...

Berikut 5 Kesalahan Penyebab Apotek Sepi yang Perlu Dihindari

Jika Anda menjalankan bisnis apotek, maka ada berbagai aspek yang perlu dipahami supaya sirkulasi bisnis tetap berjalan dengan baik dan tidak sepi atau mengalami kerugian. Sebenarnya, ada berbagai penyebab apotek sepi yang sering kali menjadi tantangan bagi para pemilik bisnis yang satu ini.

Supaya bisa terhindar dari kesalahan serupa, maka artikel ini akan membahasnya untuk Anda. Mari simak penjelasan berikut dan pastikan bisnis apotek Anda bisa stabil di tengah banyaknya persaingan bisnis serupa.

Sebelum membahas kesalahan penyabab sepinya apotek, Anda tentu dapat mengetahui Cara Mengembangkan Strategi Pemasaran Apotek sebagai salah satu upaya meningkatkan bisnis apotek Anda. 

5 Kesalahan Penyebab Apotek Sepi

Apotek yang mulai sepi dapat menyebabkan kerugian bagi pemiliknya. Jika berlangsung dalam waktu lama, apotek tersebut bahkan bisa mengalami risiko kebangkrutan. Inilah 5 kesalahan yang bisa membuat apotek sepi, sebaiknya Anda menghindarinya.

1. Kehabisan Stok Obat

Barang utama yang dijual dalam bisnis ini adalah obat-obatan. Maka dari itu, penting bagi Anda untuk memastikan ketersediaan obat bagi konsumen atau pasien.

Jika sebuah apotek sering kehabisan stok obat ketika pasien membutuhkannya, maka ini bisa menjadi penyebab apotek sepi.

Bayangkan saja jika Anda menjadi pasien dan membutuhkan obat tertentu, lalu pergi ke sebuah apotek. Namun sayangnya, mereka tidak menyediakan obat tersebut dan harus mencari di tempat lain.

Besar kemungkinan hal ini dapat membuat Anda kecewa akan mempertimbangkan pergi ke apotek lain jika kemudian hari membutuhkan obat-obatan.

Apabila hal ini terjadi pada banyak konsumen atau pasien, maka apotek lama-kelamaan akan menjadi semakin sepi.

Jadi, penting bagi pemilik apotek untuk memastikan stok obat tersedia. Selain itu, pengelolaan obat juga menjadi aspek penting yang tidak boleh terlewatkan. Dengan demikian, maka apotek dapat memberikan pelayanan terbaik bagi setiap pasien yang datang.

2. Salah Menentukan Lokasi

Dalam setiap jenis bisnis, pemilihan lokasi menjadi kunci penting untuk kelangsungannya. Hal ini juga berlaku untuk bisnis apotek, memilih lokasi strategis adalah hal yang perlu dilakukan.

Lokasi yang tepat untuk membangun apotek yakni di kawasan yang sering dilalui calon pasien. Tempat yang memiliki intensitas aktivitas tingkat tinggi dapat menjadi pilihan tepat dalam hal ini. 

Anda dapat membangun apotek di berbagai lokasi ramai, misalnya kawasan perumahan, perkantoran, dan sekolah. Selain itu, jika bisa mendirikan apotek yang dekat dengan rumah sakit, maka akan lebih strategis.

3. SDM yang Kurang Memadai

Penyebab apotek sepi yang selanjutnya yakni sumber daya manusia (SDM) yang kurang mumpuni untuk menjalankan bisnis ini. Maka dari itu, manajemen SDM menjadi poin penting dalam pengembangan bisnis apotek.

Penting untuk diingat bahwa apotek bergerak di bidang industri jasa, sehingga akan banyak melakukan interaksi dengan konsumen atau pasien.

Banyak pasien yang datang ke apotek dengan tujuan mendapatkan jawaban yang memuaskan atas pertanyaan mereka, terutama terkait obat-obatan.

Dalam bisnis apotek, dibutuhkan SDM yang sopan, ramah, dan jujur. Selain itu, pengetahuan terkait kesehatan, penyakit, dan obat-obatan tentu menjadi hal yang diperlukan. Dengan begitu, pasien dapat melakukan berbagai konsultasi dan mendapat solusi terbaik.

Jika dirasa SDM kurang memadai, maka sebaiknya Anda melakukan berbagai pelatihan untuk meningkatkan layanan.

Pelatihan ini bisa berupa pelatihan yang terfokus pada pengetahuan tentang obat-obatan, serta bisa juga pelatihan untuk memberikan layanan terbaik bagi pasien, termasuk dalam hal memberikan konsultasi.

4. Harga Produk yang Mahal

Harga obat-obatan yang dianggap terlalu tinggi dapat menjadi penyebab apotek sepi. Tentunya, setiap pasien ingin mendapatkan pelayanan yang baik dengan harga yang sesuai. Jika dianggap tidak sesuai atau terlalu tinggi, maka bisa jadi mereka akan memilih apotek lain yang harganya lebih rendah.

Maka dari itu, pastikan bahwa Anda bisa memberikan obat dengan harga yang tepat dan sesuai. Jangan sampai memberikan harga terlalu mahal dan memberatkan pasien.

5. Tidak Cermat dalam Pemilihan Distributor Obat

Penyebab terakhir yang akan dibahas kali ini yakni tentang pemilihan distributor obat. Jika pemilik apotek tidak melakukannya secara cermat, maka omset yang dihasilkan pun bisa jadi tidak sesuai target.

Kesalahan ini juga berkaitan dengan poin pembahasan sebelumnya, yakni harga obat yang terlalu tinggi. memilih distributor yang kurang cermat dapat membuat Anda mendapatkan harga yang lebih tinggi. Hal ini berkaitan dengan harga obat, harga pengiriman, dan berbagai keperluan lainnya dalam distribusi obat.

Lebih parah lagi, jika Anda memilih distributor yang tidak terpercaya, sehingga stok obat yang diberikan pun bukan kualitas terbaik. Dengan demikian, Anda sangat perlu Memahami Peluang dan Kelemahan Usaha Apotek Sebelum Mulai.

Setelah membaca berbagai kesalahan di atas, maka sudah tampak bahwa berbagai hal mengenai obat yang merupakan produk apotek dapat menjadi penyebab utama dari apotek sepi. 

Maka dari itu, perlu dipastikan bahwa Anda tidak kekurangan stok obat, dapat memberikan harga yang tepat bagi konsumen atau pasien, serta memilih Distributor Obat yang tepat dan terpercaya. 

Mulai kerja sama dengan distributor obat Mandira Distra Abadi untuk memenuhi kebutuhan pengadaan obat di apotek, klinik atau rumah sakit Anda.

Distributor obat Mandira Distra Abadi telah dipercaya selama 31 tahun untuk memenuhi kebutuhan obat apotek, pedagang besar farmasi, hingga rumah sakit. Mandira Distra Abadi merupakan Pedagang Besar Farmasi (PBF) yang bekerja sama dengan perusahaan produsen obat kenamaan, kunjungi laman prinsipal untuk melihat ragam obat dari prinsipal kami. Kami menerima pengiriman ke seluruh Indonesia.

Hubungi kami untuk informasi selengkapnya terkait obat yang tersedia dan dapatkan penawaran terbaik. Anda juga dapat mempelajari beragam informasi terkini seputar kesehatan dan tips operasional apotek melalui laman blog kami.

Mengenal Cara Tes HPV DNA dan Manfaatnya

Apakah Anda sudah mengenal tentang tes HPV DNA? Inilah pemeriksaan penting bagi para wanita untuk melakukan deteksi sejak dini terkait risiko kanker serviks. Mari mengenal lebih lanjut tentang cara tes HPV DNA melalui artikel ini.

Kenali juga berbagai manfaatnya, supaya semakin paham mengapa pemeriksaan medis ini perlu dilakukan. Namun, jika Anda belum familiar mengenai tes HPV DNA, sebaiknya Mengenal IVA Test, Perbedaan Pap Smear dan HPV DNA terlebih dahulu. 

Mengenal Cara Tes HPV DNA

Sebelum membahas tentang caranya, ada baiknya Anda pahami sekilas dulu tentang apa yang dimaksud dengan Tes HPV DNA.

Ini merupakan prosedur pemeriksaan medis yang dapat mendeteksi infeksi human papillomavirus atau yang sering disingkat sebagai HPV. Adanya infeksi HPV dapat menjadi pemicu kanker serviks dan jenis kanker lainnya, misalnya kanker anus dan kanker vagina.

Wanita yang berusia antara 30 hingga 65 tahun, disarankan untuk melakukan pemeriksaan ini 5 tahun sekali secara rutin. Namun, perlu dipahami juga bahwa pemeriksaan ini tidak dianjurkan untuk wanita yang usianya masih kurang dari 30 tahun. Sebagai pengganti, terdapat pemeriksaan lain yang dapat dilakukan, yakni pap smear.

Berikut adalah penjelasan lebih lanjut tentang cara tes HPV DNA, mulai dari sebelum pemeriksaan, prosedur pemeriksaan, hingga setelah pemeriksaan.

1. Sebelum Pemeriksaan HPV DNA

Jika Anda akan melakukan pemeriksaan ini, maka ada beberapa hal yang sebaiknya dihindari dalam waktu 24 jam sebelum pemeriksaan, yakni sebagai berikut:

  1. Melakukan hubungan seksual.
  2. Memasukkan benda apapun ke dalam bagian vagina, misalnya pemakaian tampon sebagai pengganti pembalut.
  3. Memakai obat-obatan untuk bagian vagina, misalnya sabun pembersih dan krim.
  4. Melakukan tindakan douching atau membersihkan area vagina dengan produk perawatan yang cara pemakaiannya dengan disemprotkan ke vagina.

Setelah siap untuk pemeriksaan, pasien dapat mengunjungi rumah sakit atau klinik yang menyediakan layanan tes HPV DNA. Sebelum melakukan pemeriksaan, pasien diminta untuk buang air kecil supaya kandung kemih dapat berada dalam kondisi kosong.

Hal ini menjadi penting untuk meningkatkan kenyamanan pasien ketika melakukan pemeriksaan. Selain itu, tindakan ini juga dapat membuat dokter lebih mudah dalam melakukan pemeriksaan dengan aman dan lancar.

2. Prosedur Pemeriksaan HPV DNA

Pemeriksaan atau tes HPV DNA bisa dilakukan di klinik atau rumah sakit terdekat. Secara umum, pemeriksaan ini terbilang cukup singkat, karena hanya membutuhkan waktu selama beberapa menit. Di bawah ini adalah cara tes HPV DNA:

Pasien perlu melepas rok atau celana dan celana dalam yang dipakai. Lalu, pasien diminta berbaring dengan posisi terlentang dan lutut ditekuk, lalu tungkai perlu diangkat dan disangga dengan bantuan alat penyangga.

Selanjutnya, dokter akan memasukkan alat spekulum ke bagian vagina. Dengan bantuan alat tersebut, maka dinding vagina akan terbuka, sehingga dokter dapat melakukan pemeriksaan di bagian leher rahim dan vagina. Tahap ini mungkin akan menyebabkan rasa tidak nyaman, khususnya untuk perut bagian bawah.

Melalui pemeriksaan di atas, dokter mengambil sampel sel yang berasal dari dinding rahim, dengan bantuan alat berupa spatula atau sikat khusus.

Setelah itu, sampel dimasukkan ke tabung kecil, supaya mudah untuk dibawa ke laboratorium dan dianalisis.

3. Setelah Pemeriksaan HPV DNA

Setelah melakukan pemeriksaan dengan cara tes HPV DNA seperti yang sudah dipaparkan, aktivitas sehari-hari pasien tidak akan terganggu. Pasien bisa langsung beraktivitas seperti biasa.

Dokter akan membuat janji temu di lain hari setelah hasil pemeriksaan keluar, biasanya sekitar satu hingga tiga minggu. Dalam pertemuan tersebut, dokter akan memberitahu hasil pemeriksaan dan melakukan diskusi terkait hasil tersebut.

Selain itu, jika ternyata pasien mengalami keluhan setelah melakukan pemeriksaan, sebaiknya segera menghubungi dokter.

Manfaat Tes HPV DNA

Tes HPV DNA mempunyai berbagai manfaat penting, baik dalam mendeteksi, mencegah, hingga melakukan manajemen terkait infeksi HPV dan penyakit yang dapat disebabkan oleh virus tersebut. Berikut adalah beberapa manfaat penting dari pemeriksaan medis ini:

  • Melakukan deteksi sejak dini terkait infeksi HPV.
  • Mendeteksi dan mengidentifikasi jenis-jenis HPV, baik yang memiliki resiko rendah maupun tinggi.
  • Melakukan deteksi kanker serviks dengan tingkat ketepatan yang lebih tinggi.
  • Mencegah kanker serviks dan jenis kanker lainnya yang dapat disebabkan oleh infeksi HPV.
  • Mencegah jenis penyakit lainnya yang dapat disebabkan oleh infeksi HPV.
  • Untuk pasien kanker serviks atau pasien dengan lesi pra-kanker, pemeriksaan ini dapat memantau dan melakukan evaluasi respons terhadap berbagai jenis obat yang diperlukan.

Itulah berbagai penjelasan tentang cara dan manfaat dari tes HPV DNA. Karena bertujuan untuk melakukan deteksi dini untuk risiko kanker serviks, maka pemeriksaan ini menjadi sangat penting. Anda juga dapat Waspadai Minuman dan Makanan Penyebab Kanker

Untuk mendukung pemeriksaan ini, tentunya rumah sakit atau lembaga kesehatan lainnya membutuhkan berbagai dukungan obat-obatan. Dalam hal ini, Mandira dapat membantu untuk pemenuhan obat.

Mulai kerja sama dengan distributor obat Mandira Distra Abadi untuk memenuhi kebutuhan pengadaan obat di apotek klinik atau rumah sakit Anda.

Distributor obat Mandira Distra Abadi telah dipercaya selama 31 tahun untuk memenuhi kebutuhan obat apotek, pedagang besar farmasi, hingga rumah sakit. Mandira Distra Abadi merupakan Pedagang Besar Farmasi (PBF) yang bekerja sama dengan perusahaan produsen obat kenamaan, kunjungi laman prinsipal untuk melihat ragam obat dari prinsipal kami. Kami menerima pengiriman ke seluruh Indonesia.

Hubungi kami untuk informasi selengkapnya terkait obat yang tersedia dan dapatkan penawaran terbaik. Anda juga dapat mempelajari beragam informasi terkini seputar kesehatan dan tips operasional apotek melalui laman blog kami.

Mengenal IVA Test, Perbedaan Pap Smear dan HPV DNA

Jika Anda sudah mengenal berbagai cara untuk mendeteksi kanker serviks sejak dini, maka mungkin sudah familiar dengan istilah IVA Test, pap smear, dan HPV DNA. Namun, mungkin saja masih banyak yang bertanya apa perbedaan pap smear dan HPV DNA.

Artikel ini akan membahas lebih lanjut tentang metode deteksi tersebut, serta menginformasikan siapa saja yang perlu menjalani tes HPV DNA. Simak selengkapnya dan pastikan Anda terhindar dari kanker serviks.

Selain itu, untuk tindakan preventif Waspada! Kanker Payudara Juga Menyerang Laki-laki ketahui ciri-ciri dan penyebab dari kanker payudara terhadap laki-laki. 

Apa itu HPV DNA, IVA Test, dan Pap Smear?

Melakukan deteksi risiko kanker serviks sejak dini merupakan tindakan medis yang penting dilakukan, ketiga tes ini merupakan metode yang umum dilakukan.

1. Tes HPV DNA

Pertama, ada tes HPV DNA yang dapat mendeteksi keberadaan Human Papollomavirus atau virus HPV melalui swab vagina dan sampel urine. Perlu diketahui bahwa virus HPV ini merupakan penyebab utama dari kanker serviks, sehingga penting untuk diwaspadai.

2. IVA Test

IVA merupakan singkatan dari Inspeksi Visual Asam Asetat. Sesuai dengan namanya, ini merupakan pemeriksaan visual serviks dengan memakai larutan asam asetat dengan kadar 3-5% untuk mendeteksi kanker serviks.

3. Pap Smear

Terakhir, ada pap smear yang merupakan tindakan untuk mengambil sampel sel serviks dan melakukan pemeriksaan di bawah mikroskop. Tujuannya untuk memeriksa ada atau tidaknya perubahan sel secara tidak normal yang berpotensi menjadi sel kanker.

Perbedaan Pap Smear dan HPV DNA

Secara umum, keduanya memang ditujukan untuk melakukan deteksi dini terkait ada atau tidaknya pertumbuhan sel kanker. Lalu, perbedaan dari kedua pemeriksaan ini dapat dilihat hasil pemeriksaan dan prosedur yang digunakan.

1. Prosedur Pap Smear

Pertama, untuk prosedur pap smear, pasien perlu berbaring untuk melakukan pemeriksaan. Lalu, pasien diminta untuk menekuk lutut supaya dinding vagina dapat dibuka dengan mudah menggunakan alat yang disebut spekulum.

Dengan begitu, maka akan tampak bagian leher rahim sehingga dokter atau tenaga kesehatan dapat mengusap permukaan leher rahim untuk mengambil spesimen. Selanjutnya, akan dilakukan pemeriksaan di bawah mikroskop, sehingga akan tampak ada atau tidaknya perubahan sel yang dialami.

2. Prosedur HPV DNA

Untuk mengetahui perbedaan pap smear dan HPV DNA, mari ketahui juga prosedur tes HPV DNA.

Ini merupakan uji atau pemeriksaan DNA yang tujuannya mencari ada atau tidaknya infeksi HPV. Prosedurnya yakni dengan memeriksa sel yang diambil dari usapan di bagian leher rahim. Prosedur ini juga biasa disebut sebagai swab vagina.

Meski pengambilan sampelnya serupa dengan pap smear, namun deteksi yang dilakukan berbeda, karena tes HPV DNA bertujuan untuk mendeteksi ada atau tidaknya virus HPV yang menjadi penyebab utama kanker serviks.

3. Perbedaan Hasil Pemeriksaan

Meski keduanya memiliki tujuan untuk mendeteksi ada atau tidaknya pertumbuhan sel kanker, namun terdapat perbedaan pap smear dan HPV DNA yang perlu diketahui.

Pap smear hanya dapat memberikan gambaran untuk perubahan sel yang ada di dinding rahim. Jadi, jika terdapat kondisi yang tidak normal, maka perlu dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.

Lalu, untuk tes HPV DNA, pemeriksaan yang dilakukan lebih mendalam. Pemeriksaan ini akan mengamati ada atau tidaknya materi genetik virus dalam sel leher rahim, meski perubahan yang terjadi dari sel yang ada di dalam serviks belum tampak.

4. Mana yang Lebih Efektif?

Jika dilihat dari penjelasan hasil pemeriksaan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa tes HPV DNA dinilai lebih efektif. Tes ini juga menjadi rekomendasi utama untuk melakukan skrining risiko kanker serviks.

Sebaiknya, tes ini dilakukan secara rutin bagi wanita sejak usia 30 tahun, dan direkomendasikan untuk dilakukan 5 sampai 10 tahun sekali. Namun, untuk wanita yang belum mencapai usia tersebut, maka dapat melakukan pap smear untuk deteksi dini.

Siapa yang Harus Menjalani Tes HPV DNA?

Setelah membaca penjelasan di atas, mungkin Anda akan bertanya tentang siapa saja yang perlu menjalani tes HPV DNA. Berikut adalah beberapa indikasi umum yang membuat seseorang perlu menjalani tes ini:

  • Penderita atau pasien HIV/AIDS
  • Wanita dengan tingkat kekebalan tubuh yang lemah
  • Memiliki hasil tes pap smear dengan risiko tingkat tinggi
  • Sebelumnya pernah terpapar diethylstilbestrol atau DES, yang merupakan salah satu terapi hormon

Kini, Anda telah memahami perbedaan pap smear dan HPV DNA, serta mengetahui siapa saja yang perlu menjalani tes HPV DNA.

Jika Anda atau orang terdekat Anda masuk dalam kategori tersebut, maka sebaiknya segera lakukan pemeriksaan di klinik atau rumah sakit terdekat. Untuk mencegah hal tersebut salah satu caranya dengan Waspadai Minuman dan Makanan Penyebab Kanker

Lalu, jika Anda merupakan pengelola klinik atau rumah sakit, maka pastikan prosedur tes ini dapat dilakukan dengan baik. Tentunya, dibutuhkan berbagai obat pendukung untuk pasien, sehingga pastikan juga Anda memilih distributor obat yang terjamin kualitasnya.

Mulai kerja sama dengan distributor obat Mandira Distra Abadi untuk memenuhi kebutuhan pengadaan obat di apotek klinik atau rumah sakit Anda.

Distributor obat Mandira Distra Abadi telah dipercaya selama 31 tahun untuk memenuhi kebutuhan obat apotek, pedagang besar farmasi, hingga rumah sakit. Mandira Distra Abadi merupakan Pedagang Besar Farmasi (PBF) yang bekerja sama dengan perusahaan produsen obat kenamaan, kunjungi laman prinsipal untuk melihat ragam obat dari prinsipal kami. Kami menerima pengiriman ke seluruh Indonesia.Hubungi kami untuk informasi selengkapnya terkait obat yang tersedia dan dapatkan penawaran terbaik. Anda juga dapat mempelajari beragam informasi terkini seputar kesehatan dan tips operasional apotek melalui laman blog kami.

Tugas, Tanggung Jawab, dan Struktur Organisasi Apotek

Untuk memastikan kelancaran operasional, ada struktur organisasi apotek yang diterapkan pada setiap apotek yang ada. Struktur organisasi tersebut berisi susunan pegawai dengan tugas dan tanggung jawabnya masing-masing.

Memiliki struktur organisasi berarti kinerja apotek sebagai pelayanan kesehatan bisa lebih optimal. Dengan adanya struktur tersebut, masing-masing pegawai dapat memahami dengan jelas perannya sehingga saling terintegrasi dan melancarkan operasional apotek.

Baca artikel ini hingga akhir untuk memahami lebih jelas tentang struktur organisasi pada apotek! Anda juga dapat mengetahui terkait 7 Jenis Bisnis Apotek beserta Fungsinya, sebagai informasi tambahan. Kemudian jika membutuhkan obat-obatan atau suplemen, Anda dapat memperolehnya dari Mandira, salah satu distributor obat terpercaya di Indonesia.

Struktur Organisasi Apotek

Struktur organisasi pada sebuah apotek umumnya berisi garis hierarki untuk mendeskripsikan komponen penyusun apotek. Dalam hal ini, komponen penyusun apotek adalah para pegawai dengan peran dan tanggung jawab masing-masing yang telah ditentukan.

Struktur organisasi membuat posisi serta hubungan antar pegawai ketika bekerja secara profesional lebih jelas. Jadi, tidak terdapat tumpang tindih dalam suatu posisi. 

Terdapat berbagai pegawai dalam sebuah apotek yang mendukung operasionalnya. Mulai dari Apoteker, Asisten Apoteker, Seksi Pembelian, Seksi Penjualan, lalu Seksi Gudang, Seksi Peracikan, hingga Seksi Tata Usaha.

Adapun manfaat yang akan dirasakan dari eksistensi struktur organisasi apotek diantaranya sebagai berikut:

  1. Mengetahui pembagian tanggung jawab secara jelas, sehingga menyelesaikan tugas dan peran ketika bekerja lebih efisien
  2. Memiliki kesempatan membangun kerja sama antara pegawai satu dengan lainnya sebagai sebuah tim
  3. Memudahkan proses koordinasi, khususnya ketika terdapat pemesanan dan juga penerimaan obat hingga pelayanan ke masyarakat

Berdasarkan alur tanggung jawabnya, berikut contoh struktur organisasi pada apotek:

  • Apoteker Penanggung Jawab Apotek (APA) → Pemilik Sarana Apotek (PSA)
  • Apoteker Penanggung Jawab Apotek (APA) → Apoteker Pendamping → Tenaga Teknis Kefarmasian (TTK), Petugas Administrasi, Petugas Gudang.

1. Sebagai Pemilik Sarana Apotek (PSA)

Apoteker yang memiliki wewenang sebagai PSA akan bertanggung jawab secara penuh atas pengelolaan dan kepemilikan apotek. Dengan demikian usaha apotek harus berbentuk usaha perseorangan. Sebagai PSA, apoteker akan mengelola manajemen apotek, operasional, ketenagakerjaan, perizinan, keuangan, hingga hal sejenis yang berkaitan dengan regulasi apotek.

Kemudian, PSA sebagai pemilik juga bertanggung jawab untuk keamanan apotek melakukan operasional usahanya. Ini termasuk tanggung jawab jika terdapat kerugian akibat kelalaian pegawai apotek. Pengambilan keputusan terkait apotek pun kewenangannya terletak di seorang PSA.

Pada sebuah apotek, apoteker bisa berperan sebagai Pemilik Sarana Apotek (PSA), sebagai Apoteker Penanggung Jawab Apotek (APA), hingga sebagai Apoteker Pendamping. 

Namun, pada umumnya posisi atau jabatan ini menjadi gelar profesi yang diberikan ketika seseorang berhasil lulus pendidikan profesi apoteker. 

2. Sebagai Apoteker Penanggung Jawab Apotek (APA)

Posisi APA pada apotek diatur dalam regulasi, yang mewajibkan satu APA harus ada dalam sebuah apotek. APA harus memegang Surat Izin Apotek (SIA) sehingga turut bertanggung jawab atas operasional apotek.

Lebih jelasnya, tanggung jawab APA adalah keberlangsungan dan perkembangan apotek yang sedang dipimpinnya. Selain itu, APA juga akan melapor langsung ke PSA mengenai kondisi apotek.

Tidak hanya sekedar memegang surat izin apotek, namun seorang APA turut berperan dalam kelancaran operasional apotek. APA akan memastikan apotek lancar melayani pemesanan serta penerimaan barang. 

Manajemen melakukan stok apotek, transaksi penjualan, lalu laporan keuangan hingga pembayaran pajak pun dikerjakan oleh seorang Apoteker Penanggung Jawab Apotek.

3. Sebagai Apoteker Pendamping

Untuk apoteker yang berperan sebagai pendamping dalam struktur organisasi apotek, maka tanggung jawabnya adalah membantu dan mendampingi apoteker utama. Pendampingan ini khususnya dalam melaksanakan pekerjaan kefarmasian apoteker utama.

Tugas seperti melayani pengajuan obat resep dan obat bebas hingga mencatat dan melaporkan obat yang keluar masuk menjadi contoh ruang lingkup pekerjaan seorang apoteker pendamping.

Berbagai tugas lain dalam keseharian apoteker pendamping adalah menyusun resep obat berdasarkan nomor urut dan tanggalnya, lalu menjaga kondisi ruang peracikan obat, termasuk lemari obat, rak obat, hingga gudang penyimpanan obat.

Ketika keadaan darurat, seorang apoteker pendamping biasanya bisa berperan menjadi juru resep, lalu melayani penjualan obat bebas, hingga menjadi kasir apotek.

Peran Ragam Jabatan di Apotek

Berdasarkan permenkes Nomor 9 Tahun 2017, paling tidak di apotek terdapat apoteker pemegang SIA (Surat Izin Apotek) yang mana dalam menyelenggarakan apotek dibantu oleh apoteker lainnya.  Apotek membutuhkan tim yang terdiri dari berbagai tenaga profesional dengan peran dan tanggung jawab yang berbeda-beda. Berikut adalah penjelasan mengenai peran ragam jabatan di apotek:

1. Apoteker

Apoteker adalah tenaga profesional di bidang kefarmasian yang memiliki kewenangan untuk:

  • Meracik obat: Apoteker bertanggung jawab untuk menyiapkan obat sesuai dengan resep dokter. Hal ini termasuk menghitung dosis obat, memilih bentuk sediaan yang tepat, dan memberikan informasi tentang cara penggunaan obat.
  • Memberikan konseling obat: Apoteker dapat memberikan konseling kepada pasien tentang cara penggunaan obat yang tepat, efek samping obat, dan interaksi obat.
  • Menyediakan informasi tentang obat: Apoteker dapat menjawab pertanyaan pasien tentang obat-obatan, termasuk efektivitas, keamanan, dan interaksi obat.
  • Melakukan pengelolaan apotek: Apoteker dapat memimpin tim apotek dan bertanggung jawab atas pengelolaan apotek secara keseluruhan, termasuk pengadaan obat, penyimpanan obat, dan penjualan obat.

2. Tenaga Teknis Kefarmasian

Tenaga teknis kefarmasian (TTK) adalah tenaga kesehatan yang memiliki pendidikan dan pelatihan di bidang kefarmasian. TTK dapat membantu apoteker dalam berbagai tugas, seperti:

  • Mempersiapkan obat: TTK dapat membantu apoteker dalam mempersiapkan obat, seperti menghitung dosis obat, memilih bentuk sediaan yang tepat, dan menyiapkan obat untuk pasien.
  • Menyimpan obat: TTK bertanggung jawab untuk menyimpan obat dengan benar sesuai dengan peraturan yang berlaku.
  • Menjual obat: TTK dapat membantu apoteker dalam menjual obat kepada pasien.
  • Memberikan informasi tentang obat: TTK dapat memberikan informasi kepada pasien tentang obat-obatan, seperti cara penggunaan obat, efek samping obat, dan interaksi obat.

3. Kasir

Kasir bertanggung jawab untuk:

  • Menerima pembayaran dari pasien: Kasir menerima pembayaran dari pasien untuk obat-obatan dan produk kesehatan lainnya.
  • Memproses transaksi: Kasir memproses transaksi penjualan obat dan produk kesehatan lainnya.
  • Menangani keluhan pelanggan: Kasir dapat menangani keluhan pelanggan yang terkait dengan pembayaran atau produk yang dibeli.

4. Petugas Gudang

Petugas gudang bertanggung jawab untuk:

  • Menerima barang: Petugas gudang menerima barang dari pemasok, seperti obat-obatan dan produk kesehatan lainnya.
  • Menyimpan barang: Petugas gudang menyimpan barang dengan benar sesuai dengan peraturan yang berlaku.
  • Mengkelola stok barang: Petugas gudang mengelola stok barang dan memastikan bahwa apotek memiliki persediaan obat-obatan dan produk kesehatan yang cukup.

Fungsi Struktur Organisasi di Apotek Menurut Permenkes Nomor 73 Tahun 2016

Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 73 Tahun 2016 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek (“Permenkes 73/2016”) mewajibkan apotek untuk memiliki struktur organisasi yang jelas dan terdefinisi dengan baik. Struktur organisasi ini bertujuan untuk memastikan kelancaran operasional apotek, pembagian tugas dan tanggung jawab yang jelas, serta efektivitas pelayanan kefarmasian kepada masyarakat.

Fungsi utama struktur organisasi di apotek menurut Permenkes 73/2016 adalah sebagai berikut:

1. Penetapan Kebijakan dan Penyelenggaraan Pelayanan Kefarmasian

Struktur organisasi apotek harus mampu merumuskan dan menetapkan kebijakan terkait pelayanan kefarmasian, termasuk:

  • Seleksi dan pengadaan obat
  • Penyimpanan dan pendistribusian obat
  • Penjualan obat
  • Informasi obat
  • Konseling obat
  • Pemantauan efek samping obat
  • Pengembangan formulasi obat
  • Penyiapan sediaan farmasi

2. Pembagian Tugas dan Tanggung Jawab

Struktur organisasi harus mendefinisikan tugas dan tanggung jawab setiap individu dalam apotek, termasuk:

  • Apoteker
  • Tenaga teknis kefarmasian
  • Tenaga administrasi
  • Tenaga keamanan

Pembagian tugas dan tanggung jawab yang jelas akan membantu memastikan kelancaran operasional apotek dan mencegah tumpang tindih pekerjaan.

3. Koordinasi dan Komunikasi

Struktur organisasi harus memfasilitasi koordinasi dan komunikasi yang efektif antara semua pihak yang terlibat dalam pelayanan kefarmasian, termasuk:

  • Apoteker dan tenaga teknis kefarmasian
  • Tenaga administrasi dan tenaga keamanan
  • Pemasok obat
  • Dokter dan tenaga kesehatan lainnya
  • Pasien dan masyarakat

Komunikasi yang efektif akan membantu memastikan bahwa semua pihak memiliki informasi yang sama dan bekerja sama untuk mencapai tujuan yang sama, yaitu memberikan pelayanan kefarmasian yang berkualitas kepada masyarakat.

4. Peningkatan Mutu Pelayanan Kefarmasian

Struktur organisasi harus mendukung upaya peningkatan mutu pelayanan kefarmasian di apotek, melalui:

  • Pengembangan standar operasional prosedur (SOP)
  • Pelatihan dan pengembangan sumber daya manusia
  • Pemantauan dan evaluasi kinerja
  • Penerapan sistem manajemen mutu

Struktur organisasi yang efektif akan membantu apotek untuk mencapai tujuannya dalam memberikan pelayanan kefarmasian yang berkualitas, aman, dan bermutu kepada masyarakat.

Permenkes 73/2016 memberikan panduan umum mengenai struktur organisasi di apotek. Namun, apotek dapat menyesuaikan struktur organisasinya dengan kebutuhan dan kondisi masing-masing, dengan tetap memperhatikan prinsip-prinsip yang telah disebutkan di atas.

Berikut adalah beberapa contoh struktur organisasi apotek yang umum digunakan:

  • Struktur organisasi dengan satu apoteker
  • Struktur organisasi dengan dua apoteker
  • Struktur organisasi dengan apotek klinik

Tips Mengatur dan Mengembangkan SDM Apotek

Meningkatkan Kinerja dan Kualitas Layanan Apotek

Apotek merupakan salah satu layanan kesehatan penting yang perlu dikelola dengan baik, termasuk dalam hal sumber daya manusia (SDM). SDM yang kompeten dan termotivasi adalah kunci utama dalam memberikan pelayanan apotek yang optimal kepada masyarakat. Berikut beberapa tips untuk mengatur dan mengembangkan SDM apotek:

1. Membuat SOP (Standar Prosedur Operasional) yang Jelas

SOP merupakan panduan tertulis yang berisi langkah-langkah baku dalam menjalankan suatu tugas atau proses. Dengan adanya SOP yang jelas, karyawan apotek dapat bekerja secara konsisten dan terarah, sehingga meminimalisasi kesalahan dan meningkatkan efisiensi kerja. SOP juga dapat membantu dalam melatih karyawan baru dan memastikan bahwa mereka mengikuti standar yang sama.

2. Memenuhi Hak Karyawan

Karyawan merupakan aset berharga bagi apotek. Oleh karena itu, penting untuk memenuhi hak-hak karyawan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Hal ini termasuk memberikan gaji yang layak, tunjangan kesehatan, dan cuti. Karyawan yang merasa dihargai dan diperlakukan dengan adil akan lebih termotivasi untuk bekerja dengan baik.

3. Memberi Pelatihan

Pelatihan merupakan investasi penting untuk meningkatkan kompetensi dan keahlian karyawan. Apotek perlu memberikan pelatihan yang berkelanjutan kepada karyawannya, baik tentang pengetahuan dasar kefarmasian maupun tentang keterampilan pelayanan apotek. Pelatihan dapat dilakukan secara internal maupun eksternal.

4. Melakukan Evaluasi Berkala

Evaluasi kinerja karyawan perlu dilakukan secara berkala untuk mengetahui strengths dan weaknesses mereka. Evaluasi dapat dilakukan melalui observasi, wawancara, atau penilaian kinerja. Hasil evaluasi dapat digunakan untuk memberikan feedback kepada karyawan dan untuk merancang program pengembangan SDM yang lebih terarah.

Dengan menerapkan tips-tips di atas, apotek dapat meningkatkan kinerja dan kualitas layanannya. Apotek yang memiliki SDM yang kompeten dan termotivasi akan lebih mampu bersaing di tengah semakin ketatnya persaingan industri kesehatan.

Penuhi Kebutuhan Apotek Anda Bersama Distributor Obat Mandira Distra Abadi

Struktur organisasi apotek bermanfaat dalam membantu pegawainya berintegrasi demi mengoptimalkan pelayanan apotek kepada masyarakat. Salah satu posisi dengan tanggung jawab terbesar adalah apoteker, sehingga penting mengetahui ruang lingkup pekerjaannya. Anda juga dapat mengetahui Peran Penting Apoteker di Distributor Obat-obatan Farmasi

Itulah struktur organisasi apotek yang dapat Anda terapkan untuk usaha apotek Anda. Mulai kerja sama dengan distributor obat Mandira Distra Abadi untuk memenuhi kebutuhan pengadaan obat di apotek Anda.

Distributor obat Mandira Distra Abadi telah dipercaya selama 31 tahun untuk memenuhi kebutuhan obat apotek, pedagang besar farmasi, hingga rumah sakit. Mandira Distra Abadi merupakan Pedagang Besar Farmasi (PBF) yang bekerja sama dengan perusahaan produsen obat kenamaan, kunjungi laman prinsipal untuk melihat ragam obat dari prinsipal kami. Kami menerima pengiriman ke seluruh Indonesia.

Hubungi kami untuk informasi selengkapnya terkait obat yang tersedia dan dapatkan penawaran terbaik. Anda juga dapat mempelajari beragam informasi terkini seputar kesehatan dan tips operasional apotek melalui laman blog kami

Mengenal Apa itu PBF: Pengertian, Fungsi dan Kewajiban 

Pernahkah Anda mendengar istilah PBF atau Pedagang Besar Farmasi? Apa itu PBF? PBF atau Pedagang Besar Farmasi adalah Istilah yang digunakan untuk menyebut sebuah perusahaan berbentuk badan hukum telah memiliki izin, dalam menyediakan, menyimpan juga menyalurkan obat atau bahan obat dalam jumlah besar.

Untuk menjalankan usaha Pedagang Besar Farmasi ini, Anda harus mengetahui perundang-undangan yang mengatur, jumlah obat atau bahan yang bisa dijual dalam jumlah besar. Mungkin Anda menganggap, bahwa menyalurkan obat-obatan termasuk ke dalam tugas distributor.

Baca Juga: Begini Cara Penyimpanan Produk di Gudang PBF Mandira Distra

Tapi Pedagang Besar Farmasi di bidang kesehatan juga bertugas dalam menyalurkan obat-obatan, tidak hanya sekedar menyediakannya saja. Mereka juga memiliki tugas serta kewajibannya masing-masing, dan kami rasa Anda perlu mengetahui informasi berikut yang akan bermanfaat nantinya.

Mengenal Apa Saja Fungsi PBF

Mungkin sebagian dari pembaca pernah berkeinginan, untuk menjalani usah atau membangun bisnis di bidang farmasi. Bisa saja Pedagang Besar Farmasi menjadi salah satu referensi usaha yang bisa dimulai, kami akan membahas mengenai fungsi dari Pedagang Besar Farmasi tersebut.

1. Penyedia dan Penyimpanan Persediaan Farmasi

Fungsi pertama dari Pedagang Besar Farmasi ialah sebagai penyedia atau penyimpan, dari segala persediaan produk kesehatan yang didapat dari produsen. Obat yang disimpan tidak hanya berupa obat siap konsumsi saja, namun juga bahan obat, obat herbal tradisional serta kosmetik.

Jika Anda sudah menemukan produsen, nantinya sebagai Pedagang Besar Farmasi, Anda akan memiliki tempat untuk menyimpan persediaan produk kesehatan tersebut.

2. Sarana Mendistribusikan Persediaan Farmasi

Selanjutnya PBF juga berfungsi sebagai sarana yang mendistribusikan persediaan kesehatan, tidak hanya sekedar menyediakan, namun Anda juga akan menyebarkan produk ke berbagai konsumen yang menyediakan fasilitas pelayanan kesehatan atau farmasi.

Seperti apotek, rumah sakit, klinik, puskesmas, atau toko obat yang telah memiliki izin. Selain itu Anda juga akan mendistribusikan persediaan tersebut, pada wilayah yang telah terdaftar di surat izin pengakuannya atau surat izin edar, dan menyatakan daerah tersebut memang berizin.

3. Tempat Pendidikan dan Pelatihan

Selain itu Pedagang Besar di bidang kesehatan juga bisa menjadi tempat atau sarana pendidikan, ataupun pelatihan bagi calon apoteker sebelum menjalankan tugasnya sesuai profesi.

4. Mendistribusikan Bahan Farmasi atau Obat yang Merata Sesuai Surat Izin Peredaran

Perusahaan Besar Farmasi (PBF) bertanggung jawab untuk mendistribusikan bahan farmasi dan obat ke apotek, rumah sakit, dan klinik sesuai dengan Surat Izin Peredaran (SIP) yang dikeluarkan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Hal ini bertujuan untuk memastikan bahwa obat-obatan yang beredar di pasaran adalah obat yang legal, aman, dan berkualitas.

5. Meminimalisir Praktik Penyalahgunaan Obat

Penyalahgunaan obat adalah penggunaan obat yang tidak sesuai dengan tujuan yang dimaksudkan. Hal ini dapat membahayakan kesehatan dan keselamatan pengguna. PBF memiliki peran penting dalam meminimalisir praktik penyalahgunaan obat dengan cara:

  • Melakukan edukasi kepada apotek, rumah sakit, dan klinik tentang bahaya penyalahgunaan obat
  • Melakukan pengawasan terhadap penjualan obat yang berpotensi disalahgunakan
  • Bekerja sama dengan pihak berwenang untuk menindaklanjuti kasus penyalahgunaan obat

Dengan meminimalisir praktik penyalahgunaan obat, PBF membantu menjaga kesehatan dan keselamatan masyarakat.

Mengenal Kewajiban yang Dimiliki PBF

Tentu saja Anda juga perlu mengenal dengan baik, kewajiban seperti apa dimiliki oleh seorang Pedagang Besar Farmasi agar tidak salah dalam menjalankan tugasnya.

1. Melaksanakan Pengadaan Obat

Kewajiban pertama dari seorang PBF adalah melaksanakan pengadaan obat. Dimana Pedagang Besar Farmasi hanya bisa mengadakan atau menyalurkan obat, dan telah memenuhi persyaratan mutu dari Menteri, industri farmasi atau sesama Pedagang Besar Farmasi.

Untuk menyediakan bahan obat-obatanpun, Anda hanya bisa melaksanakannya kepada sesama pedagang di bidang kesehatan atau pusat dan melalui importasi.

2. Menyalurkan Bahan Obat atau Produk

Kemudian Pedagang Besar Farmasi juga hanya bisa menyalurkan produk, pada wilayah provinsi yang sesuai dengan surat pengakuan. Pedagang besar di bidang kesehatan juga harus mengetahui CDOB atau Cara Distribusi Obat yang Baik, dalam melaksanakan kewajibannya.

3. Melaksanakan Dokumentasi Pengadaan

Kemudian PBF juga perlu melakukan dokumentasi atas penyimpanan atau penyaluran produk, pada tempat usahanya sesuai dengan CDOB yang berlaku secara elektronik, dan akan diperiksa sewaktu-waktu.

4. Menyampaikan Laporan Kegiatan

Kemudian Pedagang Besar Farmasi juga rutin menyampaikan laporan kegiatan, yang diberikan selama 3 bulan sekali. Meliputi kegiatan seperti penerimaan dan penyaluran bahan atau obat kepada Direktur Jenderal dengan tembusan Kepala Bidan Dinas Kesehatan dan lainnya.

Lalu untuk Pedagang Besar Farmasi yang menyalurkan obat dengan kandungan bahan narkotika atau psikotropika, juga wajib membuat laporan kegiatan setiap bulan. Dan perlu diingat kembali, bahwa Pedagang Besar Farmasi penyalur narkotika dan zat lainnya, wajib memiliki izin khusus.

Syarat Menjadi Pedagang Besar Farmasi (PBF)

Menjadi Pedagang Besar Farmasi (PBF) di Indonesia memiliki beberapa persyaratan yang harus dipenuhi. Persyaratan ini diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 70 Tahun 2016 tentang Cara Distribusi Obat yang Baik (CDOB).

Berikut adalah beberapa syarat utama untuk menjadi PBF:

1. Badan Usaha:

  • Memiliki badan usaha yang berbentuk Perseroan Terbatas (PT), Persekutuan Komanditer (CV), atau Koperasi.
  • Akta pendirian dan perubahannya telah disahkan oleh notaris dan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia.
  • Memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) dan Tanda Daftar Perusahaan (TDP).
  • Memiliki izin usaha perdagangan (SIUP) yang sesuai dengan bidang usahanya.

2. Tempat Usaha:

  • Memiliki tempat usaha yang memenuhi persyaratan CDOB, meliputi:
  • Memiliki luas yang memadai untuk menampung semua kegiatan distribusi obat.
  • Memiliki ruangan yang terpisah untuk penyimpanan obat, penerimaan obat, pengeluaran obat, dan karantina obat.
  • Memiliki fasilitas yang memadai untuk menjaga kualitas obat, seperti sistem pendingin ruangan, ventilasi, dan pencahayaan.
  • Memiliki sistem keamanan yang memadai untuk mencegah pencurian dan kerusakan obat.

3. Tenaga Kerja:

  • Memiliki apoteker yang bertanggung jawab atas pelaksanaan CDOB.
  • Memiliki tenaga kerja yang cukup dan terlatih untuk melaksanakan kegiatan distribusi obat.

4. Sistem Mutu:

  • Memiliki sistem mutu yang terdokumentasi dan diterapkan secara efektif untuk memastikan kepatuhan terhadap CDOB.
  • Melakukan audit internal secara berkala untuk memastikan efektivitas sistem mutu.

5. Sarana dan Prasarana:

Memiliki sarana dan prasarana yang memadai untuk menunjang kegiatan distribusi obat, seperti:

  • Kendaraan yang sesuai untuk mengangkut obat.
  • Alat-alat untuk menyimpan dan menangani obat.
  • Sistem informasi untuk mengelola data obat.

Mandira Distra Abadi Pedagang Besar Farmasi untuk Memenuhi Kebutuhan Pengadaan Obat

Menjalani usaha yang berhubungan dengan obat-obatan, memang membutuhkan berbagai bentuk izin tertentu yang harus diurus terlebih dahulu. Anda tidak bisa sembarangan menjual obat atau menyalurkannya ke masyarakat luas, karena akan bertentangan dengan izin PBF.

Baca Juga: Cara Pedagang Besar Farmasi Tangkal Pengiriman Obat Kedaluwarsa

Itulah penjelasan mengenai apa itu PBF yang dapat Anda Ketahui. Mulai kerja sama dengan distributor obat Mandira Distra Abadi untuk memenuhi kebutuhan pengadaan obat di apotek Anda.

Distributor obat Mandira Distra Abadi telah dipercaya selama 31 tahun untuk memenuhi kebutuhan obat apotek, pedagang besar farmasi, hingga rumah sakit. Mandira Distra Abadi merupakan Pedagang Besar Farmasi (PBF) yang bekerja sama dengan perusahaan produsen obat kenamaan, kunjungi laman prinsipal untuk melihat ragam obat dari prinsipal kami. Kami menerima pengiriman ke seluruh Indonesia.

Hubungi kami untuk informasi selengkapnya terkait obat yang tersedia dan dapatkan penawaran terbaik. Anda juga dapat mempelajari beragam informasi terkini seputar kesehatan dan tips operasional apotek melalui laman blog kami.

Jenis Surat Pesanan Obat & Cara Membuatnya

Membuat surat pesanan obat (SP) dengan benar merupakan kompetensi wajib bagi setiap apoteker, namun sayangnya kesalahan kecil dalam dokumen penting ini masih sering ditemukan.

Kesalahan tersebut tidak hanya berpotensi menunda pengadaan obat, tetapi juga bisa berakibat fatal pada aspek legalitas. Agar Anda terhindar dari risiko ini, mari pahami lebih dalam jenis-jenis surat pesanan obat dan cara penyusunannya yang tepat melalui informasi berikut.

Apa itu Surat Pesanan Obat?

Surat pesanan obat atau apotek adalah sebuah surat yang diberikan oleh seorang apoteker yang berisi permintaan barang atau produk pada PBF (Pedagang Besar Farmasi), atau bisa juga disebut distributor. 

Surat ini diperlukan dalam setiap pemesanan obat, sesuai dengan ketentuan yang saat ini berlaku. Hal ini menandakan bahwa pemesanan obat tersebut dilakukan melalui jalur resmi dan sesuai dengan Peraturan Kepala BPOM Nomor 24 Tahun 2021. Surat pesanan ini harus mengandung beberapa informasi penting, di antaranya:

  1. Informasi pemesanan, berupa nomor SIPA dan nama apoteker
  2. Informasi PBF atau distributor yang dituju
  3. Informasi terkait obat yang dipesan, mencakup nama obat, kekuatan, bentuk sediaan, jumlah yang ditulis dalam bentuk angka atau huruf
  4. Informasi mengenai sarana yang akan menggunakan obat tersebut
  5. Tanda tangan

Anda juga dapat mengetahui Jalur Kefarmasian di Distribusi Farmasi sebagai informasi tambahan dalam bidang bisnis apotek. Kemudian jika membutuhkan obat atau suplemen, Anda dapat memperolehnya dari Mandira, salah satu distributor obat terpercaya di Indonesia. 

Fungsi dan Pentingnya Surat Pesanan Obat

1. Legalitas

Menjamin bahwa pemesanan obat dilakukan oleh pihak yang berwenang dan memiliki izin.

2. Keamanan

Membantu mencegah penyalahgunaan obat dengan memastikan bahwa obat hanya dipesan oleh fasilitas yang berhak.

3. Akuntabilitas

Memberikan jejak audit yang jelas untuk setiap transaksi obat.

4. Kontrol Inventaris

Membantu dalam pengelolaan stok obat di fasilitas kesehatan.

5. Dokumentasi

Menjadi bagian dari arsip yang diperlukan untuk keperluan inspeksi atau audit.

Jenis-Jenis Surat Pesanan 

Berdasarkan jenis obat yang dipesan, ada beberapa jenis SP yang berlaku menurut Permenkes Nomor 3 Tahun 2015. Adapun jenis-jenisnya yaitu sebagai berikut:

1. SP Obat Narkotika

Narkotika adalah jenis obat yang dapat menyebabkan penurunan kesadaran, mengurangi nyeri, menghilangkan rasa, serta menimbulkan ketergantungan. Obat ini dapat berasal dari tanaman atau non tanaman, baik sintetis ataupun semi sintetis.

Dalam pembuatannya, Surat Pesanan narkotika hanya akan memuat satu item obat narkotika saja. Dengan demikian, pemesanan untuk obat narkotika yang memiliki kekuatan atau sediaan berbeda harus dilakukan dengan surat pesanan yang berbeda juga. 

Surat ini harus dibuat minimal 3 rangkap, 2 akan diberikan ke PBF, dan 1 sebagai simpanan. Surat ini harus ditandatangani oleh praktisi apoteker yang menjadi penanggung jawab, lengkap dengan nama jelas.

2. SP Obat Psikotropika

Psikotropika merupakan jenis obat baik alami dan bukan termasuk obat narkotika. Obat ini memiliki khasiat psikoaktif dengan cara mempengaruhi susunan saraf pusat sehingga dapat menyebabkan perubahan pada perilaku dan mental. 

Contoh dari obat psikotropika yaitu Diazepam, Fenobarbital, Amfetamin, Pentobarbital, dan Nitrazepam. Setiap satu SP dapat memuat lebih dari satu pesanan obat psikotropika. Minimal dibuat menjadi 3 rangkap, dan sudah ditandatangani oleh praktisi apoteker yang bertanggung jawab.

3. SP Obat Prekursor Farmasi

Prekursor Farmasi merupakan bahan atau zat yang bisa digunakan untuk bahan baku atau penolong untuk kebutuhan produksi dalam industri farmasi atau produk ruahan, produk antara, dan produk jadi yang memiliki kandungan bahan tertentu.

Kandungan yang dimaksud yaitu Pseudoephedrine, Ephedrine, Potasium Permanganat, Ergotamin, dan Norephedrine atau Phenylpropanolamine.

Dalam satu SP, dapat dilakukan pemesanan lebih dari satu obat prekursor farmasi. Surat ini dibuat dalam 3 rangkap dan sudah ditandatangani oleh penanggung jawab, lengkap dengan nama jelas. 

4. SP Obat Umum

Obat umum yang dimaksud di sini adalah golongan selain obat psikotropika, narkotika, dan obat prekursor farmasi. Golongan yang dimaksud yaitu obat bebas terbatas, obat keras lain, dan obat bebas. 

SP obat umum dibuat dalam 3 rangkap, dan setiap SP diberikan nomor urut untuk memudahkan proses dokumentasi. Hal ini juga sebagai pengamanan agar terhindar dari hal yang tidak diinginkan. 

5. SP Obat Keras Tertentu (OKT)

Selain empat golongan di atas, ada satu kategori lagi yang memerlukan perhatian khusus dan sering kali harus dibuatkan surat pesanan tersendiri, yaitu Obat Keras Tertentu (OKT). Golongan ini sering juga disebut sebagai Obat-Obat Tertentu (OOT) yang kerap disalahgunakan.

Menurut Peraturan BPOM No. 10 Tahun 2019, yang termasuk dalam golongan ini adalah obat-obat yang bekerja pada sistem saraf pusat selain Narkotika dan Psikotropika.

Aturan utamanya adalah, Surat Pesanan untuk OKT harus dibuat terpisah dan tidak dapat digabungkan dengan pesanan obat keras biasa lainnya dalam satu SP. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan pengawasan dan mencegah penyalahgunaan. Sama seperti SP lainnya, SP OKT juga harus ditandatangani oleh Apoteker Penanggung Jawab, dilengkapi nama jelas, nomor SIPA, dan stempel apotek.

Cara Membuat Surat Pesanan Obat untuk Pengadaan di Apotek

Surat Pesanan (SP) merupakan dokumen penting dalam proses pemesanan obat di apotek. SP dapat dibuat secara manual atau elektronik, dengan ketentuan yang berbeda-beda. Berikut adalah perbedaan utama antara SP manual dan elektronik:

1. Surat Pesanan Obat Manual

  • Bentuk: Dibuat dalam bentuk kertas fisik, sebanyak 2 rangkap.
  • Penandatanganan: Ditandatangani oleh Apoteker/TTK penanggung jawab.
  • Informasi: Harus mencantumkan nama, bentuk, kekuatan, jumlah, isi kemasan obat yang dipesan, nama sarana apotek (disertai nomor izin), alamat lengkap, stampel sarana apotek, nama fasilitas pemasok, nomor urut SP, nama kota, dan tanggal.
  • Arsip: Satu rangkap diberikan kepada pemasok, dan satu rangkap disimpan sebagai arsip apotek.

2. Surat Pesanan Obat Elektronik

  • Bentuk: Dibuat dalam bentuk digital, menggunakan sistem elektronik.
  • Otoritas: Sistem elektronik harus menjamin otoritas penggunaan oleh Apoteker/TTK penanggung jawab.
  • Informasi: Harus mencantumkan nama, bentuk, kekuatan, jumlah, isi kemasan obat yang dipesan, nama sarana apotek (disertai nomor izin), alamat lengkap, stampel sarana apotek, nama fasilitas pemasok, nomor urut SP, nama kota, dan tanggal.
  • Ketertelusuran: Sistem elektronik harus menjamin ketertelusuran SP minimal 5 tahun terakhir.
  • Pertanggungjawaban: SP elektronik harus dapat ditunjukkan dan dipertanggungjawabkan kebenarannya saat pemeriksaan.
  • Backup Data: Sistem elektronik harus memiliki sistem backup data.
  • Evaluasi Data: Sistem elektronik harus memudahkan evaluasi dan penarikan data SP.
  • Pengiriman: Pesanan elektronik harus dipastikan diterima oleh pemasok.

Surat Pesanan Obat di atas hanyalah sebuah contoh. Informasi di dalamnya bisa Anda sesuaikan sendiri dengan kebutuhan. Setelah mengetahui SP obat, informasi lain yang harus diketahui dalam bidang farmasi yaitu Bagaimana Cara Bekerja Sama dengan Pedagang Besar Farmasi yang benar. 

Kesalahan Umum yang Harus Dihindari dalam Membuat SP

Untuk meminimalisir penolakan pesanan atau penundaan pengiriman, hindari beberapa kesalahan umum yang sering terjadi saat membuat SP berikut ini:

Informasi Tidak Lengkap

Lupa mencantumkan kekuatan sediaan (misalnya, Asam Mefenamat 500mg), bentuk sediaan (tablet, sirup, salep), atau satuan kemasan (box, botol, tube).

Jumlah Tidak Sinkron

Terjadi perbedaan antara jumlah yang ditulis dalam bentuk angka dan yang ditulis dalam bentuk huruf.

Data Apotek Tidak Valid

Stempel apotek tidak terbaca dengan jelas, tidak mencantumkan nomor Surat Izin Apotek (SIA), atau alamat yang tertera berbeda dengan data di PBF.

Tanda Tangan Tidak Sesuai

Tanda tangan pada SP tidak sesuai dengan spesimen tanda tangan Apoteker Penanggung Jawab yang terdaftar di PBF, atau bahkan ditandatangani oleh pihak yang tidak berwenang.

Penggabungan Obat yang Salah

Kesalahan paling fatal adalah menggabungkan beberapa golongan obat yang seharusnya dipisah dalam satu SP, seperti memesan Tramadol (OKT) dalam SP yang sama dengan Paracetamol (Obat Bebas).

Mandira Distra Distributor Obat untuk Pengadaan Apotek dan Rumah Sakit

Itulah Surat Pesanan Obat yang dapat Anda Ketahui. Mulai kerja sama dengan distributor obat Mandira Distra Abadi untuk memenuhi kebutuhan pengadaan obat di apotek Anda.

Distributor obat Mandira Distra Abadi telah dipercaya selama 31 tahun untuk memenuhi kebutuhan obat apotek, pedagang besar farmasi, hingga rumah sakit. Mandira Distra Abadi merupakan Pedagang Besar Farmasi (PBF) yang bekerja sama dengan perusahaan produsen obat kenamaan, kunjungi laman prinsipal untuk melihat ragam obat dari prinsipal kami. Kami menerima pengiriman ke seluruh Indonesia.

Hubungi kami untuk informasi selengkapnya terkait obat yang tersedia dan dapatkan penawaran terbaik. Anda juga dapat mempelajari beragam informasi terkini seputar kesehatan dan tips operasional apotek melalui laman blog kami.