Catatan Perkembangan Pasien Terintegrasi (CPPT) merupakan salah satu unsur penting dalam dunia medis, khususnya dalam hal pelayanan kesehatan oleh rumah sakit atau klinik. Ada berbagai fungsi dari CPPT pasien yang sebaiknya Anda pahami.
Artikel kali ini akan membahas hal tersebut, termasuk format dan cara pengisian, alasan pentingnya CPPT dalam dokumentasi medis, hingga standar penggunaannya.
Selain itu Anda juga dapat mengetahui seputar Pentingnya Nomor Rekam Medis dalam Sistem Pelayanan Kesehatan
Apa Itu CPPT Pasien?
CPPT (Catatan Perkembangan Pasien Terintegrasi) adalah sebuah dokumen yang berisi catatan perkembangan kondisi pasien yang ditulis oleh semua Tenaga Pemberi Asuhan (PPA). PPA ini mencakup dokter, perawat, bidan, apoteker, ahli gizi, fisioterapis, dan tenaga kesehatan lainnya yang terlibat langsung dalam perawatan pasien.
Secara hukum, CPPT merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Berkas Rekam Medis, yang kewajiban pembuatannya diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) No. 269/MENKES/PER/III/2008 tentang Rekam Medis.
Tujuan CPPT dalam Pelayanan Kesehatan
Ada berbagai tujuan dari penulisan CPPT dalam pelayanan kesehatan, antara lain yaitu:
- Menjadi pedoman untuk mendapatkan berbagai informasi pasien secara mendetail.
- Mempermudah pencatatan perkembangan pasien.
- Menjadi pedoman untuk menulis asuhan pelayanan pasien, supaya selalu sesuai dengan rekam medisnya.
- Meningkatkan kualitas dan efisiensi pelayanan.
Fungsi CPPT dalam Pelayanan Kesehatan
Selanjutnya, ada pula berbagai fungsi dari CPPT yang juga sebaiknya Anda pahami, yaitu:
- Menjadi bukti otentik terhadap berbagai tindakan kepada pasien, baik dalam hal medis maupun non medis.
- Menjadi bukti pelayanan yang terkoordinasi.
- Menjadi dokumentasi hasil pengobatan.
- Menjadi dokumentasi perkembangan medis pasien.
Format CPPT dan Cara Pengisian yang Benar
CPPT pasien perlu ditulis dengan tepat, sehingga Anda perlu memperhatikan struktur dan format penulisannya.
1. Struktur CPPT: SOAP (Subjective, Objective, Assessment, Plan)
Struktur CPPT dituliskan sesuai dengan metode SOAP supaya bisa berfokus pada penanganan pasien. SOAP terdiri dari:
- Subjective, yang berisi keluhan pasien (data subjektif).
- Objective, yang berisi hasil pemeriksaan fisik pasca tindakan medis dan non medis (data objektif).
- Assessment, yang berisi analisis data untuk membandingkan data subjektif dan objektif, supaya bisa mendapatkan kesimpulan dan diagnosis.
- Plan atau perencanaan asuhan, yaitu rencana untuk menindaklanjuti diagnosis.
Variasi Format Lain
Selain SOAP, terdapat variasi format yang digunakan oleh profesi tertentu untuk catatan yang lebih spesifik:
- SOAPIE: Merupakan pengembangan SOAP dengan tambahan I (Instruction/Intervensi) dan E (Education/Edukasi) yang diberikan kepada pasien.
- ADIME: Format ini (Assessment, Diagnosis, Intervention, Monitoring, Evaluation) umumnya digunakan oleh ahli gizi (dietisien) dalam mencatat asuhan gizi.
2. Contoh Pengisian CPPT yang Tepat
Dengan mengacu pada struktur di atas, format CPPT memiliki 5 kolom yang perlu diisi, yaitu:
- Tanggal/jam;
- Profesi/bagian;
- Hasil pemeriksaan, hasil analisis, dan rencana;
- Instruksi tenaga kesehatan;
- Diversifikasi yang dilakukan oleh Dokter Penanggung Jawab Pelayanan.
Pentingnya CPPT dalam Dokumentasi Medis
Pada dasarnya, CPPT sangat penting untuk melaksanakan dokumentasi medis dan menjamin kesinambungan perawatan.
1. Peran CPPT dalam Menjamin Kesinambungan Perawatan
Dalam hal menjamin kesinambungan perawatan dan menjaga profesionalitas tenaga kesehatan, peran CPPT antara lain:
- Menjadi bukti bahwa PPA atau Profesional Pemberi Asuhan telah melakukan kewajibannya secara tepat.
- Menjadi bukti konsekuensi pelaksanaan MPP atau Manajemen Pelayanan Pasien.
- Mendokumentasikan secara detail setiap asuhan yang diberikan, sehingga dapat menjamin kesinambungan perawatan.
2. Dampak Kesalahan Pengisian CPPT pada Pasien
Jika ada kesalahan dalam pengisian CPPT, maka hal ini akan berdampak pada penanganan pasien, termasuk penanganan secara berkelanjutan. Jadi, sangat penting untuk menuliskan CPPT secara akurat.
Standar Penggunaan CPPT di Rumah Sakit dan Klinik
Tentunya, terdapat standar penggunaan CPPT, baik untuk penanganan di rumah sakit maupun klinik.
1. Pedoman Kementerian Kesehatan tentang Pengisian CPPT
Terdapat standar pedoman untuk penulisan CPPT yang perlu Anda pahami, yaitu sebagai berikut:
- CPPT di rawat jalan, dilakukan pada kunjungan berikutnya oleh PPA, ketika pasien kembali datang ke poliklinik.
- CPPT di rawat inap, dilakukan oleh PPA kepada pasien di setiap kunjungan (visit).
- CPPT di instalasi gawat darurat, dilakukan oleh PPA setiap melakukan pergantian shift jaga.
2. CPPT dan Akreditasi Rumah Sakit: Apa Hubungannya?
Pengisian CPPT adalah salah satu bagian penting dari sistem akreditasi rumah sakit, karena dapat memberi informasi data pasien secara menyeluruh. Hal ini menunjukkan sikap profesionalitas tenaga medis dalam menangani pasien.
Penuhi Kebutuhan Apotek Anda bersama Distributor Obat Mandira Tista Abadi
Setelah memahami berbagai penjelasan tentang CPPT pasien, penting juga bagi Anda untuk melakukan manajemen pengelolaan stok obat yang tepat. Termasuk memilih distributor terpercaya.
Dalam hal ini, Distributor Obat Mandira siap menjadi partner Anda. segera simak halaman prinsipal dan hubungi kami untuk pemesanan. Selain itu, simak juga berbagai tips kesehatan lainnya.