Pemantauan Terapi Obat (PTO) merupakan proses mengoptimalkan efikasi serta mengurangi efek samping dari obat. Proses tersebut dilakukan demi memastikan terapi obat pada pasien berjalan secara efektif serta terjangkau.
Faktor keberhasilan PTO salah satunya bergantung pada apoteker. Peran seorang apoteker sangat penting agar obat untuk pasien tidak bermasalah. Untuk Anda yang masih bingung mengenai peran seorang apoteker, dapat Mengenal Apa Saja Tugas Apoteker di Apotek.
Lalu, apa saja tahapan yang perlu dilalui oleh apoteker dalam melaksanakan PTO? Berikut informasi lengkapnya!
Fungsi dari Pemantauan Terapi Obat
Seorang pasien bisa berisiko menghadapi masalah pada obat yang ia konsumsi. Maka dari itu, proses terapi obat pasien tersebut perlu dipantau. PTO akan melihat indikasi obat pada pasien sehingga efektivitas pengobatan meningkat dan risikonya bisa diminimalkan.
Kriteria Pasien yang Dapat Penerima PTO
Untuk menerima PTO, pasien harus masuk dalam berbagai kriteria menurut jenis obat yang sedang dikonsumsi berikut ini:
Obat bersifat hepatotoksik (contoh: antibiotik dan NSAID);
Obat bersifat nefrotoksik (contoh: aminoglikosida);
Obat berindeks terapi sempit, seperti fenitoin dan digoksin;
Obat yang kerap menyebabkan ROTD, misalnya metoklopramid.
Adapun syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh pasien meliputi:
Anak-anak, ibu hamil dan menyusui, serta lansia;
Memiliki multi diagnosis;
Menerima di atas lima jenis obat;
Merupakan pasien pediatri serta geriatri;
Merupakan pasien gangguan hati atau fungsi ginjal;
Menerima reaksi obat secara merugikan;
Menerima perawatan intensif.
Tahapan Pelaksanaan PTO
Apabila telah mendapatkan pasien sesuai kriterianya, maka pemantauan terapi pada obat dilaksanakan mengikuti tahapan di bawah ini:
1. Mengumpulkan Data Pasien
Data pasien bisa diperoleh dari rekam medisnya atau dengan mewawancarai pasien. Bisa juga wawancara dengan keluarga pasien atau tenaga medis yang pernah melayani pasien. Setelah data terkumpul, maka harus dikaji agar dapat melanjutkan proses PTO.
2. Melakukan Identifikasi Masalah Terkait Obat
Terdapat beberapa masalah yang dapat diidentifikasi, seperti:
Memberi obat tanpa indikasi, artinya pasien mengkonsumsi obat yang tidak dibutuhkan;
Muncul indikasi, namun tidak terapi;
Obat memiliki dosis terlalu rendah atau tinggi;
Pasien menerima obat yang kurang tepat dan bukan yang terbaik bagi kondisinya;
Muncul reaksi obat yang berisiko.
2. Memberi Rekomendasi Terapi Obat
Apoteker bisa merekomendasikan pemantauan terapi obat menyesuaikan tujuan di bawah ini:
Menyembuhkan penyakit;
Menahan progres penyakit;
Meminimalkan gejala klinis;
Mencegah kondisi berisiko dan berbahaya.
3. Membuat Rencana Pemantauan
Berikut langkah-langkah perencanaan pemantauan:
Menetapkan parameter farmakoterapi. Sesuaikan dengan efikasi terapi, karakteristik obat, efek samping, dan perubahan fisiologis pada pasien;
Menentukan frekuensi pemantauan. Sesuaikan pada risiko terapi serta keparahan penyakitnya;
Membuat sasaran terapi. Pertimbangkan standar normal seperti usia, karakter obat, penyakit lain, dan efikasi.
4. Tindak Lanjut Akhir
Hasil identifikasi permasalahan obat hingga rekomendasi terapi wajib diteruskan ke tenaga medis lainnya yang menangani pasien. Ini demi memaksimalkan tujuan terapinya. Lalu, dapatkan informasi pasien yang komprehensif dari dokter agar penetapan target terapi lebih optimal.
Pastikan pasien mendapatkan Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) secara tepat dengan:
Tidak menyampaikan informasi ambigu yang membuat pasien ragu menggunakan obat;
Menyampaikan informasi yang sama dan tidak bertentangan dengan tenaga medis lain;
Memaksimalkan kepatuhan pasien ketika menggunakan obat.
5. Dokumentasi
Dokumentasikan juga pelaksanaan PTO menggunakan formulir yang mencakup informasi penting. Mulai dari catatan pengobatan, detail obat (nama, dosis, cara konsumsi), identifikasi masalah, serta rekomendasinya.
Begitulah cara melakukan pemantauan terapi obat yang bisa apoteker terapkan. Anda juga bisa mendapatkan konseling apoteker untuk menghindari penyalahgunaan obat, lebih lanjutnya dapat Anda simak disini Seputar Konseling Apoteker yang Perlu Anda Ketahui.
Selain melakukan Pemantauan Terapi Obat (PTO) dengan baik, pastikan juga Anda memilih distributor obat yang tepat bagi apotek Anda. Mulai kerja sama dengan distributor obat Mandira Distra Abadi untuk memenuhi kebutuhan pengadaan obat di apotek, klinik atau rumah sakit Anda.
Mandira Distra Distributor Obat untuk Pengadaan Apotek dan Rumah Sakit
Distributor obat Mandira Distra Abadi telah dipercaya selama 31 tahun untuk memenuhi kebutuhan obat apotek, pedagang besar farmasi, hingga rumah sakit.
Mandira Distra Abadi merupakan Pedagang Besar Farmasi (PBF) yang bekerja sama dengan perusahaan produsen obat kenamaan, kunjungi laman prinsipaluntuk melihat ragam obat dari prinsipal kami. Kami menerima pengiriman ke seluruh Indonesia.
Hubungi kami untuk informasi selengkapnya terkait obat yang tersedia dan dapatkan penawaran terbaik. Anda juga dapat mempelajari beragam informasi terkini seputar kesehatan dan tips operasional apotek melaluilaman blog kami.
Metode morbiditas adalah salah satu perencanaan pengadaan obat sesuai dalam ketentuan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 34 Tahun 2021. Melalui penerapan metode morbiditas, pengadaan obat diharapkan efektif karena sesuai kebutuhan. Jadi, tidak kelebihan atau kekurangan stok obat.
Selain itu, metode morbiditas juga membantu efisiensi penggunaan anggaran karena obat-obatan lebih akurat jumlah, jenis, waktu, serta kualitasnya. Jadi, mari simak cara menghitung kebutuhan obat dengan metode morbiditas yang penting melalui pembahasan di bawah ini!
Metode morbiditas adalah cara menghitung kebutuhan obat menyesuaikan pola penyakitnya. Pada metode morbiditas, faktor yang menjadi panduan dalam perkiraan kebutuhan obat tertentu mulai dari peristiwa penyakit umum, jumlah obat, serta pola standar untuk mengobati penyakit tersebut.
Penerapan metode morbiditas umumnya dilaksanakan oleh program dengan kenaikan skala atau scaling up. Sebagai pembanding dari metode perencanaan pengadaan obat lainnya, tingkat kesulitan metode ini paling tinggi.
Hal tersebut mengingat proses perhitungannya yang memakan waktu. Terutama saat harus mengumpulkan data morbiditas untuk suatu rangkaian penyakit yang perlu terjamin validitasnya.
Langkah-langkah Dalam Metode Morbiditas
Anda telah memahami bahwa metode morbiditas adalah cara penghitungan kebutuhan obat berdasarkan pola penyakit. Selanjutnya, Anda perlu mengetahui langkah-langkah melakukan metode morbiditas yang terdiri dari:
1. Mengumpulkan Data Komposisi Demografi dari Kelompok Populasi
Anda harus menyiapkan data berupa estimasi jumlah populasi yang diklasifikasikan menurut jenis kelamin serta kelompok umurnya. Kelompok umur tersebut dimulai dari:
0–4 tahun;
4–14 tahun;
15–44 tahun;
> 45 tahun.
Selain itu, kelompok umur juga bisa Anda tetapkan menurut kategori:
Dewasa, yaitu di atas 12 tahun;
Anak, yaitu umur 1 hingga 12 tahun.
Tidak hanya itu, Anda pun perlu mengumpulkan data mengenai pola morbiditas penyakitnya. Pola morbiditas meliputi:
Jenis penyakit per tahun pada semua populasi di kelompok umur yang tersedia;
Frekuensi kejadian setiap penyakit per tahun pada semua populasi di kelompok umur yang tersedia.
Lalu, kumpulkan juga data terkait standar pengobatan. Standar tersebut ditetapkan oleh rumah sakit dan berlaku untuk obat masuk pada rencana kebutuhan.
2. Menghitung Kebutuhan Jumlah Sediaan Farmasi
Setelah itu, Anda perlu menghitung kuantitas kebutuhan pengadaan obat. Caranya dengan mengalikan jumlah kasus dan jumlah obat menyesuaikan panduan pengobatan dasar.
Adapun perhitungan jumlah kebutuhan pengadaan obat yang masuk harus memeprtimbangkan berbagai faktor. Mulai dari lead time, pola penyakit, hingga buffer stock.
Contoh Perhitungan Metode Morbiditas
Bila ingin menjamin kebutuhan obat terpenuhi, maka metode morbiditas adalah opsi perencanaan pengadaan obat yang bisa Anda coba.
Ilustrasinya, terdapat kasus penyakit berupa diare akut yang membutuhkan penggunaan oralit untuk penyembuhannya. Melalui metode morbiditas, berikut penghitungan jumlah oralit yang dibutuhkan menyesuaikan data komposisi demografi serta jumlah kasusnya:
1. Dewasa
Jumlah kasus diare akut: 110 kasus
Kebutuhan oralit per satu siklus pengobatan: 6 bungkus @ 1 liter
Total kebutuhan oralit: 110 x 6 = 660
Jadi, kebutuhan pengadaan oralit untuk diare akut pada orang dewasa adalah 660 bungkus.
2. Anak-anak
Jumlah kasus diare akut: 185 kasus
Kebutuhan oralit per satu siklus pengobatan: 15 bungkus @ 200 ml
Total kebutuhan oralit: 185 x 15 = 2.775
Jadi, kebutuhan pengadaan oralit untuk diare akut pada anak-anak adalah 2.775 bungkus.
Tantangan & Inovasi dalam Penerapan Metode Morbiditas
1. Tantangan Validitas Data Morbiditas
Akurasi sangat dipengaruhi mutu data insidensi/prevalensi, cakupan layanan, dan kepatuhan terhadap STGs; kekurangan atau keterlambatan data dapat menghasilkan estimasi berlebih atau kurang.
Triangulasi dengan data konsumsi dan statistik layanan dianjurkan untuk meningkatkan keandalan.
2. Perbandingan dengan Metode Lain
– Metode konsumsi: menggunakan pemakaian historis persediaan; efektif bila data lengkap dan stabil, namun kurang sensitif terhadap perubahan pedoman klinis atau perluasan program.
– Metode statistik layanan: berbasis jumlah kunjungan/prosedur; membantu saat diagnosis spesifik tersedia tetapi membutuhkan pemetaan tepat antara layanan dan regimen.
– Morbiditas unggul saat merencanakan intervensi baru atau ketika data pemakaian terbatas, asalkan STGs dan data penyakit andal.
3. Inovasi Digital & Sistem Informasi untuk Mendukung Metode Morbiditas
Penerapan e-LMIS (electronic Logistics Management Information Systems) meningkatkan ketersediaan, ketepatan waktu, dan keterlacakan data untuk peramalan dan perencanaan pasokan.
Mandira Distra Distributor Obat untuk Pengadaan Apotek dan Rumah Sakit
Kini Anda paham bahwa metode morbiditas adalah cara mendapatkan jumlah pengadaan obat yang lebih akurat. Lalu, pastikan mutu obat terjamin dengan mendapatkannya melalui Mandira.
Distributor obat Mandira Distra Abadi telah dipercaya selama 31 tahun untuk memenuhi kebutuhan obat apotek, pedagang besar farmasi, hingga rumah sakit.
Mandira Distra Abadi merupakan Pedagang Besar Farmasi (PBF) yang bekerja sama dengan perusahaan produsen obat kenamaan, kunjungi laman prinsipal untuk melihat ragam obat dari prinsipal kami. Kami menerima pengiriman ke seluruh Indonesia.
Hubungi kami untuk informasi selengkapnya terkait obat yang tersedia dan dapatkan penawaran terbaik. Anda juga dapat mempelajari beragam informasi terkini seputar kesehatan dan tips operasional apotek melalui laman blog kami.
Kartu stok obatmerupakan alat esensial dalam industri farmasi, khususnya apotek. Melalui kartu stok, operasional apotek lebih efisien dalam mengelola keluar masuknya obat. Terlebih mengingat stok obat memerlukan modal besar serta berpengaruh pada pelayanan dan pemasaran apotek.
Itulah mengapa, persediaan obat di apotek dikendalikan melalui penerapan sistem kartu stok. Berikut pengertian, fungsi, serta cara membuat kartu stok yang bisa Anda pahami. Selain itu Anda juga dapat mengetahui Ketahui Seputar Surat Resep Obat Dokter yang Biasa Kita Dapatkan.
Apa itu Kartu Stok Obat
Kartu stok untuk obat merupakan dokumen yang berlaku sebagai sistem pencatatan. Penggunaan kartu stok memiliki tujuan sebagai pelacakan inventaris berupa obat-obatan pada fasilitas kesehatan seperti apotek.
Keberadaan kartu stok membuat perekaman informasi mengenai jumlah obat masuk dan obat keluar lebih efisien. Terutama mengingat pada satu bisnis apotek harus mengelola produk obat mulai dari 2.000 hingga 7.000 SKU (Stock Keeping Unit).
Pengelola apotek pun dapat memantau jumlah obat yang tersedia, mencegah stok kurang atau lebih, hingga menjamin efektivitas dan efisiensi penggunaan obat.
Fungsi Kartu Stok untuk Obat
Berikut berbagai fungsi dari menggunakan kartu stok dalam operasional apotek:
1. Pemantauan Inventaris
Obat merupakan inventaris dalam bisnis apotek. Melalui kartu stok, maka memantau ketersediaan jumlah obat jadi lebih praktis. Pegawai apotek pun lebih efisien ketika mengambil keputusan pembelian obat-obatan.
2. Pencegahan Kedaluwarsa
Salah satu faktor penentu kualitas obat adalah tanggal kadaluarsanya. Sebaiknya, apotek mendahulukan penjualan obat dengan tanggal kadaluarsa yang dekat untuk menghindari kerugian.
Bila menggunakan kartu stok, identifikasi obat dengan tanggal kadaluarsa yang dekat pun lebih efektif. Jadi, penjualan dan penggunaan obat dapat diprioritaskan.
3. Pengendalian Keuangan
Kartu stok untuk obat juga memudahkan pengendalian keuangan bisnis apotek. Sebab, bisa memastikan ketersediaan obat sesuai sehingga tidak kekurangan atau kelebihan.
4. Kepatuhan Regulasi
Keberadaan kartu stok juga membantu apotek mematuhi regulasi kesehatan dan farmasi yang berlaku. Ini dilakukan melalui pencatatan penggunaan obat-obatan yang akurat dengan kartu stok.
Cara Membuat Kartu Stok Obat
Pembuatan kartu stok untuk obat didasari oleh Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) Republik Indonesia Nomor 73 Tahun 2016. Permenkes tersebut berisi tentang ‘Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek’.
Terdapat kriteria penting agar pengelolaan obat terjamin akuntabel dan tepat, sehingga cara-cara di bawah ini perlu dilakukan:
1. Menyiapkan Format Kartu Stok
Siapkan format yang mengandung informasi dasar tentang obat pada kartu stok, meliputi:
Nama obat;
Jumlah masuk;
Jumlah keluar;
Tanggal keluar atau masuk;
Sisa stok;
Bentuk sediaan;
Tanggal kadaluarsa.
2. Mencatat Detail Obat
Untuk setiap jenis obat perlu kartu stok sendiri agar dapat mencatat detailnya. Termasuk tanggal kadaluarsa serta nomor batch per satu jenis obat masuk.
3. Mencatat Transaksi
Pencatatan transaksi pada kartu stok perlu dilakukan setiap ada obat yang masuk atau keluar di apotek. Informasi seperti tanggal masuk atau keluar, jumlah obat, hingga update saldo pun perlu dicantumkan pada kartu stok.
4. Memperbaharui Berkala
Setiap terjadi transaksi, maka kartu stok wajib diperbarui secara teratur. Pastikan pula saldo pada kartu stok akurat jumlahnya dengan banyak obat fisik di apotek.
5. Mengaudit dan Merekonsiliasi
Akurasi kartu stok juga perlu diaudit secara berkala. Lalu, lanjutkan dengan rekonsiliasi kartu stok dengan stok fisiknya agar dapat mengidentifikasi perbedaan dan mengatasinya.
Kemudian demi memastikan kualitas obat, percayakan hanya pada Pedagang Besar Farmasi seperti Mandira.
Penuhi Kebutuhan Apotek Anda Bersama Distributor Obat Mandira Distra Abadi
Distributor obat Mandira Distra Abadi telah dipercaya selama 31 tahun untuk memenuhi kebutuhan obat apotek, pedagang besar farmasi, hingga rumah sakit.
Mandira Distra Abadi merupakan Pedagang Besar Farmasi (PBF) yang bekerja sama dengan perusahaan produsen obat kenamaan, kunjungi laman prinsipaluntuk melihat ragam obat dari prinsipal kami. Kami menerima pengiriman ke seluruh Indonesia.
Hubungi kami untuk informasi selengkapnya terkait obat yang tersedia dan dapatkan penawaran terbaik. Anda juga dapat mempelajari beragam informasi terkini seputar kesehatan dan tips operasional apotek melaluilaman blog kami.
TTK atau Tenaga Teknis Kefarmasian merupakan bagian penting dalam pekerjaan kefarmasian. Tugas TTK di apotek secara umum yaitu untuk membantu penggunaan obat agar sesuai dengan aturan.
Menurut data tahun 2022 yang dirilis oleh Direktorat Perencanaan Tenaga Kesehatan, Direktorat Jenderal Tenaga Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI, jumlah TTK di Indonesia terdapat 51.632 orang. Dengan sebagian besar berada di Jawa Barat yaitu sebanyak 12,8%. dan paling sedikit di Maluku yaitu sebanyak 0,02% saja.
TTK merupakan tenaga yang membantu apoteker dalam mengerjakan pekerjaan seputar kefarmasian. TTK yaitu tenaga kefarmasian yang lulus pendidikan D3 Farmasi dan sudah dipersiapkan untuk bekerja di lapangan.
Dalam pendidikan vokasi atau D3, akan diajarkan keahlian terapan. Dalam hal ini rasio antara praktikum dan teorinya yaitu sekitar 70:30. Oleh karena itu, lulusan D3 Farmasi dianggap mampu memberikan pelayanan kefarmasian yang layak.
Pelayanan kefarmasian yang dimaksud yaitu pelayanan langsung pada pasien/pelanggan, yang berhubungan dengan sediaan obat farmasi agar tercapai peningkatan kehidupan masyarakat.
Dalam Pasal 20 PP No. 51 Tahun 2009, dijelaskan bahwa apoteker bisa dibantu oleh TTK atau asisten apoteker dalam menjalankan tugas kefarmasian di fasilitas kesehatan (termasuk apotek, klinik, puskesmas, atau praktik bersama).
Dalam menjalankan tugas TTK di apotek, seorang TTK wajib memiliki surat izin atau disebut Surat Tanda Registrasi Tenaga Teknis Kefarmasian (STRTTK). Surat ini merupakan bukti tertulis yang diberikan oleh pemerintah pada TTK yang sudah teregistrasi.
Dengan surat izin tersebut, TTK dapat menjalankan tugasnya selama 5 tahun lama, yaitu selama masa berlaku surat izin tersebut masih aktif. Bila sudah habis, tenaga teknis kefarmasian harus memperpanjang surat tersebut. Registrasi ini juga diperlukan oleh TTK yang mengambil alih profesi atau naik level.
Surat STR akan diperoleh ketika TTK sudah mendapat ijazah dan sertifikat uji kompetensi. Setelah lulus dari program pendidikan, ijazah akan langsung dirilis oleh perguruan tinggi bersama sertifikat uji kompetensi dari DIKTI.
Pentingnya Surat Tanda Registrasi (STR) bagi TTK
Surat Tanda Registrasi (STR) adalah dokumen legal yang wajib dimiliki oleh seorang Tenaga Teknis Kefarmasian (TTK) untuk menjalankan tugasnya. STR menjadi bukti bahwa TTK telah memenuhi standar kompetensi yang ditetapkan oleh pemerintah. Proses pendaftaran STR kini telah dipermudah melalui sistem elektronik atau e-STR. STR memiliki masa berlaku selama lima tahun, setelah itu harus diperpanjang untuk tetap digunakan.
Proses pendaftaran e-STR mencakup pengumpulan dokumen seperti ijazah pendidikan farmasi, sertifikat kompetensi, dan surat sumpah profesi. STR memberikan hak bagi TTK untuk melakukan berbagai aktivitas kefarmasian, seperti membantu pengelolaan resep, pengemasan obat, dan edukasi pasien tentang penggunaan obat secara aman dan efektif. Tanpa STR, seorang TTK tidak diizinkan bekerja di apotek atau fasilitas kesehatan lainnya.
Tantangan yang Dihadapi oleh TTK di Apotek
Tenaga Teknis Kefarmasian (TTK) sering kali menghadapi berbagai tantangan dalam pekerjaannya. Salah satu tantangan utama adalah memastikan keakuratan dan keamanan dalam pengelolaan obat, termasuk pengemasan, penyimpanan, dan distribusi. Hal ini menjadi kritis untuk mencegah kesalahan obat yang dapat membahayakan pasien.
Selain itu, TTK juga perlu memahami dan mengikuti regulasi yang terus diperbarui, seperti metode penyimpanan sesuai FEFO (First Expired, First Out). Ditambah lagi, tuntutan untuk memberikan pelayanan cepat kepada pasien seringkali memerlukan keterampilan multitasking dan manajemen waktu yang baik.
Apa saja Tugas TTK di Apotek?
Setelah mengetahui apa itu TTK, mungkin Anda juga penasaran apa saja tugas utama dari seorang TTK. Adapun tugas dan tanggung jawabnya yaitu sebagai berikut:
Menerima permintaan obat melalui resep yang diberikan oleh dokter. Mulai dari menyiapkan obat hingga memberikan etiket dan menyerahkan obat pada pasien.
Menyampaikan informasi dengan benar pada pasien tentang cara penggunaan obat.
Mencatat laporan harian terkait penjualan setiap shift yang akan dicocokkan dengan resep yang masuk.
Mencatat jumlah ketersediaan obat dan alat kesehatan yang keluar dan masuk setiap bertugas.
Melakukan labeling, skrining, dan dispensing resep.
Menjaga kerapian dan kebersihan apotek.
Melakukan pekerjaan sesuai shift yang sudah ditentukan.
Dalam menjalankan tugasnya, diharapkan TTK mampu memahami prinsip compounding, kalkulasi, racikan, persiapan, dan kemasan obat. Selain itu, TTK juga diharapkan memahami prinsip dasar pengadaan obat, jalur pendistribusian, penyimpanan obat, pelayanan pelanggan, dan evaluasi. Anda dapat mengetahui informasi lebih jelasnya dalam artikel kami berikut Tugas, Tanggung Jawab, dan Struktur Organisasi Apotek.
Selain memberikan pelayanan terkait obat-obatan, tugas TTK di apotek juga memastikan ketersediaan stok obat. Dalam hal ini, Anda bisa bermitra dengan Mandira sebagai distributor obat yang menerima pengiriman dalam jumlah besar ke seluruh wilayah Indonesia.
Penuhi Kebutuhan Apotek Anda Bersama Distributor Obat Mandira Distra Abadi
Distributor obat Mandira Distra Abadi telah dipercaya selama 31 tahun untuk memenuhi kebutuhan obat apotek, pedagang besar farmasi, hingga rumah sakit. Mandira Distra Abadi merupakan Pedagang Besar Farmasi (PBF) yang bekerja sama dengan perusahaan produsen obat kenamaan, kunjungi laman prinsipal untuk melihat ragam obat dari prinsipal kami. Kami menerima pengiriman ke seluruh Indonesia.
Hubungi kami untuk informasi selengkapnya terkait obat yang tersedia dan dapatkan penawaran terbaik. Anda juga dapat mempelajari beragam informasi terkini seputar kesehatan dan tips operasional apotek melalui laman blog kami.
Pemusnahan obat di apotek merupakan sebuah proses yang perlu dilakukan. Hal ini berkaitan dengan obat yang tersisa dan keadaannya sudah kadaluarsa. Selain itu, biasanya hal ini juga perlu dilakukan pada obat yang sudah tidak layak konsumsi, sekalipun belum melewati tanggal kadaluarsa.
Biasanya, hal tersebut terjadi akibat cara penyampaiannya yang kurang sesuai. Proses pemusnahannya tentu tidak dapat dilakukan dengan sembarangan. Ada serangkaian langkah yang harus dilakukan.
Pemusnahan obat merupakan proses penting yang dilakukan untuk mengatur limbah obat-obatan yang tidak digunakan lagi atau telah kedaluwarsa. Praktek ini bertujuan untuk mencegah penyalahgunaan obat, melindungi lingkungan dari pencemaran, serta memastikan keamanan pasien yang menggunakan obat.
Pemusnahan obat ini juga harus dilakukan pada obat yang mengandung psikotropika atau narkotika. Praktikum ini dilakukan oleh apoteker dan disaksikan langsung oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota.
Sementara itu, proses pemusnahan obat selain narkotika dan psikotropika, dapat dilakukan oleh apoteker dan harus disaksikan oleh tenaga kefarmasian lainnya yang sudah memiliki izin praktik kerja. Prose pemusnahan ini juga harus memiliki berita acara pemusnahan menggunakan formulir tertentu sebagai bukti.
Tujuan Pemusnahan Obat di Apotek
Pemusnahan obat yang dilakukan tentu bukan tanpa tujuan. Aktivitas ini dilakukan demi menjaga keamanan sekitar dari paparan obat yang sudah tidak layak atau berbahaya.
Obat yang sudah kedaluwarsa atau tidak digunakan lagi bisa menjadi bahaya jika tetap tersedia di apotek. Selain itu, menghancurkan obat-obatan yang tidak digunakan lagi dapat mencegah kemungkinan obat disalahgunakan oleh orang yang tidak berhak. Terutama obat-obat yang bersifat terlarang atau berpotensi adiktif seperti narkotika dan psikotropika.
Peraturan dan Regulasi Terkait Pemusnahan Obat
Proses pemusnahan obat telah diatur dalam Peraturan Badan Pengawas Obat dan Makanan Nomor 14 Tahun 2021. Dikatakan bahwa perlu dilakukan penarikan dan pemusnahan obat yang tidak sesuai ketentuan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam bidang obat.
Selain itu, aturan terkait pemusnahan obat juga terdapat dalam Permenkes No. 72 Tahun 1998. Dalam peraturan tersebut dikatakan bahwa pemusnahan sediaan farmasi dan alat kesehatan akan dilakukan pada:
Sediaan farmasi/alat kesehatan yang diproduksi tanpa memenuhi syarat yang berlaku;
Telah kadaluarsa;
Tidak sesuai dengan syarat pelayanan kesehatan atau kepentingan ilmu pengetahuan;
Telah dicabut izin edarnya;
Berkaitan dengan tindak pidana yang mengenai alat kesehatan dan bidang sediaan farmasi.
Langkah-Langkah Pemusnahan Obat
Proses pemusnahan obat di apotik dapat dilakukan sesuai dengan jenis sediaan obat tersebut. Jadi, prosedurnya tidak sama. Berikut penjelasan selengkapnya.
1. Cara Pemusnahan Obat Sediaan Padat (Tablet, Kaplet, Kapsul, dan Patch)
Proses pemusnahan obat sediaan padat dapat dilakukan dengan mengikuti langkah berikut:
Proses pemusnahan dapat dilakukan dengan cara dibakar bersama kemasannya;
Patch boleh digunting terlebih dahulu lalu dibakar;
Bisa juga dengan cara ditanam. Caranya tablet harus dikeluarkan dari kemasan, lalu digerus, larutkan dalam air, dan timbun dalam tanah. Kemasan harus dirusak, dan bungkus limbah secara terpisah lalu buang di tempat sampah.
2. Cara Pemusnahan Obat Sediaan Cair (Sirup, Tetes Mata)
Pemusnahan obat untuk obat sediaan cair yaitu sebagai berikut:
Keluarkan cairan obat, lalu encerkan dengan air. Buang ke dalam saluran air yang mengalir, atau melalui wastafel.
Hilangkan kemasan etiket.
Botol obat bisa langsung dipecahkan atau dipergunakan kembali.
3. Cara Pemusnahan Obat Semi Padat (Krim, Salep)
Untuk sediaan salep, proses pemusnahannya yaitu sebagai berikut:
Keluarkan semua isi obat dari tube, lalu timbun di dalam tanah.
Etiket obat harus dirobek atau dirusak. Lalu, sisa tue bisa digunting dan dibuang ke dalam tempat sampah.
4. Persetujuan dan Laporan ke Dinas Kesehatan
Apotek wajib mengajukan laporan kepada Dinas Kesehatan setempat sebelum melakukan pemusnahan obat.
Jika obat yang dimusnahkan termasuk kategori narkotika atau psikotropika, prosedurnya lebih ketat dan memerlukan pengawasan lebih lanjut.
5. Pelaksanaan Pemusnahan dengan Pihak Berwenang
Pemusnahan obat dilakukan bersama Dinas Kesehatan, BPOM, atau pihak ketiga yang memiliki izin khusus dalam pengelolaan limbah farmasi.
6. Pembuatan Berita Acara Pemusnahan Obat
Setelah proses pemusnahan selesai, apotek harus membuat dokumen resmi (berita acara pemusnahan obat) yang ditandatangani oleh pihak terkait.
Dokumen ini menjadi bukti bahwa pemusnahan dilakukan sesuai regulasi.
Demikian proses pemusnahan obat di apotek yang dapat dilakukan. Di samping itu, pemenuhan ketersediaan stok obat di apotek harus selalu diperhatikan. Jangan sampai Anda kehabisan atau bahkan tidak memiliki ketersediaan stock obat. Maka, ada baiknya mengetahui Lead Time Obat: Tantangan dan Solusi untuk Pasokan Obat yang Tepat Waktu.
Untuk tetap menjaga pasokan obat, Anda dapat bermitra dengan Mandira, Distributor obat Mandira Distra Abadi telah dipercaya selama 31 tahun untuk memenuhi kebutuhan obat apotek, pedagang besar farmasi, hingga rumah sakit. Mandira Distra Abadi merupakan Pedagang Besar Farmasi (PBF) yang bekerja sama dengan perusahaan produsen obat kenamaan, kunjungi laman prinsipal untuk melihat ragam obat dari prinsipal kami. Kami menerima pengiriman ke seluruh Indonesia.
Hubungi kami untuk informasi selengkapnya terkait obat yang tersedia dan dapatkan penawaran terbaik. Anda juga dapat mempelajari beragam informasi terkini seputar kesehatan dan tips operasional apotek melalui laman blog kami.
Konseling obat adalah salah satu bagian dari pelayanan kefarmasian terhadap pasien. Pasalnya, saat ini pelayanan kefarmasian mengalami pergeseran dari produk menjadi terhadap pasien. Hal ini membuat tuntutan masyarakat terhadap pelayanan kefarmasian semakin tinggi.
Mereka tidak akan sungkan untuk bertanya terkait penggunaan obat pada apoteker. Oleh karena itu, apoteker harus mampu membantu menyelesaikan permasalahan terkait kesehatan dan pengobatan yang benar.
Hal ini sesuai dengan ketentuan PerMenKes No. 73 Tahun 2016 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek. Untuk lebih lengkapnya Anda dapat Mengenal Apa Saja Tugas Apoteker di Apotek
Apa itu Konseling Obat?
Konseling obat adalah pelayanan kefarmasian yang diberikan untuk mencegah kesalahan dalam penggunaan obat, meningkatkan pengetahuan konsumen/pasien, efektivitas obat, serta kepatuhan terhadap aturan pakai obat tersebut.
Konseling ini juga menjadi bagian dari promosi layanan kesehatan yang baik bagi masyarakat. Apoteker dapat mendorong banyak orang agar bisa sembuh dari keluhan atau penyakitnya melalui konseling tersebut.
Tujuan Dari Konseling Obat
Dalam konseling yang dilakukan, ada beberapa tujuan yang harus dicapai. Adapun tujuan dari konseling obat adalah sebagai berikut:
Menciptakan kepercayaan sebagai apoteker yang bertanggung jawab dalam mengobati pasien.
Menunjukan sikap peduli dan perhatian pada pasien sehingga mereka patuh dengan aturan penggunaan obat.
Membantu pasien untuk mengikuti aturan penggunaan obat dengan benar.
Membantu pasien dalam proses penyesuaian antara obat dan penyakitnya.
Menurunkan masalah efek samping obat, ketidakpatuhan, serta reaksi obat yang dapat merugikan pasien.
Meningkatkan kesadaran dan kemampuan pasien agar mampu menyelesaikan masalah kesehatan yang dialaminya secara mandiri.
Siapa Saja yang Membutuhkan Konseling?
Perlu diketahui bahwa tidak semua pasien wajib mendapatkan konseling seperti ini di apotek. Adapun kriteria pasien yang membutuhkan konseling obat adalah sebagai berikut:
Pasien yang mengidap penyakit kronis atau membutuhkan terapi dalam jangka panjang. Seperti epilepsi atau AIDS.
Pasien yang menderita kondisi khusus, seperti pasien geriatri, pediatri, gangguan fungsi ginjal/hati, dan ibu hamil/menyusui.
Pasien yang mengonsumsi obat khusus. Seperti, menggunakan obat kortikosteroid dengan tappering off/down.
Pasien yang mengonsumsi obat dengan indeks terapi yang kecil seperti fenitoin, digoksin, dan teofilin.
Pasien yang tidak patuh terhadap aturan penggunaan obat dan berisiko bagi kesehatannya.
Pasien yang menerima beberapa obat sekaligus untuk mengobati keluhan penyakit yang sama.
Tahapan Konseling Obat
Proses konseling obat tidak dapat dilakukan secara sembarangan. Ada beberapa tahapan yang harus dilalui, mulai dari membangun komunikasi hingga menyampaikan informasi obat. Adapun tahapan konseling obat adalah sebagai berikut:
1. Berkomunikasi dengan Pasien
Tahap pertama dalam konseling obat adalah membangun komunikasi yang efektif dengan pasien. Komunikasi yang baik akan menciptakan suasana yang nyaman dan terbuka sehingga pasien merasa didengarkan dan dihargai.
Anda bisa mulai dengan memperkenalkan diri sebagai apoteker. Berikan sapaan yang ramah agar tercipta hubungan yang baik bersama pasien. Hindari penggunaan istilah medis yang rumit dan sulit dimengerti oleh pasien. Gunakanlah bahasa yang sederhana agar pasien dapat dengan mudah memahami informasi yang diberikan.
Selanjutnya, Anda juga bisa menggunakan komunikasi non verbal seperti menggunakan bahasa tubuh agar pasien lebih mengerti terhadap informasi yang disampaikan.
2. Menganalisa Informasi dari Pasien
Setelah membangun komunikasi dengan pasien, apoteker harus mampu mengidentifikasi tingkat pemahaman pasien terhadap penyakit yang dimilikinya. Selain itu, kaji bagaimana sikap pasien mengenai penyakit tersebut dan bagaimana kemampuan mental dan fisiknya dalam penggunaan obat.
Berikan pertanyaan terbuka mengenai tujuan dari penggunaan obat tersebut dan hasil yang diinginkan. Anda juga bisa meminta pasien untuk menjelaskan bagaimana mereka menggunakan obat tersebut.
Setelah mendapatkan informasi tersebut, Anda bisa menggunakannya untuk memahami kondisi kesehatan pasien, potensi interaksi obat, dan faktor lain yang mungkin mempengaruhi penggunaan obat.
3. Mengedukasi Pasien
Setelah mendapat informasi yang cukup jelas dari pasien, selanjutnya Anda bisa langsung mengedukasi pasien. Anda bisa menggunakan demonstrasi untuk mengisi gap antara pemahaman pasien dan pengetahuan Anda. Mulai dari menunjukkan warna, bentuk, atau tanda dosis dari obat yang digunakan.
Anda juga dapat langsung mendemonstrasikan cara penggunaan obat tersebut pada pasien. Misalnya, inhaler hidung, Anda bisa langsung mempraktekkan bagaimana obat tersebut digunakan.
Bila perlu, Anda bisa menyediakan handout tertulis agar pasien dapat mengingat informasi tersebut lebih jelas. Jika ada pasien yang bermasalah dengan obatnya, segera kumpulkan data lalu kaji masalah tersebut sesuai dengan regimen farmakoterapi atau menghubungi dokter untuk mendapat resep.
4. Menyampaikan Informasi Obat
Dalam menyampaikan informasi obat, ada beberapa hal penting yang harus disampaikan, di antaranya:
Nama obat dan tujuan penggunaannya;
Aturan pakai, seperti waktu penggunaan, takaran, dan frekuensi;
Cara penggunaan obat, terutama obat yang digunakan dengan cara khusus;
Durasi penggunaan obat, terlebih pada obat antibiotik yang harus sesuai resep dokter.
Efek samping obat;
Tanda toksisitas, agar pasien memahami bila muncul ciri-ciri toksisitas setelah menggunakan obat terkait.
Setelah sesi konseling selesai, langkah profesional berikutnya yang tidak boleh terlewat adalah dokumentasi. Setiap informasi penting yang dibahas wajib dicatat dalam sebuah Patient Medication Record (PMR) atau Catatan Pengobatan Pasien.
Pencatatan ini memiliki dua tujuan utama yang sangat praktis:
Menjamin Kontinuitas Pelayanan: Jika di kemudian hari pasien kembali dan dilayani oleh apoteker yang berbeda, riwayat konselingnya dapat langsung diakses. Ini memastikan pelayanan tetap konsisten dan pasien tidak perlu mengulang informasi dari awal.
Sebagai Bukti dan Alat Evaluasi: Dokumentasi adalah bukti tercatat bahwa standar pelayanan telah dijalankan. Catatan ini juga berguna untuk memantau perkembangan terapi pasien dan secara hukum dapat menjadi bukti profesionalisme apoteker.
Singkatnya, dokumentasi memastikan setiap sesi konseling dapat dipertanggungjawabkan dan terukur.
Dapat diketahui bahwa konseling obat adalah bagian dari pelayanan kesehatan yang diberikan oleh apoteker. Selain itu, pastikan pelayanan apotek Anda sudah sesuai dengan standar yang baik, dan sebaiknya dilakukan Evaluasi Mutu Pelayanan Kefarmasian di Apotek.
Ketersediaan stok obat selalu terpenuhi agar bisa memberikan pelayanan yang maksimal pada pasien. Anda bisa mengandalkan distributor obat terpercaya seperti Mandira untuk pemenuhan ketersediaan obat apotek.
Distributor obat Mandira Distra Abadi telah dipercaya selama 31 tahun untuk memenuhi kebutuhan obat apotek, pedagang besar farmasi, hingga rumah sakit. Mandira Distra Abadi merupakan Pedagang Besar Farmasi (PBF) yang bekerja sama dengan perusahaan produsen obat kenamaan, kunjungi laman prinsipal untuk melihat ragam obat dari prinsipal kami. Kami menerima pengiriman ke seluruh Indonesia.
Hubungi kami untuk informasi selengkapnya terkait obat yang tersedia dan dapatkan penawaran terbaik. Anda juga dapat mempelajari beragam informasi terkini seputar kesehatan dan tips operasional apotek melalui laman blog kami.