnya akan menambahkan informasi pendukung. Misalnya, ‘dikurangi potongan harga’. Jadi, informasi pada faktur lebih akurat sesuai transaksi.

6. Membuat Catatan untuk Pengiriman

Catatan ini biasanya diberikan untuk memudahkan kurir menemukan lokasi supplier atau pembeli. Selain itu, catatan tanggal pengiriman juga dicantumkan pada faktur. 

Kesalahan Umum dalam Pembuatan Faktur Obat

Umumnya, kesalahan yang terjadi saat membuat faktur untuk obat meliputi human error seperti kesalahan input data. Informasi seperti nama, alamat, hingga nomor kode dapat salah eja sehingga menyulitkan proses verifikasi.

Contoh Faktur Obat

Contoh-faktur-obat

Tips Memastikan Keabsahan Faktur Obat

Untuk menjamin keabsahan faktur, Anda perlu mengkonfirmasi informasi seperti nomor faktur, identitas supplier dan pembeli, hingga alamatnya. Pastikan pula faktur dikeluarkan secara resmi oleh apotek atau sarana sejenis serta telah ditandatangani oleh pihak-pihak yang terlibat.  

Berikut Jenis Surat Pesanan Obat untuk Pengadaan Obat dan Cara Membuatnya yang tidak kalah penting untuk Anda pahami.

Penuhi Kebutuhan Apotek Anda bersama Distributor Obat Mandira Distra Abadi

Setelah Anda memahami tentang faktur obat, pastikan hanya mendapatkan obat dari Distributor Obat Mandira Distra Abadi. Mandira telah terpercaya selama 31 tahun hingga kini dalam memenuhi keperluan obat bagi rumah sakit, apotek, hingga pedagang besar farmasi.

Mandira sendiri adalah Pedagang Besar Farmasi (PBF) yang bermitra dengan perusahaan obat ternama. Mari kunjungi Halaman Prinsipal kami untuk mengetahui ragam obat yang kami miliki. 

Kamu juga melayani pengiriman menuju seluruh Indonesia. Segera hubungi kami untuk penawaran pemesanan obat terbaik! Kunjungi juga blog kami agar tidak melewatkan tips-tips kesehatan yang bermutu.

Penjelasan Swamedikasi di Apotek: Manfaat Hingga Tujuannya

Swamedikasi di apotek sangat penting bagi masyarakat yang membutuhkan pengobatan. Terutama jika mereka hanya menderita penyakit ringan. Pengobatan dengan swamedikasi dirasa lebih ekonomis, cepat, dan efisien. 

Itulah mengapa, kualitas pelayanan apotek dalam mendukung swamedikasi masyarakat perlu menjadi perhatian utama. Apoteker perlu mengupayakan agar penggunaan obat tetap rasional dan tepat guna. Maka dari itu, simak terlebih dahulu 2 Hal yang Perlu Diketahui dari Konseling Obat di Apotek.

Untuk memahami manfaat, tujuan, hingga tips aman melakukan swamedikasi, pahami penjelasan berikut dengan seksama: 

Apa itu Swamedikasi?

Swamedikasi merupakan pengobatan penyakit ringan dan gejalanya melalui pemilihan serta penggunaan obat-obatan secara mandiri tanpa berpedoman pada resep dokter. 

Dalam penerapannya, swamedikasi wajib memenuhi standar pengobatan sebagaimana mestinya. Mulai dari tepat obat, lalu tepat pasien, tepat dosis, hingga kewaspadaan pada efek samping dan interaksi obat. 

Itulah mengapa, masyarakat perlu mengetahui syarat-syarat umum saat melakukan swamedikasi di apotek sebagai berikut:

1. Khusus Penyakit Ringan

Swamedikasi hanya diperuntukkan bagi penderita penyakit ringan seperti batuk, diare, influenza, hingga anemia. Obat yang dikonsumsi pun kategorinya hanya obat bebas serta bebas terbatas.

2. Mampu Menemukan Obat yang Sesuai

Pasien harus bisa menemukan informasi obat yang sesuai dengan penyakitnya. Konsultasi dengan apoteker jadi cara tepat agar informasi yang didapat akurat;

3. Paham Informasi Obat yang Digunakan

Demi mengoptimalkan swamedikasi, pastikan pasien paham informasi yang tercantum di kemasan obat. Seperti aturan pakai, lalu efek samping, serta tanda peringatan berbunyi ‘Apabila Sakit Berlanjut Segera Hubungi Dokter’;

4. Tidak untuk Semua Jenis Pasien

Terdapat pengecualian dalam swamedikasi, yakni tidak diperuntukkan bagi anak di bawah 2 tahun, ibu hamil, serta orang tua berusia lebih dari 65 tahun.

Manfaat Swamedikasi di Apotek

Setelah memahami definisi dan syarat-syarat swamedikasi, mari pahami berbagai manfaatnya di bawah ini:

1. Akses Cepat ke Pengobatan

Swamedikasi ideal untuk penyakit ringan karena Anda hanya perlu menuju apotek terdekat untuk mendapatkan pengobatan. Tidak harus berkonsultasi ke dokter dan menunggu resep obat yang umumnya membutuhkan waktu cukup lama dan proses cukup panjang. Terlebih bila rumah sakit sedang ramai.

2. Hemat Waktu dan Biaya

Bila dibandingkan dengan konsultasi ke dokter, swamedikasi yang dilakukan di apotek terdekat justru lebih hemat waktu dan biaya. Termasuk hemat tenaga karena tidak perlu berhadapan dengan risiko menunggu berjam-jam hingga mendapatkan resep dokternya.

3. Edukasi Kesehatan Mandiri

Mampu menemukan obat yang sesuai serta memahami informasi obat yang digunakan menjadi syarat agar pasien dapat swamedikasi. Oleh sebab itu, Anda ikut mengedukasi diri sendiri terkait kesehatan. 

Edukasi juga semakin optimal dengan riset komprehensif tentang obat dan juga melakukan sesi konsultasi bersama apoteker. 

Tujuan Swamedikasi di Apotek

Terdapat berbagai tujuan dari swamedikasi, yaitu:

1. Memaksimalkan Kesehatan Masyarakat

Swamedikasi jadi solusi karena pasien mendapatkan obat dari apotek yang merupakan layanan kefarmasian resmi.

2. Menangani Keluhan Ringan dengan Efektif dan Cepat

Pasien bisa mendapatkan akses pengobatan langsung tanpa resep dokter yang cenderung memakan waktu;

3. Memudahkan Aksesibilitas Masyarakat ke Layanan Kesehatan

Tersedia kemudahan bagi masyarakat untuk mengakses layanan kesehatan. Terutama bagi yang tinggal jauh dari rumah sakit dan puskesmas.

Tips Aman Melakukan Swamedikasi di Apotek

Untuk memastikan swamedikasi berjalan sesuai ketentuan, terdapat hal-hal yang harus dilakukan. Berikut adalah poin-poin dan penjelasannya:

1. Konsultasi dengan Apoteker

Apoteker berperan penting dalam konsultasi swamedikasi untuk membantu pasien mengevaluasi perkembangan penyakitnya secara mandiri. Selain itu, apoteker harus menasehati pasien terkait efek samping obat yang merugikan agar pasien tahu waktu yang tepat untuk ke dokter.

2. Membaca Label dan Panduan Obat

Obat yang diperuntukkan bagi pasien swamedikasi adalah obat yang berada pada kategori bebas dan juga bebas terbatas. Mengingat obat bisa didapatkan tanpa resep dokter, penting bagi pasien untuk mampu membaca label serta panduan penggunaan obat. 

Informasi seperti kandungan zat berkhasiat hingga kegunaan obat perlu pasien pahami agar lebih bijak dan tidak asal mengonsumsi obat. 

3. Mengenali Tanda-Tanda Serius

Bila pasien merasakan gejala penyakit mulai mencapai tingkat yang serius sebaiknya konsultasikan ke apoteker agar penilaian kondisi pasien lebih komprehensif.

Begitu pula saat mengonsumsi obat dari swamedikasi. Jika timbul efek samping yang cukup serius pada pasien, segera waspada dan ketahui apa yang harus dilakukan berdasarkan hasil konsultasi dengan apoteker. 

Selanjutnya, Anda dapat mengenal Seputar Konseling Apoteker yang Perlu Anda Ketahui untuk membuat konsultasi swamedikasi lebih efisien.

Penuhi Kebutuhan Apotek Anda Bersama Distributor Obat Mandira Distra Abadi

Bagi Anda yang mengelola apotek, sebaiknya bekerja sama dengan Distributor Obat Mandira Distra Abadi untuk memenuhi kebutuhan produk pendukung swamedikasi di apotek. Mandira telah dipercaya 31 tahun oleh apotek, rumah sakit, serta pedagang besar farmasi dalam melengkapi kebutuhan obat.

Sebab, Mandira Distra Abadi adalah Pedagang Besar Farmasi (PBF) dengan hubungan kerja sama ke berbagai produsen obat ternama. Anda bisa mengunjungi laman Prinsipal untuk mengetahui variasi obat yang berasal dari prinsipal kami.Tidak hanya itu, Mandira juga menerima pengiriman ke semua wilayah Indonesia. Hubungi kami sekarang untuk informasi tentang pemesanan dan penawaran paling menguntungkan! Ketahui juga berbagai tips kesehatan terkini yang ada di blog kami.

Mengenal Stock Opname Obat Bagian Penting Manajemen Farmasi

Stock opname obat adalah kewajiban dalam industri farmasi, terutama dalam bisnis apotek. Ini demi memastikan operasional bisnis berjalan efisien meskipun terdapat ribuan SKU (Stock Keeping Unit) yang dijual di apotek. 

Stock opname obat juga penting Anda lakukan secara berkala agar kualitas obat terkelola dengan baik. Selain itu, stock opname membantu apotek agar selalu mampu memenuhi permintaan pelanggan. Anda juga bisa membaca tentang Defecta Adalah Rahasia di Balik Ketersediaan Obat di Apotek, Berikut Penjelasannya!.

Lebih jelas, ikuti informasi mengenai definisi, tujuan, manfaat, hingga cara melakukan stock opname untuk mengenalnya lebih dekat!

Apa itu Stock Opname Obat?

Stock opname obat adalah proses menghitung dan mencocokkan jumlah fisik obat di apotek dengan data pada kartu stok. Kegiatan ini penting untuk mencegah kerugian akibat pencatatan yang tidak akurat. 

Waktu ideal untuk melakukannya adalah saat penjualan sedang sepi (low season), namun bisa juga dilakukan berkala setiap kuartal, semester, tahunan atau tengah melakukan campaign marketing. Selain itu, stock opname juga berguna saat penjualan meningkat (high season) agar stok tetap akurat dan pelayanan pelanggan tidak terganggu.

Tujuan Melakukan Stock Opname Obat?

Apa sebenarnya tujuan dari stok opname obat di apotek? Berikut tiga tujuan utamanya yang perlu Anda ketahui:

1. Memastikan Data Stok Produk Akurat

Pada dasarnya, stock opname menjadi cara mencocokkan catatan data pada sistem dengan fisik produknya. Jika Anda melakukan stock opname secara rutin dan teliti, maka data stok produk di apotek terjamin lebih akurat. 

2. Mengidentifikasi Selisih Produk

Banyak faktor yang dapat memicu terjadinya selisih antara data pada sistem dan stok fisik produk. Stock opname obat adalah metode identifikasi dan analisis selisih produk yang tepat untuk bisnis apotek. Jadi, hasilnya diketahui lebih dini dan apotek bisa menyamakan stok fisik dan stok di sistem.

3. Menyesuaikan Stok Produk

Seperti telah disebutkan sebelumnya, stock opname menjadi metode yang dapat Anda terapkan ketika selisih terjadi. Stok produk akan lebih sesuai dengan pencatatan kesalahan melalui stock opname. 

Lalu, lakukan koreksi pada buku persediaan. Jadi, produk yang hilang bisa Anda sesuaikan kembali.

Jenis Stock Opname Obat

Dalam pengelolaan apotek atau gudang farmasi, stock opname obat dilakukan untuk memastikan jumlah obat fisik sesuai dengan catatan sistem. Kegiatan ini membantu mencegah selisih stok, mendeteksi obat kedaluwarsa, dan menjaga kelancaran operasional. 

Berdasarkan waktu pelaksanaannya, stock opname dibagi menjadi tiga jenis: harian, bulanan, dan tahunan.

1. Stock Opname Harian

Dilakukan setiap hari, biasanya untuk obat dengan perputaran tinggi atau pengawasan ketat seperti narkotika dan psikotropika. Tujuannya untuk memastikan stok selalu akurat dan mendeteksi kesalahan input atau kehilangan sejak dini.

2. Stock Opname Bulanan

Dilakukan di akhir bulan untuk mencocokkan stok fisik dan data sistem. Pemeriksaan ini juga membantu menilai obat yang hampir kedaluwarsa atau jarang digunakan, serta menjadi dasar perencanaan pembelian bulan berikutnya.

3. Stock Opname Tahunan

Dilaksanakan sekali setahun, biasanya di akhir periode laporan keuangan. Pemeriksaan ini bersifat menyeluruh dan digunakan untuk memperbarui data persediaan, menilai nilai aset, serta mengevaluasi efektivitas pengelolaan stok selama setahun.

Manfaat Apotek Melakukan Stock Opname Obat?

Merutinkan stock opname obat adalah cara mudah merasakan berbagai manfaat dalam bisnis apotek, seperti:

  • Memastikan kualitas stok produk, terutama tanggal kadaluarsa produknya;
  • Mengetahui arus keluar dan masuk produk;
  • Memastikan penghitungan arus kas akurat agar menjadi tolak ukur keuntungan bisnis apotek;
  • Memudahkan penanganan saat ada produk yang hilang;
  • Meminimalkan risiko kecurangan oleh pegawai;
  • Mengoptimalkan pelayanan kepada pelanggan;
  • Menganalisis dan mengambil keputusan lebih efektif untuk pertumbuhan bisnis.

Cara Melakukan Stock Opname Obat di Apotek

Untuk melakukan stock opname secara efektif, terdapat tiga tahapan yang bisa Anda ikuti. Berikut adalah poin dan penjelasannya:

1. Melakukan Persiapan

Pastikan Anda telah memberitahu pegawai apotek beberapa hari sebelumnya bahwa akan ada stock opname minggu depan. Ini membantu pegawai mengatur produk serta mengelompokkannya dalam kategori sesuai ketentuan. 

Pisahkan kategori produk dengan stiker agar lebih praktis. Lalu, bagilah tugas dengan sistem per kategori per pegawai. Jadi, prosesnya lebih hemat waktu.

Adapun contoh kategori produk berdasarkan jenis obat contohnya obat paten, obat generik, hingga obat keras. 

2. Menjalankan Stock Opname 

Stock opname obat adalah tahap berikutnya. Berikut merupakan keempat tahapannya yang perlu diikuti:

  • Memastikan seluruh transaksi stok produk telah terinput ke sistem;
  • Mencetak seluruh stok produk per kategori dalam sistem untuk  panduan penyesuaian dengan stok fisik produk di apotek;
  • Menandai stok produk yang telah sesuai agar tidak terhitung dua kali;
  • Memasukkan lembar hasil pemeriksaan stok ke sistem untuk mengidentifikasi selisih produk.

3. Melakukan Verifikasi dan Evaluasi 

Setelah itu, masuk tahap verifikasi dan evaluasi. Berikut adalah poin-poin yang bisa Anda ikuti:

  • Verifikasi selisih stok produk untuk mengetahui penyebabnya (contoh: salah hitung atau kecurangan pegawai);
  • Serahkan hasil dari stock opname ke Pemilik Sarana Apotek (PSA). Lalu, PSA akan mencocokkan laporan keuangan dan adjustment agar terjamin akurat;
  • Amankan laporan untuk materi evaluasi di stock opname berikutnya.

Anda juga dapat memahami informasi tentang Buffer Stock Obat Adalah? Berikut Pengertian dan Fungsinya untuk mengembangkan bisnis apotek. 

Penuhi Kebutuhan Apotek Anda bersama Distributor Obat Mandira Distra Abadi

Kini, Anda paham bahwa stock opname obat adalah keharusan agar bisnis apotek mampu melayani pelanggan dengan prima. Selain itu, Anda bisa mengandalkan Mandira Distra Abadi sebagai Pedagang Besar Farmasi (PBF) yang bermitra dengan produsen obat ternama. 

Selama 31 tahun, Distributor Obat Mandira Distra Abadi telah dipercaya sebagai solusi atas kebutuhan obat untuk bisnis apotek, rumah sakit, serta pedagang besar farmasi. Kunjungi Halaman Prinsipal untuk daftar obat berkualitas dari prinsipal kami. 

Kami bisa mengirim obat menuju seluruh Indonesia. Jadi, hubungi kami untuk pemesanan dan penawaran terbaik! Jangan lewatkan blog kami untuk mendapatkan Tips Kesehatan berkualitas. 

Teknik Penjualan Obat: Cross Selling, Down Selling & Up Selling

Up selling, down selling, dan cross selling adalah teknik meningkatkan penjualan obat pada apotek. Penerapan berbagai teknik tersebut akan memudahkan dan mempercepat apotek mencapai target penjualan. Begitu pula dengan keuntungannya yang otomatis meningkat.

Lantas, bagaimana cara menerapkan strategi cross selling hingga up selling yang tepat? Berbagai informasi berikut akan menjawabnya untuk Anda. Selain itu, Anda juga mengetahui mengenai Cara Mengembangkan Strategi Pemasaran Apotek.

Apa itu Strategi Cross Selling

Cross selling adalah strategi atau teknik persuasif kepada pelanggan agar mereka membeli produk tambahan selain produk utama yang dibeli. Melakukan cross selling dapat melalui saran atau bujukan untuk melengkapi produk utama yang pelanggan beli. 

Melalui cross selling, apotek dapat melariskan promo, meningkatkan penjualan dan juga kepercayaan pelanggan. 

Apa Itu Down Selling

Down selling merupakan teknik menjual produk serupa namun dengan harga, spesifikasi, atau nilai lebih rendah dibandingkan produk yang sebelumnya pelanggan cari. Anda bisa menawarkan produk berharga lebih murah atau berukuran lebih mini. 

Apa itu Up Selling

Up selling adalah kebalikan dari down selling. Pada teknik ini, Anda membujuk pelanggan untuk membeli produk yang serupa namun berharga, berspesifikasi, atau bernilai lebih tinggi. Up selling dilakukan demi menambah penjualan pada produk sejenis.

Mempraktikkan up selling dapat Anda lakukan dalam bentuk penawaran produk dengan harga lebih mahal. Selain itu, produk serupa yang berukuran lebih besar hingga produk yang memiliki keunggulan lebih banyak.

Bagaimana Penerapan Strategi Cross Selling, Down Selling & Up Selling dalam Penjualan Obat di Apotek

Demi mencapai target penjualan, maka down selling, up selling, serta cross selling adalah opsi strategi pemasaran yang wajib dicoba. Berikut berbagai contoh dari penerapan down selling hingga cross selling yang dapat Anda lakukan:

1. Penerapan Cross Selling

Menawarkan produk dengan teknik cross selling harus menyesuaikan kebutuhan pelanggan. Peluang teknik berhasil pun lebih besar sebab produk yang ditawarkan adalah solusi bagi masalah pelanggan. Jadi, Anda bisa meningkatkan kepuasan pelanggan sekaligus menumbuhkan keuntungan. 

Berikut contoh penerapan teknik cross selling:

Pak Budi ingin membeli krim pereda nyeri pada otot karena tangannya pegal akibat bermain voli. Anda dapat menawarkan produk lain mulai dari koyo, minyak urut, hingga vitamin khusus persendian. Total transaksi yang semula hanya Rp40 ribu pun berpeluang bertambah menjadi Rp. 80.000. 

2. Penerapan Down Selling

Jika cross selling adalah teknik menambah keuntungan, maka down selling berupaya agar pelanggan tetap membeli walaupun margin produknya kecil. Apotek juga sering mendapat diskon dari distributor obat, jadi keuntungan pun tetap tercapai.

Contoh penerapan down selling yaitu:

Ibu Budi ingin membeli obat paten X dengan margin Rp3 ribu, namun anggarannya kurang mencukupi. Anda bisa tawarkan obat generik Y dengan margin Rp1 ribu yang mendapatkan diskon Rp. 3.000. Ini membuat apotek tetap bisa untung sebanyak Rp. 4.000 walaupun down selling.

3. Penerapan Up Selling

Up selling memanfaatkan urgensi pelanggan dengan menawarkan produk yang lebih mahal dan terjamin kualitasnya. Sebagai contoh, Budi yang tidak enak badan ingin membeli vitamin untuk menjaga stamina agar tidak semakin drop. 

Anda dapat menawarkan produk vitamin rekomendasi dokter yang berlisensi dengan margin lebih tinggi. Pelanggan seringkali tidak keberatan asalkan produk efektif memenuhi kebutuhannya. 

Kini, Anda paham bahwa up selling, down selling, dan cross selling adalah teknik penjualan yang krusial demi memajukan apotek. Selain itu, Anda juga dapat mengikuti 5 Cara Meningkatkan Omset Apotek yang Dapat Dilakukan

Selain melakukan Cross Selling, Down Selling & Up Selling dengan baik, pastikan juga Anda memilih distributor obat yang tepat bagi apotek Anda. Mulai kerja sama dengan distributor obat Mandira Distra Abadi untuk memenuhi kebutuhan pengadaan obat di apotek, klinik atau rumah sakit Anda.

Penuhi Kebutuhan Apotek Anda Bersama Distributor Obat Mandira Distra Abadi

Distributor obat Mandira Distra Abadi telah dipercaya selama 31 tahun untuk memenuhi kebutuhan obat apotek, pedagang besar farmasi, hingga rumah sakit. 

Mandira Distra Abadi merupakan Pedagang Besar Farmasi (PBF) yang bekerja sama dengan perusahaan produsen obat kenamaan, kunjungi laman prinsipal untuk melihat ragam obat dari prinsipal kami. Kami menerima pengiriman ke seluruh Indonesia.

Hubungi kami untuk informasi selengkapnya terkait obat yang tersedia dan dapatkan penawaran terbaik. Anda juga dapat mempelajari beragam informasi terkini seputar kesehatan dan tips operasional apotek melalui laman blog kami.

Pahami HNA Atau Harga Netto Apotek Dalam Penetapan Harga Obat

Harga Netto Apotek atau HNA adalah salah satu unsur dalam menentukan harga jual obat-obatan di apotek. Bersama dengan HJA (Harga Jual Apotek) hingga PPN (Pajak Pertambahan Nilai), HNA dapat digunakan dalam proses perhitungan agar harganya lebih ideal. 

Untuk memahami harga netto apotek lebih jelas, mari simak artikel ini hingga akhir! Namun, untuk Anda yang baru akan memulai bisnis apotek sebaiknya mengikuti Tips Mengelola Manajemen Apotek dengan Baik ini. 

Apa itu HNA Atau Harga Netto Apotek

HNA adalah harga beli atau bisa disebut sebagai harga modal obat yang bersih. Apotek mendapatkan HNA sebagai harga awal ketika membeli obat-obatan dari distributor seperti PBF (Pedagang Besar Farmasi). Selain itu, apotek juga bisa mendapatkan HNA dari pabrik obat secara langsung. 

Harga netto apotek bisa lebih rendah apabila apotek mendapatkan diskon atau potongan harga dari distributor. Tidak hanya dari diskon, harga netto apotek yang lebih rendah pun bisa Anda dapatkan dengan menemukan distributor yang menjual obat pada harga pokok lebih terjangkau. 

Terutama jika apotek memesan kuantitas obat yang lebih banyak, sehingga potongan harga yang diberikan pun bisa lebih besar. Besaran diskon yang akan apotek dapatkan berkisar dari 2 persen hingga 5 persen. 

Perhitungan HNA

Menghitung HNA adalah keharusan saat Anda ingin menetapkan harga jual obat di apotek. Rumus yang bisa Anda gunakan ketika menghitung HNA yaitu:

Harga Beli Obat : Jumlah Obat per Kemasan 

Sebagai contoh, Apotek Alfagama membeli produk berupa obat ‘influenza’ jenis tablet dari distributor. Harga obatnya Rp. 90.000 per boks dengan isi 100 tablet pada masing-masing boks. Maka, harga netto apotek obat tersebut adalah:

HNA = Harga Beli Obat : Jumlah Obat per Kemasan

= Rp90 ribu : 100

= Rp900

Jadi, harga netto obat per tablet adalah Rp900. Apabila Anda mendapatkan diskon dari distributor obat sebanyak 4 persen untuk setiap boks, maka harga netto adalah Rp864 per tablet.

Peran HNA dalam Penetapan Harga Obat

HNA berperan penting dalam menentukan harga obat saat dijual tanpa resep atau bersama dengan resep. HNA adalah unsur penentu agar harga ideal dan tidak terlalu tinggi atau terlalu rendah. Berikut penjelasannya:

1. Menetapkan Harga Obat yang Dijual Tanpa Resep

Obat yang dijual tanpa resep terdiri dari obat bebas yang terbatas, obat bebas, lalu OWA (Obat Wajib Apotek), obat tradisional, kosmetika, hingga alat kesehatan. Nominal harga obat yang dijual tanpa resep akan dihitung dengan rumus berikut:

HJA = [(HNA + PPN) x Indeks] + E

Kecuali HNA, berikut keterangan dari masing-masing istilah tersebut:

  • HJA (Harga Jual Apotek): Harga yang apotek berikan pada pasien;
  • PPN (Pajak Pertambahan Nilai): Bernilai 11 persen;
  • Indeks: Tingkat mark-up harga apotek yang umumnya hingga 1,2;
  • E: Harga embalase yang tidak mencakup obat (contoh: harga plastik pengemas obat).

2. Menetapkan Harga Obat yang Dijual dengan Resep

Obat dalam kategori ini meliputi obat-obatan keras seperti narkotika dan psikotropika, serta prekursor farmasi non-racikan maupun racikan. Mark-up obat dengan resep umumnya lebih tinggi. Berikut rumus untuk menetapkan harganya:

HJA = [(HNA + PPN) x Indeks] + E + S

Rumus tersebut sama dengan penetapan harga obat tanpa resep. Perbedaannya pada mark-up yang mencapai 1,3 serta penambahan biaya servis (S).

HNA adalah istilah yang perlu Anda pahami agar dapat menentukan harga jual obat yang ideal. Setelah menentukan harga jual obat yang tepat, bisnis apotek juga perlu strategi pemasaran yang baik untuk memaksimalkan penjualan obat. Berikut 5 Cara Meningkatkan Omset Apotek yang Dapat Dilakukan.

Dapatkan obat berkualitas dengan HNA ideal hanya di Mandira! Sebagai Pedagang Besar Farmasi, Mandira mengirim obat dalam skala besar menuju seluruh pelosok negeri. 

Faktor yang Mempengaruhi Penetapan HNA

  1. Biaya Distribusi: Termasuk transportasi dan penyimpanan dari produsen ke apotek.
  2. Pajak dan Bea Cukai: Pajak yang dikenakan pada obat tertentu, termasuk obat impor.
  3. Margin Keuntungan: Penyesuaian yang dilakukan oleh distributor dan apotek untuk mencapai laba yang wajar【73】【75】.

HNA dalam Kebijakan Harga Eceran Tertinggi (HET)

HNA digunakan sebagai komponen utama dalam menentukan Harga Eceran Tertinggi (HET) untuk obat-obatan tertentu. Kebijakan ini bertujuan untuk menjaga keterjangkauan obat bagi masyarakat sambil tetap memberikan keuntungan yang layak bagi distributor dan apotek.

Penuhi Kebutuhan Apotek Anda Bersama Distributor Obat Mandira Distra Abadi

Distributor obat Mandira Distra Abadi telah dipercaya selama 31 tahun untuk memenuhi kebutuhan obat apotek, pedagang besar farmasi, hingga rumah sakit. 

Mandira Distra Abadi merupakan Pedagang Besar Farmasi (PBF) yang bekerja sama dengan perusahaan produsen obat kenamaan, kunjungi laman prinsipal untuk melihat ragam obat dari prinsipal kami. Kami menerima pengiriman ke seluruh Indonesia.

Hubungi kami untuk informasi selengkapnya terkait obat yang tersedia dan dapatkan penawaran terbaik. Anda juga dapat mempelajari beragam informasi terkini seputar kesehatan dan tips operasional apotek melalui laman blog kami.

Bagaimana Seorang Apoteker Melakukan Pemantauan Terapi Obat?

Pemantauan Terapi Obat (PTO) merupakan proses mengoptimalkan efikasi serta mengurangi efek samping dari obat. Proses tersebut dilakukan demi memastikan terapi obat pada pasien berjalan secara efektif serta terjangkau.

Faktor keberhasilan PTO salah satunya bergantung pada apoteker. Peran seorang apoteker sangat penting agar obat untuk pasien tidak bermasalah. Untuk Anda yang masih bingung mengenai peran seorang apoteker, dapat Mengenal Apa Saja Tugas Apoteker di Apotek

Lalu, apa saja tahapan yang perlu dilalui oleh apoteker dalam melaksanakan PTO? Berikut informasi lengkapnya!

Fungsi dari Pemantauan Terapi Obat

Seorang pasien bisa berisiko menghadapi masalah pada obat yang ia konsumsi. Maka dari itu, proses terapi obat pasien tersebut perlu dipantau. PTO akan melihat indikasi obat pada pasien sehingga efektivitas pengobatan meningkat dan risikonya bisa diminimalkan.

Kriteria Pasien yang Dapat Penerima PTO

Untuk menerima PTO, pasien harus masuk dalam berbagai kriteria menurut jenis obat yang sedang dikonsumsi berikut ini:

  • Obat bersifat hepatotoksik (contoh: antibiotik dan NSAID);
  • Obat bersifat nefrotoksik (contoh: aminoglikosida);
  • Obat berindeks terapi sempit, seperti fenitoin dan digoksin;
  • Antikoagulan, contohnya heparin dan warfarin;
  • Sitostatika, misalnya metotreksat;
  • Obat kardiovaskular, contohnya nitrogliserin;
  • Obat yang kerap menyebabkan ROTD, misalnya metoklopramid.

Adapun syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh pasien meliputi:

  • Anak-anak, ibu hamil dan menyusui, serta lansia;
  • Memiliki multi diagnosis;
  • Menerima di atas lima jenis obat;
  • Merupakan pasien pediatri serta geriatri;
  • Merupakan pasien gangguan hati atau fungsi ginjal;
  • Menerima reaksi obat secara merugikan;
  • Menerima perawatan intensif.

Tahapan Pelaksanaan PTO

Apabila telah mendapatkan pasien sesuai kriterianya, maka pemantauan terapi pada obat dilaksanakan mengikuti tahapan di bawah ini:

1. Mengumpulkan Data Pasien

Data pasien bisa diperoleh dari rekam medisnya atau dengan mewawancarai pasien. Bisa juga wawancara dengan keluarga pasien atau tenaga medis yang pernah melayani pasien. Setelah data terkumpul, maka harus dikaji agar dapat melanjutkan proses PTO.

2. Melakukan Identifikasi Masalah Terkait Obat

Terdapat beberapa masalah yang dapat diidentifikasi, seperti:

  • Memberi obat tanpa indikasi, artinya pasien mengkonsumsi obat yang tidak dibutuhkan;
  • Muncul indikasi, namun tidak terapi;
  • Obat memiliki dosis terlalu rendah atau tinggi;
  • Pasien menerima obat yang kurang tepat dan bukan yang terbaik bagi kondisinya;
  • Muncul reaksi obat yang berisiko.

2. Memberi Rekomendasi Terapi Obat

Apoteker bisa merekomendasikan pemantauan terapi obat menyesuaikan tujuan di bawah ini:

  • Menyembuhkan penyakit;
  • Menahan progres penyakit;
  • Meminimalkan gejala klinis;
  • Mencegah kondisi berisiko dan berbahaya.

3. Membuat Rencana Pemantauan

Berikut langkah-langkah perencanaan pemantauan:

  • Menetapkan parameter farmakoterapi. Sesuaikan dengan efikasi terapi, karakteristik obat, efek samping, dan perubahan fisiologis pada pasien; 
  • Menentukan frekuensi pemantauan. Sesuaikan pada risiko terapi serta keparahan penyakitnya;
  • Membuat sasaran terapi. Pertimbangkan standar normal seperti usia, karakter obat, penyakit lain, dan efikasi.

4. Tindak Lanjut Akhir

Hasil identifikasi permasalahan obat hingga rekomendasi terapi wajib diteruskan ke tenaga medis lainnya yang menangani pasien. Ini demi memaksimalkan tujuan terapinya. Lalu, dapatkan informasi pasien yang komprehensif dari dokter agar penetapan target terapi lebih optimal.

Pastikan pasien mendapatkan Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) secara tepat dengan:

  • Tidak menyampaikan informasi ambigu yang membuat pasien ragu menggunakan obat;
  • Menyampaikan informasi yang sama dan tidak bertentangan dengan tenaga medis lain;
  • Memaksimalkan kepatuhan pasien ketika menggunakan obat. 

5. Dokumentasi

Dokumentasikan juga pelaksanaan PTO menggunakan formulir yang mencakup informasi penting. Mulai dari catatan pengobatan, detail obat (nama, dosis, cara konsumsi), identifikasi masalah, serta rekomendasinya.

Begitulah cara melakukan pemantauan terapi obat yang bisa apoteker terapkan. Anda juga bisa mendapatkan konseling apoteker untuk menghindari penyalahgunaan obat, lebih lanjutnya dapat Anda simak disini Seputar Konseling Apoteker yang Perlu Anda Ketahui

Selain melakukan Pemantauan Terapi Obat (PTO) dengan baik, pastikan juga Anda memilih distributor obat yang tepat bagi apotek Anda. Mulai kerja sama dengan distributor obat Mandira Distra Abadi untuk memenuhi kebutuhan pengadaan obat di apotek, klinik atau rumah sakit Anda.

Mandira Distra Distributor Obat untuk Pengadaan Apotek dan Rumah Sakit

Distributor obat Mandira Distra Abadi telah dipercaya selama 31 tahun untuk memenuhi kebutuhan obat apotek, pedagang besar farmasi, hingga rumah sakit. 

Mandira Distra Abadi merupakan Pedagang Besar Farmasi (PBF) yang bekerja sama dengan perusahaan produsen obat kenamaan, kunjungi laman prinsipal untuk melihat ragam obat dari prinsipal kami. Kami menerima pengiriman ke seluruh Indonesia.

Hubungi kami untuk informasi selengkapnya terkait obat yang tersedia dan dapatkan penawaran terbaik. Anda juga dapat mempelajari beragam informasi terkini seputar kesehatan dan tips operasional apotek melalui laman blog kami.