...

Teknik Penjualan Obat: Cross Selling, Down Selling & Up Selling

Up selling, down selling, dan cross selling adalah teknik meningkatkan penjualan obat pada apotek. Penerapan berbagai teknik tersebut akan memudahkan dan mempercepat apotek mencapai target penjualan. Begitu pula dengan keuntungannya yang otomatis meningkat.

Lantas, bagaimana cara menerapkan strategi cross selling hingga up selling yang tepat? Berbagai informasi berikut akan menjawabnya untuk Anda. Selain itu, Anda juga mengetahui mengenai Cara Mengembangkan Strategi Pemasaran Apotek.

Apa itu Strategi Cross Selling

Cross selling adalah strategi atau teknik persuasif kepada pelanggan agar mereka membeli produk tambahan selain produk utama yang dibeli. Melakukan cross selling dapat melalui saran atau bujukan untuk melengkapi produk utama yang pelanggan beli. 

Melalui cross selling, apotek dapat melariskan promo, meningkatkan penjualan dan juga kepercayaan pelanggan. 

Apa Itu Down Selling

Down selling merupakan teknik menjual produk serupa namun dengan harga, spesifikasi, atau nilai lebih rendah dibandingkan produk yang sebelumnya pelanggan cari. Anda bisa menawarkan produk berharga lebih murah atau berukuran lebih mini. 

Apa itu Up Selling

Up selling adalah kebalikan dari down selling. Pada teknik ini, Anda membujuk pelanggan untuk membeli produk yang serupa namun berharga, berspesifikasi, atau bernilai lebih tinggi. Up selling dilakukan demi menambah penjualan pada produk sejenis.

Mempraktikkan up selling dapat Anda lakukan dalam bentuk penawaran produk dengan harga lebih mahal. Selain itu, produk serupa yang berukuran lebih besar hingga produk yang memiliki keunggulan lebih banyak.

Bagaimana Penerapan Strategi Cross Selling, Down Selling & Up Selling dalam Penjualan Obat di Apotek

Demi mencapai target penjualan, maka down selling, up selling, serta cross selling adalah opsi strategi pemasaran yang wajib dicoba. Berikut berbagai contoh dari penerapan down selling hingga cross selling yang dapat Anda lakukan:

1. Penerapan Cross Selling

Menawarkan produk dengan teknik cross selling harus menyesuaikan kebutuhan pelanggan. Peluang teknik berhasil pun lebih besar sebab produk yang ditawarkan adalah solusi bagi masalah pelanggan. Jadi, Anda bisa meningkatkan kepuasan pelanggan sekaligus menumbuhkan keuntungan. 

Berikut contoh penerapan teknik cross selling:

Pak Budi ingin membeli krim pereda nyeri pada otot karena tangannya pegal akibat bermain voli. Anda dapat menawarkan produk lain mulai dari koyo, minyak urut, hingga vitamin khusus persendian. Total transaksi yang semula hanya Rp40 ribu pun berpeluang bertambah menjadi Rp. 80.000. 

2. Penerapan Down Selling

Jika cross selling adalah teknik menambah keuntungan, maka down selling berupaya agar pelanggan tetap membeli walaupun margin produknya kecil. Apotek juga sering mendapat diskon dari distributor obat, jadi keuntungan pun tetap tercapai.

Contoh penerapan down selling yaitu:

Ibu Budi ingin membeli obat paten X dengan margin Rp3 ribu, namun anggarannya kurang mencukupi. Anda bisa tawarkan obat generik Y dengan margin Rp1 ribu yang mendapatkan diskon Rp. 3.000. Ini membuat apotek tetap bisa untung sebanyak Rp. 4.000 walaupun down selling.

3. Penerapan Up Selling

Up selling memanfaatkan urgensi pelanggan dengan menawarkan produk yang lebih mahal dan terjamin kualitasnya. Sebagai contoh, Budi yang tidak enak badan ingin membeli vitamin untuk menjaga stamina agar tidak semakin drop. 

Anda dapat menawarkan produk vitamin rekomendasi dokter yang berlisensi dengan margin lebih tinggi. Pelanggan seringkali tidak keberatan asalkan produk efektif memenuhi kebutuhannya. 

Kini, Anda paham bahwa up selling, down selling, dan cross selling adalah teknik penjualan yang krusial demi memajukan apotek. Selain itu, Anda juga dapat mengikuti 5 Cara Meningkatkan Omset Apotek yang Dapat Dilakukan

Selain melakukan Cross Selling, Down Selling & Up Selling dengan baik, pastikan juga Anda memilih distributor obat yang tepat bagi apotek Anda. Mulai kerja sama dengan distributor obat Mandira Distra Abadi untuk memenuhi kebutuhan pengadaan obat di apotek, klinik atau rumah sakit Anda.

Penuhi Kebutuhan Apotek Anda Bersama Distributor Obat Mandira Distra Abadi

Distributor obat Mandira Distra Abadi telah dipercaya selama 31 tahun untuk memenuhi kebutuhan obat apotek, pedagang besar farmasi, hingga rumah sakit. 

Mandira Distra Abadi merupakan Pedagang Besar Farmasi (PBF) yang bekerja sama dengan perusahaan produsen obat kenamaan, kunjungi laman prinsipal untuk melihat ragam obat dari prinsipal kami. Kami menerima pengiriman ke seluruh Indonesia.

Hubungi kami untuk informasi selengkapnya terkait obat yang tersedia dan dapatkan penawaran terbaik. Anda juga dapat mempelajari beragam informasi terkini seputar kesehatan dan tips operasional apotek melalui laman blog kami.

Pahami HNA Atau Harga Netto Apotek Dalam Penetapan Harga Obat

Harga Netto Apotek atau HNA adalah salah satu unsur dalam menentukan harga jual obat-obatan di apotek. Bersama dengan HJA (Harga Jual Apotek) hingga PPN (Pajak Pertambahan Nilai), HNA dapat digunakan dalam proses perhitungan agar harganya lebih ideal. 

Untuk memahami harga netto apotek lebih jelas, mari simak artikel ini hingga akhir! Namun, untuk Anda yang baru akan memulai bisnis apotek sebaiknya mengikuti Tips Mengelola Manajemen Apotek dengan Baik ini. 

Apa itu HNA Atau Harga Netto Apotek

HNA adalah harga beli atau bisa disebut sebagai harga modal obat yang bersih. Apotek mendapatkan HNA sebagai harga awal ketika membeli obat-obatan dari distributor seperti PBF (Pedagang Besar Farmasi). Selain itu, apotek juga bisa mendapatkan HNA dari pabrik obat secara langsung. 

Harga netto apotek bisa lebih rendah apabila apotek mendapatkan diskon atau potongan harga dari distributor. Tidak hanya dari diskon, harga netto apotek yang lebih rendah pun bisa Anda dapatkan dengan menemukan distributor yang menjual obat pada harga pokok lebih terjangkau. 

Terutama jika apotek memesan kuantitas obat yang lebih banyak, sehingga potongan harga yang diberikan pun bisa lebih besar. Besaran diskon yang akan apotek dapatkan berkisar dari 2 persen hingga 5 persen. 

Perhitungan HNA

Menghitung HNA adalah keharusan saat Anda ingin menetapkan harga jual obat di apotek. Rumus yang bisa Anda gunakan ketika menghitung HNA yaitu:

Harga Beli Obat : Jumlah Obat per Kemasan 

Sebagai contoh, Apotek Alfagama membeli produk berupa obat ‘influenza’ jenis tablet dari distributor. Harga obatnya Rp. 90.000 per boks dengan isi 100 tablet pada masing-masing boks. Maka, harga netto apotek obat tersebut adalah:

HNA = Harga Beli Obat : Jumlah Obat per Kemasan

= Rp90 ribu : 100

= Rp900

Jadi, harga netto obat per tablet adalah Rp900. Apabila Anda mendapatkan diskon dari distributor obat sebanyak 4 persen untuk setiap boks, maka harga netto adalah Rp864 per tablet.

Peran HNA dalam Penetapan Harga Obat

HNA berperan penting dalam menentukan harga obat saat dijual tanpa resep atau bersama dengan resep. HNA adalah unsur penentu agar harga ideal dan tidak terlalu tinggi atau terlalu rendah. Berikut penjelasannya:

1. Menetapkan Harga Obat yang Dijual Tanpa Resep

Obat yang dijual tanpa resep terdiri dari obat bebas yang terbatas, obat bebas, lalu OWA (Obat Wajib Apotek), obat tradisional, kosmetika, hingga alat kesehatan. Nominal harga obat yang dijual tanpa resep akan dihitung dengan rumus berikut:

HJA = [(HNA + PPN) x Indeks] + E

Kecuali HNA, berikut keterangan dari masing-masing istilah tersebut:

  • HJA (Harga Jual Apotek): Harga yang apotek berikan pada pasien;
  • PPN (Pajak Pertambahan Nilai): Bernilai 11 persen;
  • Indeks: Tingkat mark-up harga apotek yang umumnya hingga 1,2;
  • E: Harga embalase yang tidak mencakup obat (contoh: harga plastik pengemas obat).

2. Menetapkan Harga Obat yang Dijual dengan Resep

Obat dalam kategori ini meliputi obat-obatan keras seperti narkotika dan psikotropika, serta prekursor farmasi non-racikan maupun racikan. Mark-up obat dengan resep umumnya lebih tinggi. Berikut rumus untuk menetapkan harganya:

HJA = [(HNA + PPN) x Indeks] + E + S

Rumus tersebut sama dengan penetapan harga obat tanpa resep. Perbedaannya pada mark-up yang mencapai 1,3 serta penambahan biaya servis (S).

HNA adalah istilah yang perlu Anda pahami agar dapat menentukan harga jual obat yang ideal. Setelah menentukan harga jual obat yang tepat, bisnis apotek juga perlu strategi pemasaran yang baik untuk memaksimalkan penjualan obat. Berikut 5 Cara Meningkatkan Omset Apotek yang Dapat Dilakukan.

Dapatkan obat berkualitas dengan HNA ideal hanya di Mandira! Sebagai Pedagang Besar Farmasi, Mandira mengirim obat dalam skala besar menuju seluruh pelosok negeri. 

Faktor yang Mempengaruhi Penetapan HNA

  1. Biaya Distribusi: Termasuk transportasi dan penyimpanan dari produsen ke apotek.
  2. Pajak dan Bea Cukai: Pajak yang dikenakan pada obat tertentu, termasuk obat impor.
  3. Margin Keuntungan: Penyesuaian yang dilakukan oleh distributor dan apotek untuk mencapai laba yang wajar【73】【75】.

HNA dalam Kebijakan Harga Eceran Tertinggi (HET)

HNA digunakan sebagai komponen utama dalam menentukan Harga Eceran Tertinggi (HET) untuk obat-obatan tertentu. Kebijakan ini bertujuan untuk menjaga keterjangkauan obat bagi masyarakat sambil tetap memberikan keuntungan yang layak bagi distributor dan apotek.

Penuhi Kebutuhan Apotek Anda Bersama Distributor Obat Mandira Distra Abadi

Distributor obat Mandira Distra Abadi telah dipercaya selama 31 tahun untuk memenuhi kebutuhan obat apotek, pedagang besar farmasi, hingga rumah sakit. 

Mandira Distra Abadi merupakan Pedagang Besar Farmasi (PBF) yang bekerja sama dengan perusahaan produsen obat kenamaan, kunjungi laman prinsipal untuk melihat ragam obat dari prinsipal kami. Kami menerima pengiriman ke seluruh Indonesia.

Hubungi kami untuk informasi selengkapnya terkait obat yang tersedia dan dapatkan penawaran terbaik. Anda juga dapat mempelajari beragam informasi terkini seputar kesehatan dan tips operasional apotek melalui laman blog kami.

Bagaimana Seorang Apoteker Melakukan Pemantauan Terapi Obat?

Pemantauan Terapi Obat (PTO) merupakan proses mengoptimalkan efikasi serta mengurangi efek samping dari obat. Proses tersebut dilakukan demi memastikan terapi obat pada pasien berjalan secara efektif serta terjangkau.

Faktor keberhasilan PTO salah satunya bergantung pada apoteker. Peran seorang apoteker sangat penting agar obat untuk pasien tidak bermasalah. Untuk Anda yang masih bingung mengenai peran seorang apoteker, dapat Mengenal Apa Saja Tugas Apoteker di Apotek

Lalu, apa saja tahapan yang perlu dilalui oleh apoteker dalam melaksanakan PTO? Berikut informasi lengkapnya!

Fungsi dari Pemantauan Terapi Obat

Seorang pasien bisa berisiko menghadapi masalah pada obat yang ia konsumsi. Maka dari itu, proses terapi obat pasien tersebut perlu dipantau. PTO akan melihat indikasi obat pada pasien sehingga efektivitas pengobatan meningkat dan risikonya bisa diminimalkan.

Kriteria Pasien yang Dapat Penerima PTO

Untuk menerima PTO, pasien harus masuk dalam berbagai kriteria menurut jenis obat yang sedang dikonsumsi berikut ini:

  • Obat bersifat hepatotoksik (contoh: antibiotik dan NSAID);
  • Obat bersifat nefrotoksik (contoh: aminoglikosida);
  • Obat berindeks terapi sempit, seperti fenitoin dan digoksin;
  • Antikoagulan, contohnya heparin dan warfarin;
  • Sitostatika, misalnya metotreksat;
  • Obat kardiovaskular, contohnya nitrogliserin;
  • Obat yang kerap menyebabkan ROTD, misalnya metoklopramid.

Adapun syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh pasien meliputi:

  • Anak-anak, ibu hamil dan menyusui, serta lansia;
  • Memiliki multi diagnosis;
  • Menerima di atas lima jenis obat;
  • Merupakan pasien pediatri serta geriatri;
  • Merupakan pasien gangguan hati atau fungsi ginjal;
  • Menerima reaksi obat secara merugikan;
  • Menerima perawatan intensif.

Tahapan Pelaksanaan PTO

Apabila telah mendapatkan pasien sesuai kriterianya, maka pemantauan terapi pada obat dilaksanakan mengikuti tahapan di bawah ini:

1. Mengumpulkan Data Pasien

Data pasien bisa diperoleh dari rekam medisnya atau dengan mewawancarai pasien. Bisa juga wawancara dengan keluarga pasien atau tenaga medis yang pernah melayani pasien. Setelah data terkumpul, maka harus dikaji agar dapat melanjutkan proses PTO.

2. Melakukan Identifikasi Masalah Terkait Obat

Terdapat beberapa masalah yang dapat diidentifikasi, seperti:

  • Memberi obat tanpa indikasi, artinya pasien mengkonsumsi obat yang tidak dibutuhkan;
  • Muncul indikasi, namun tidak terapi;
  • Obat memiliki dosis terlalu rendah atau tinggi;
  • Pasien menerima obat yang kurang tepat dan bukan yang terbaik bagi kondisinya;
  • Muncul reaksi obat yang berisiko.

2. Memberi Rekomendasi Terapi Obat

Apoteker bisa merekomendasikan pemantauan terapi obat menyesuaikan tujuan di bawah ini:

  • Menyembuhkan penyakit;
  • Menahan progres penyakit;
  • Meminimalkan gejala klinis;
  • Mencegah kondisi berisiko dan berbahaya.

3. Membuat Rencana Pemantauan

Berikut langkah-langkah perencanaan pemantauan:

  • Menetapkan parameter farmakoterapi. Sesuaikan dengan efikasi terapi, karakteristik obat, efek samping, dan perubahan fisiologis pada pasien; 
  • Menentukan frekuensi pemantauan. Sesuaikan pada risiko terapi serta keparahan penyakitnya;
  • Membuat sasaran terapi. Pertimbangkan standar normal seperti usia, karakter obat, penyakit lain, dan efikasi.

4. Tindak Lanjut Akhir

Hasil identifikasi permasalahan obat hingga rekomendasi terapi wajib diteruskan ke tenaga medis lainnya yang menangani pasien. Ini demi memaksimalkan tujuan terapinya. Lalu, dapatkan informasi pasien yang komprehensif dari dokter agar penetapan target terapi lebih optimal.

Pastikan pasien mendapatkan Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) secara tepat dengan:

  • Tidak menyampaikan informasi ambigu yang membuat pasien ragu menggunakan obat;
  • Menyampaikan informasi yang sama dan tidak bertentangan dengan tenaga medis lain;
  • Memaksimalkan kepatuhan pasien ketika menggunakan obat. 

5. Dokumentasi

Dokumentasikan juga pelaksanaan PTO menggunakan formulir yang mencakup informasi penting. Mulai dari catatan pengobatan, detail obat (nama, dosis, cara konsumsi), identifikasi masalah, serta rekomendasinya.

Begitulah cara melakukan pemantauan terapi obat yang bisa apoteker terapkan. Anda juga bisa mendapatkan konseling apoteker untuk menghindari penyalahgunaan obat, lebih lanjutnya dapat Anda simak disini Seputar Konseling Apoteker yang Perlu Anda Ketahui

Selain melakukan Pemantauan Terapi Obat (PTO) dengan baik, pastikan juga Anda memilih distributor obat yang tepat bagi apotek Anda. Mulai kerja sama dengan distributor obat Mandira Distra Abadi untuk memenuhi kebutuhan pengadaan obat di apotek, klinik atau rumah sakit Anda.

Mandira Distra Distributor Obat untuk Pengadaan Apotek dan Rumah Sakit

Distributor obat Mandira Distra Abadi telah dipercaya selama 31 tahun untuk memenuhi kebutuhan obat apotek, pedagang besar farmasi, hingga rumah sakit. 

Mandira Distra Abadi merupakan Pedagang Besar Farmasi (PBF) yang bekerja sama dengan perusahaan produsen obat kenamaan, kunjungi laman prinsipal untuk melihat ragam obat dari prinsipal kami. Kami menerima pengiriman ke seluruh Indonesia.

Hubungi kami untuk informasi selengkapnya terkait obat yang tersedia dan dapatkan penawaran terbaik. Anda juga dapat mempelajari beragam informasi terkini seputar kesehatan dan tips operasional apotek melalui laman blog kami.

Memahami Metode Morbiditas: Perhitungan Kebutuhan Obat yang Tepat

Metode morbiditas adalah salah satu perencanaan pengadaan obat sesuai dalam ketentuan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 34 Tahun 2021. Melalui penerapan metode morbiditas, pengadaan obat diharapkan efektif karena sesuai kebutuhan. Jadi, tidak kelebihan atau kekurangan stok obat.

Selain itu, metode morbiditas juga membantu efisiensi penggunaan anggaran karena obat-obatan lebih akurat jumlah, jenis, waktu, serta kualitasnya. Jadi, mari simak cara menghitung kebutuhan obat dengan metode morbiditas yang penting melalui pembahasan di bawah ini! 

Sebelum memulai pembahasan mengenai metode morbiditas, alangkah baiknya Anda juga mengenal Jenis Surat Pesanan Obat untuk Pengadaan Obat dan Cara Membuatnya.

Apa itu Metode Morbiditas?

Metode morbiditas adalah cara menghitung kebutuhan obat menyesuaikan pola penyakitnya. Pada metode morbiditas, faktor yang menjadi panduan dalam perkiraan kebutuhan obat tertentu mulai dari peristiwa penyakit umum, jumlah obat, serta pola standar untuk mengobati penyakit tersebut. 

Penerapan metode morbiditas umumnya dilaksanakan oleh program dengan kenaikan skala atau scaling up. Sebagai pembanding dari metode perencanaan pengadaan obat lainnya, tingkat kesulitan metode ini paling tinggi. 

Hal tersebut mengingat proses perhitungannya yang memakan waktu. Terutama saat harus mengumpulkan data morbiditas untuk suatu rangkaian penyakit yang perlu terjamin validitasnya.

Langkah-langkah Dalam Metode Morbiditas

Anda telah memahami bahwa metode morbiditas adalah cara penghitungan kebutuhan obat berdasarkan pola penyakit. Selanjutnya, Anda perlu mengetahui langkah-langkah melakukan metode morbiditas yang terdiri dari:

1. Mengumpulkan Data Komposisi Demografi dari Kelompok Populasi

Anda harus menyiapkan data berupa estimasi jumlah populasi yang diklasifikasikan menurut jenis kelamin serta kelompok umurnya. Kelompok umur tersebut dimulai dari:

  • 0–4 tahun;
  • 4–14 tahun;
  • 15–44 tahun;
  • > 45 tahun.

Selain itu, kelompok umur juga bisa Anda tetapkan menurut kategori:

  • Dewasa, yaitu di atas 12 tahun;
  • Anak, yaitu umur 1 hingga 12 tahun.

Tidak hanya itu, Anda pun perlu mengumpulkan data mengenai pola morbiditas penyakitnya. Pola morbiditas meliputi:

  • Jenis penyakit per tahun pada semua populasi di kelompok umur yang tersedia;
  • Frekuensi kejadian setiap penyakit per tahun pada semua populasi di kelompok umur yang tersedia. 

Lalu, kumpulkan juga data terkait standar pengobatan. Standar tersebut ditetapkan oleh rumah sakit dan berlaku untuk obat masuk pada rencana kebutuhan. 

2. Menghitung Kebutuhan Jumlah Sediaan Farmasi

Setelah itu, Anda perlu menghitung kuantitas kebutuhan pengadaan obat. Caranya dengan mengalikan jumlah kasus dan jumlah obat menyesuaikan panduan pengobatan dasar. 

Adapun perhitungan jumlah kebutuhan pengadaan obat yang masuk harus memeprtimbangkan berbagai faktor. Mulai dari lead time, pola penyakit, hingga buffer stock

Contoh Perhitungan Metode Morbiditas

Bila ingin menjamin kebutuhan obat terpenuhi, maka metode morbiditas adalah opsi perencanaan pengadaan obat yang bisa Anda coba. 

Ilustrasinya, terdapat kasus penyakit berupa diare akut yang membutuhkan penggunaan oralit untuk penyembuhannya. Melalui metode morbiditas, berikut penghitungan jumlah oralit yang dibutuhkan menyesuaikan data komposisi demografi serta jumlah kasusnya:

1. Dewasa 

Jumlah kasus diare akut: 110 kasus

Kebutuhan oralit per satu siklus pengobatan: 6 bungkus @ 1 liter

Total kebutuhan oralit: 110 x 6 = 660

Jadi, kebutuhan pengadaan oralit untuk diare akut pada orang dewasa adalah 660 bungkus.

2. Anak-anak 

Jumlah kasus diare akut: 185 kasus

Kebutuhan oralit per satu siklus pengobatan: 15 bungkus @ 200 ml

Total kebutuhan oralit: 185 x 15 = 2.775 

Jadi, kebutuhan pengadaan oralit untuk diare akut pada anak-anak adalah 2.775 bungkus. 

Tantangan & Inovasi dalam Penerapan Metode Morbiditas

Tantangan & Inovasi dalam Penerapan Metode Morbiditas

1. Tantangan Validitas Data Morbiditas

Akurasi sangat dipengaruhi mutu data insidensi/prevalensi, cakupan layanan, dan kepatuhan terhadap STGs; kekurangan atau keterlambatan data dapat menghasilkan estimasi berlebih atau kurang. 

Triangulasi dengan data konsumsi dan statistik layanan dianjurkan untuk meningkatkan keandalan.

2. Perbandingan dengan Metode Lain

– Metode konsumsi: menggunakan pemakaian historis persediaan; efektif bila data lengkap dan stabil, namun kurang sensitif terhadap perubahan pedoman klinis atau perluasan program.

– Metode statistik layanan: berbasis jumlah kunjungan/prosedur; membantu saat diagnosis spesifik tersedia tetapi membutuhkan pemetaan tepat antara layanan dan regimen.

– Morbiditas unggul saat merencanakan intervensi baru atau ketika data pemakaian terbatas, asalkan STGs dan data penyakit andal.

3. Inovasi Digital & Sistem Informasi untuk Mendukung Metode Morbiditas

Penerapan e-LMIS (electronic Logistics Management Information Systems) meningkatkan ketersediaan, ketepatan waktu, dan keterlacakan data untuk peramalan dan perencanaan pasokan.

Mandira Distra Distributor Obat untuk Pengadaan Apotek dan Rumah Sakit

Kini Anda paham bahwa metode morbiditas adalah cara mendapatkan jumlah pengadaan obat yang lebih akurat. Lalu, pastikan mutu obat terjamin dengan mendapatkannya melalui Mandira.

Sebagai Pedagang Besar Farmasi, Mandira mengirim obat dalam jumlah besar ke semua bagian Indonesia. Ketahui Alur Pengadaan Obat dari PBF Mandira Distra yang Aman.

Distributor obat Mandira Distra Abadi telah dipercaya selama 31 tahun untuk memenuhi kebutuhan obat apotek, pedagang besar farmasi, hingga rumah sakit. 

Mandira Distra Abadi merupakan Pedagang Besar Farmasi (PBF) yang bekerja sama dengan perusahaan produsen obat kenamaan, kunjungi laman prinsipal untuk melihat ragam obat dari prinsipal kami. Kami menerima pengiriman ke seluruh Indonesia.

Hubungi kami untuk informasi selengkapnya terkait obat yang tersedia dan dapatkan penawaran terbaik. Anda juga dapat mempelajari beragam informasi terkini seputar kesehatan dan tips operasional apotek melalui laman blog kami.

Kartu Stok Obat: Bagaimana Fungsi dan Cara Membuatnya?

Kartu stok obat merupakan alat esensial dalam industri farmasi, khususnya apotek. Melalui kartu stok, operasional apotek lebih efisien dalam mengelola keluar masuknya obat. Terlebih mengingat stok obat memerlukan modal besar serta berpengaruh pada pelayanan dan pemasaran apotek. 

Itulah mengapa, persediaan obat di apotek dikendalikan melalui penerapan sistem kartu stok. Berikut pengertian, fungsi, serta cara membuat kartu stok yang bisa Anda pahami. Selain itu Anda juga dapat mengetahui Ketahui Seputar Surat Resep Obat Dokter yang Biasa Kita Dapatkan.

Apa itu Kartu Stok Obat

Kartu stok untuk obat merupakan dokumen yang berlaku sebagai sistem pencatatan. Penggunaan kartu stok memiliki tujuan sebagai pelacakan inventaris berupa obat-obatan pada fasilitas kesehatan seperti apotek.

Keberadaan kartu stok membuat perekaman informasi mengenai jumlah obat masuk dan obat keluar lebih efisien. Terutama mengingat pada satu bisnis apotek harus mengelola produk obat mulai dari 2.000 hingga 7.000 SKU (Stock Keeping Unit). 

Pengelola apotek pun dapat memantau jumlah obat yang tersedia, mencegah stok kurang atau lebih, hingga menjamin efektivitas dan efisiensi penggunaan obat. 

Fungsi Kartu Stok untuk Obat

Berikut berbagai fungsi dari menggunakan kartu stok dalam operasional apotek:

1. Pemantauan Inventaris

Obat merupakan inventaris dalam bisnis apotek. Melalui kartu stok, maka memantau ketersediaan jumlah obat jadi lebih praktis. Pegawai apotek pun lebih efisien ketika mengambil keputusan pembelian obat-obatan. 

2. Pencegahan Kedaluwarsa

Salah satu faktor penentu kualitas obat adalah tanggal kadaluarsanya. Sebaiknya, apotek mendahulukan penjualan obat dengan tanggal kadaluarsa yang dekat untuk menghindari kerugian. 

Bila menggunakan kartu stok, identifikasi obat dengan tanggal kadaluarsa yang dekat pun lebih efektif. Jadi, penjualan dan penggunaan obat dapat diprioritaskan.

3. Pengendalian Keuangan

Kartu stok untuk obat juga memudahkan pengendalian keuangan bisnis apotek. Sebab, bisa memastikan ketersediaan obat sesuai sehingga tidak kekurangan atau kelebihan. 

4. Kepatuhan Regulasi

Keberadaan kartu stok juga membantu apotek mematuhi regulasi kesehatan dan farmasi yang berlaku. Ini dilakukan melalui pencatatan penggunaan obat-obatan yang akurat dengan kartu stok. 

Cara Membuat Kartu Stok Obat

Pembuatan kartu stok untuk obat didasari oleh Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) Republik Indonesia Nomor 73 Tahun 2016. Permenkes tersebut berisi tentang ‘Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek’.

Terdapat kriteria penting agar pengelolaan obat terjamin akuntabel dan tepat, sehingga cara-cara di bawah ini perlu dilakukan:

1. Menyiapkan Format Kartu Stok

Siapkan format yang mengandung informasi dasar tentang obat pada kartu stok, meliputi:

  • Nama obat;
  • Jumlah masuk;
  • Jumlah keluar;
  • Tanggal keluar atau masuk;
  • Sisa stok;
  • Bentuk sediaan; 
  • Tanggal kadaluarsa.

2. Mencatat Detail Obat

Untuk setiap jenis obat perlu kartu stok sendiri agar dapat mencatat detailnya. Termasuk tanggal kadaluarsa serta nomor batch per satu jenis obat masuk.

3. Mencatat Transaksi

Pencatatan transaksi pada kartu stok perlu dilakukan setiap ada obat yang masuk atau keluar di apotek. Informasi seperti tanggal masuk atau keluar, jumlah obat, hingga update saldo pun perlu dicantumkan pada kartu stok.

4. Memperbaharui Berkala

Setiap terjadi transaksi, maka kartu stok wajib diperbarui secara teratur. Pastikan pula saldo pada kartu stok akurat jumlahnya dengan banyak obat fisik di apotek.

5. Mengaudit dan Merekonsiliasi

Akurasi kartu stok juga perlu diaudit secara berkala. Lalu, lanjutkan dengan rekonsiliasi kartu stok dengan stok fisiknya agar dapat mengidentifikasi perbedaan dan mengatasinya.

Berbagai fungsi dan cara membuat kartu stok obat tersebut dapat menjadi panduan agar operasional apotek berjalan dengan efisien ketahui juga Jenis Surat Pesanan Obat untuk Pengadaan Obat dan Cara Membuatnya

Kemudian demi memastikan kualitas obat, percayakan hanya pada Pedagang Besar Farmasi seperti Mandira. 

Penuhi Kebutuhan Apotek Anda Bersama Distributor Obat Mandira Distra Abadi

Distributor obat Mandira Distra Abadi telah dipercaya selama 31 tahun untuk memenuhi kebutuhan obat apotek, pedagang besar farmasi, hingga rumah sakit. 

Mandira Distra Abadi merupakan Pedagang Besar Farmasi (PBF) yang bekerja sama dengan perusahaan produsen obat kenamaan, kunjungi laman prinsipal untuk melihat ragam obat dari prinsipal kami. Kami menerima pengiriman ke seluruh Indonesia.

Hubungi kami untuk informasi selengkapnya terkait obat yang tersedia dan dapatkan penawaran terbaik. Anda juga dapat mempelajari beragam informasi terkini seputar kesehatan dan tips operasional apotek melalui laman blog kami.

Kenali Peran Penting dan Tugas TTK di Apotek

TTK atau Tenaga Teknis Kefarmasian merupakan bagian penting dalam pekerjaan kefarmasian. Tugas TTK di apotek secara umum yaitu untuk membantu penggunaan obat agar sesuai dengan aturan. 

Menurut data tahun 2022 yang dirilis oleh Direktorat Perencanaan Tenaga Kesehatan, Direktorat Jenderal Tenaga Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI, jumlah TTK di Indonesia terdapat 51.632 orang. Dengan sebagian besar berada di Jawa Barat yaitu sebanyak 12,8%. dan paling sedikit di Maluku yaitu sebanyak 0,02% saja. 

Sebelum membahas lebih lanjut mengenai TTK, Anda juga dapat Mengenal Apa Saja Tugas Apoteker di Apotek.

Siapa itu Tenaga Teknis Kefarmasian (TTK)? 

TTK merupakan tenaga yang membantu apoteker dalam mengerjakan pekerjaan seputar kefarmasian. TTK yaitu tenaga kefarmasian yang lulus pendidikan D3 Farmasi dan sudah dipersiapkan untuk bekerja di lapangan. 

Dalam pendidikan vokasi atau D3, akan diajarkan keahlian terapan. Dalam hal ini rasio antara praktikum dan teorinya yaitu sekitar 70:30. Oleh karena itu, lulusan D3 Farmasi dianggap mampu memberikan pelayanan kefarmasian yang layak.

Pelayanan kefarmasian yang dimaksud yaitu pelayanan langsung pada pasien/pelanggan, yang berhubungan dengan sediaan obat farmasi agar tercapai peningkatan kehidupan masyarakat. 

Dalam Pasal 20 PP No. 51 Tahun 2009, dijelaskan bahwa apoteker bisa dibantu oleh TTK atau asisten apoteker dalam menjalankan tugas kefarmasian di fasilitas kesehatan (termasuk apotek, klinik, puskesmas, atau praktik bersama). 

Dalam menjalankan tugas TTK di apotek, seorang TTK wajib memiliki surat izin atau disebut Surat Tanda Registrasi Tenaga Teknis Kefarmasian (STRTTK). Surat ini merupakan bukti tertulis yang diberikan oleh pemerintah pada TTK yang sudah teregistrasi. 

Dengan surat izin tersebut, TTK dapat menjalankan tugasnya selama 5 tahun lama, yaitu selama masa berlaku surat izin tersebut masih aktif. Bila sudah habis, tenaga teknis kefarmasian harus memperpanjang surat tersebut. Registrasi ini juga diperlukan oleh TTK yang mengambil alih profesi atau naik level. 

Surat STR akan diperoleh ketika TTK sudah mendapat ijazah dan sertifikat uji kompetensi. Setelah lulus dari program pendidikan, ijazah akan langsung dirilis oleh perguruan tinggi bersama sertifikat uji kompetensi dari DIKTI.

Pentingnya Surat Tanda Registrasi (STR) bagi TTK

Surat Tanda Registrasi (STR) adalah dokumen legal yang wajib dimiliki oleh seorang Tenaga Teknis Kefarmasian (TTK) untuk menjalankan tugasnya. STR menjadi bukti bahwa TTK telah memenuhi standar kompetensi yang ditetapkan oleh pemerintah. Proses pendaftaran STR kini telah dipermudah melalui sistem elektronik atau e-STR. STR memiliki masa berlaku selama lima tahun, setelah itu harus diperpanjang untuk tetap digunakan​.

Proses pendaftaran e-STR mencakup pengumpulan dokumen seperti ijazah pendidikan farmasi, sertifikat kompetensi, dan surat sumpah profesi. STR memberikan hak bagi TTK untuk melakukan berbagai aktivitas kefarmasian, seperti membantu pengelolaan resep, pengemasan obat, dan edukasi pasien tentang penggunaan obat secara aman dan efektif. Tanpa STR, seorang TTK tidak diizinkan bekerja di apotek atau fasilitas kesehatan lainnya​.

Tantangan yang Dihadapi oleh TTK di Apotek

Tenaga Teknis Kefarmasian (TTK) sering kali menghadapi berbagai tantangan dalam pekerjaannya. Salah satu tantangan utama adalah memastikan keakuratan dan keamanan dalam pengelolaan obat, termasuk pengemasan, penyimpanan, dan distribusi. Hal ini menjadi kritis untuk mencegah kesalahan obat yang dapat membahayakan pasien.

Selain itu, TTK juga perlu memahami dan mengikuti regulasi yang terus diperbarui, seperti metode penyimpanan sesuai FEFO (First Expired, First Out). Ditambah lagi, tuntutan untuk memberikan pelayanan cepat kepada pasien seringkali memerlukan keterampilan multitasking dan manajemen waktu yang baik.

Apa saja Tugas TTK di Apotek? 

Setelah mengetahui apa itu TTK, mungkin Anda juga penasaran apa saja tugas utama dari seorang TTK. Adapun tugas dan tanggung jawabnya yaitu sebagai berikut:

  1. Menerima permintaan obat melalui resep yang diberikan oleh dokter. Mulai dari menyiapkan obat hingga memberikan etiket dan menyerahkan obat pada pasien.
  2. Menyampaikan informasi dengan benar pada pasien tentang cara penggunaan obat. 
  3. Mencatat laporan harian terkait penjualan setiap shift yang akan dicocokkan dengan resep yang masuk. 
  4. Mencatat jumlah ketersediaan obat dan alat kesehatan yang keluar dan masuk setiap bertugas. 
  5. Melakukan labeling, skrining, dan dispensing resep.
  6. Menjaga kerapian dan kebersihan apotek.
  7. Melakukan pekerjaan sesuai shift yang sudah ditentukan.

Dalam menjalankan tugasnya, diharapkan TTK mampu memahami prinsip compounding, kalkulasi, racikan, persiapan, dan kemasan obat. Selain itu, TTK juga diharapkan memahami prinsip dasar pengadaan obat, jalur pendistribusian, penyimpanan obat, pelayanan pelanggan, dan evaluasi. Anda dapat mengetahui informasi lebih jelasnya dalam artikel kami berikut Tugas, Tanggung Jawab, dan Struktur Organisasi Apotek.

Selain memberikan pelayanan terkait obat-obatan, tugas TTK di apotek juga memastikan ketersediaan stok obat. Dalam hal ini, Anda bisa bermitra dengan Mandira sebagai distributor obat yang menerima pengiriman dalam jumlah besar ke seluruh wilayah Indonesia. 

Penuhi Kebutuhan Apotek Anda Bersama Distributor Obat Mandira Distra Abadi

Distributor obat Mandira Distra Abadi telah dipercaya selama 31 tahun untuk memenuhi kebutuhan obat apotek, pedagang besar farmasi, hingga rumah sakit. Mandira Distra Abadi merupakan Pedagang Besar Farmasi (PBF) yang bekerja sama dengan perusahaan produsen obat kenamaan, kunjungi laman prinsipal untuk melihat ragam obat dari prinsipal kami. Kami menerima pengiriman ke seluruh Indonesia.

Hubungi kami untuk informasi selengkapnya terkait obat yang tersedia dan dapatkan penawaran terbaik. Anda juga dapat mempelajari beragam informasi terkini seputar kesehatan dan tips operasional apotek melalui laman blog kami.