Gaya hidup berperan besar dalam menjaga kualitas kesehatan. Sayangnya, banyak individu yang tidak sadar menerapkan kebiasaan yang tergolong sebagai gaya hidup tidak sehat.
Dalam jangka panjang, pola hidup ini dapat berdampak serius terhadap kondisi fisik maupun mental.
Artikel ini akan menjelaskan pengertian gaya hidup yang tidak sehat, contoh kebiasaan yang perlu dihindari, serta risiko kesehatan yang mengintai.
Apa Itu Gaya Hidup Tidak Sehat?
Gaya hidup yang tidak sehat adalah pola kebiasaan yang secara terus-menerus berdampak buruk bagi kesehatan fisik dan mental seseorang.
Perilaku ini meliputi kurang aktivitas fisik, pola makan tidak seimbang, tidur tidak teratur, serta kebiasaan merokok atau konsumsi alkohol berlebihan.
Meskipun dampaknya tidak selalu langsung terasa, gaya hidup semacam ini perlahan melemahkan fungsi tubuh dan meningkatkan risiko berbagai penyakit kronis seperti diabetes, jantung, dan gangguan metabolisme.
Jika dibiarkan, kebiasaan ini dapat menyebabkan penurunan kualitas hidup secara keseluruhan. Oleh karena itu, penting untuk mengenali dan mengubah kebiasaan tidak sehat sejak dini.
Contoh Kebiasaan Gaya Hidup Tidak Sehat
Ada beberapa kebiasaan umum yang sering dilakukan tanpa disadari sebagai bagian dari gaya hidup yang tidak sehat. Berikut ini beberapa di antaranya:
Makan Tidak Seimbang dan Jarang Gerak
Asupan makanan yang tinggi gula, lemak jenuh, serta rendah serat merupakan salah satu faktor utama.
Ditambah dengan minimnya aktivitas fisik, tubuh menjadi kurang optimal dalam membakar kalori, sehingga memicu kelebihan berat badan dan berbagai gangguan metabolisme.
Kurang Tidur dan Manajemen Stres yang Buruk
Tidur yang cukup dan berkualitas merupakan kebutuhan dasar tubuh. Ketika waktu istirahat tidak terpenuhi, sistem imun akan melemah dan risiko gangguan mental meningkat.
Selain itu, ketidakmampuan dalam mengelola stres bisa berdampak pada tekanan darah, kesehatan jantung, hingga kestabilan emosi.
Merokok dan Konsumsi Alkohol Berlebihan
Kebiasaan merokok dan mengonsumsi alkohol secara berlebihan telah terbukti berkaitan langsung dengan peningkatan risiko penyakit kronis seperti kanker, penyakit liver, hingga gangguan pernapasan.
Kedua kebiasaan ini juga mempercepat proses penuaan dan merusak fungsi organ vital.
Risiko Kesehatan dari Gaya Hidup Tidak Sehat
Setelah memahami berbagai kebiasaan buruk, penting juga untuk mengetahui risiko kesehatan yang menyertainya. Berikut penjelasannya:
Penyakit Kronis dan Penurunan Daya Tahan Tubuh
Gaya hidup tidak sehat menjadi faktor pemicu utama penyakit tidak menular seperti diabetes, hipertensi, dan jantung. Sistem imun pun menjadi tidak optimal, membuat tubuh rentan terhadap infeksi dan penyembuhan yang lebih lambat.
Masalah Mental dan Emosional
Kondisi mental sangat berkaitan dengan gaya hidup. Kurang tidur, stres berlebih, dan isolasi sosial dapat memicu gangguan seperti kecemasan, depresi, hingga burnout.
Tanpa penanganan, hal ini bisa mengganggu produktivitas dan kualitas hidup secara keseluruhan.
Gangguan Berat Badan dan Metabolisme
Ketidakseimbangan antara kalori masuk dan keluar akan mengakibatkan obesitas atau sebaliknya, kekurangan gizi. Keduanya dapat berdampak pada fungsi organ, hormon, serta risiko resistensi insulin dan sindrom metabolik.
Percayakan Solusi Kesehatan Bersama Mandira Distra Abadi
Mandira Distra Abadi siap mendukung kebutuhan Anda akan distribusi obat-obatan berkualitas yang membantu mengatasi efek dari gaya hidup tidak sehat.
Jangan lewatkan juga artikel tips kesehatan lainnya yang bisa membantu Anda menjaga kualitas hidup, salah satunya adalah artikel bahaya minuman kemasan.
Obat emulsi merupakan salah satu bentuk sediaan farmasi yang memiliki peranan penting dalam meningkatkan bioavailabilitas dan efektivitas terapi. Contoh obat emulsi ini terdiri atas dua cairan yang tidak saling larut, namun disatukan dengan bantuan zat pengemulsi.
Artikel ini akan membahas apa itu obat emulsi, bagaimana mekanisme kerjanya di dalam tubuh, jenis-jenis emulsi dalam sediaan farmasi, serta beberapa contoh obat emulsi yang umum digunakan.
Apa Itu Obat Emulsi?
Obat emulsi adalah sediaan cair yang terdiri dari dua fase yang tidak saling bercampur, seperti minyak dan air, yang dibuat stabil dengan bantuan zat pengemulsi (emulsifier).
Emulsi memungkinkan zat aktif yang larut dalam minyak atau air dapat digunakan dalam bentuk yang lebih mudah dikonsumsi atau diaplikasikan pada tubuh. Dalam dunia farmasi, emulsi digunakan untuk sediaan oral, topikal, maupun injeksi.
Bagaimana Cara Kerja Obat Emulsi?
Sebelum membahas contoh obat emulsi, penting untuk memahami cara kerja sistem emulsi yang khas ini dalam tubuh pasien.
Prinsip Dasar: Sistem Dua Fase yang Stabil
Sistem emulsi bekerja dengan menggabungkan dua cairan tidak larut, biasanya minyak dan air. Dengan bantuan pengadukan dan emulsifier, terbentuk sistem dua fase di mana satu cairan tersebar dalam bentuk tetesan halus pada cairan lainnya.
Peran Emulsifier dalam Menjaga Kestabilan
Emulsifier berfungsi menurunkan tegangan antarmuka antara minyak dan air, sehingga emulsi tidak mudah terpisah. Zat ini sangat penting untuk menjaga stabilitas formulasi selama penyimpanan dan penggunaan.
Absorpsi Obat dari Emulsi di Dalam Tubuh
Setelah dikonsumsi atau diaplikasikan, tetesan kecil dalam emulsi akan meningkatkan luas permukaan absorpsi, mempercepat disolusi obat, dan memungkinkan pelepasan zat aktif yang lebih efektif.
Jenis-Jenis Emulsi dalam Sediaan Obat
Berdasarkan struktur dan komposisinya, emulsi dalam farmasi dibagi menjadi beberapa jenis berikut ini:
Emulsi Minyak dalam Air (O/W)
Jenis ini memiliki fase minyak sebagai zat yang tersebar dan air sebagai medium utama. Cocok untuk obat oral dan topikal karena mudah dicuci dan tidak terlalu berminyak.
Emulsi Air dalam Minyak (W/O)
Sebaliknya, W/O memiliki air sebagai fase tersebar dalam medium minyak. Jenis ini biasa digunakan dalam sediaan topikal yang memerlukan efek pelembab atau perlindungan jangka panjang.
Emulsi Ganda dan Mikroemulsi
Emulsi ganda mengandung sistem berlapis (contoh: W/O/W), sedangkan mikroemulsi memiliki ukuran partikel yang sangat kecil dan transparan, cocok untuk obat injeksi atau sistem penghantaran obat terkini.
Contoh Obat Emulsi yang Umum Digunakan
Berikut beberapa contoh nyata dari penggunaan emulsi dalam sediaan farmasi yang umum di pasaran:
Obat Emulsi Oral (contoh: Neoral®, Kaletra®)
Neoral® adalah bentuk emulsi siklosporin yang digunakan untuk transplantasi organ. Kaletra®, kombinasi lopinavir dan ritonavir, juga tersedia dalam bentuk emulsi untuk mempermudah penyerapan. Obat – obat tersebut hanya bisa diperoleh dengan resep dokter.
Krim antiseptik mengandung emulsi O/W yang mudah diaplikasikan dan tidak meninggalkan rasa berminyak, sedangkan salep W/O cocok untuk perlindungan kulit jangka panjang. Untuk krim antiseptik ada beberapa yang merupakan obat bebas dan dapat dibeli tanpa resep dokter, sedangkan untuk salep ada beberapa yang memerlukan resep dokter.
Obat Emulsi Parenteral (contoh: propofol IV)
Propofol adalah anestesi umum yang tersedia dalam bentuk emulsi minyak dalam air agar bisa diberikan secara intravena dengan cepat dan aman. Obat ini termasuk dalam golongan obat keras dan hanya dapat diberikan oleh tenaga medis profesional di fasilitas kesehatan.
Percayakan Distribusi Obat Anda Bersama Mandira Distra Abadi
Untuk informasi lebih lanjut mengenai produk emulsi dan sediaan farmasi lainnya, jangan ragu untuk hubungi kami atau mengunjungi halaman prinsipal untuk detail obat.
Jangan lewatkan juga artikel jenis obat dan edukasi obat lainnya yang kami sediakan secara rutin di halaman tips kesehatan.
Penggunaan obat-obatan di apotek atau fasilitas kesehatan tidak lepas dari potensi risiko apabila tidak dikelola dengan benar. Salah satu kategori obat yang memerlukan perhatian khusus adalah obat high alert.
Obat ini merupakan jenis obat yang beresiko tinggi menimbulkan efek yang membahayakan jika terjadi kesalahan dalam penggunaannya.
Artikel ini akan mengulas definisi obat high alert, alasannya memerlukan penanganan khusus, jenis-jenisnya, hingga risiko penggunaannya tanpa pengawasan medis.
Apa Itu Obat High Alert?
High alert adalah jenis obat yang memiliki potensi menyebabkan cedera serius bahkan kematian apabila digunakan secara tidak tepat, baik karena kesalahan dosis, cara pemberian, atau interaksi obat.
Istilah ini digunakan oleh berbagai lembaga kesehatan global, seperti Institute for Safe Medication Practices (ISMP), untuk menandai obat-obatan yang perlu dikendalikan secara ketat dalam distribusi dan penggunaannya.
Mengapa Obat High Alert Perlu Penanganan Khusus?
Penanganan khusus pada high alert bertujuan untuk mencegah kesalahan yang bisa berakibat fatal.
Obat-obatan ini biasanya digunakan untuk mengobati kondisi serius atau kronis yang memerlukan ketepatan dalam pemberian dosis dan pemantauan ketat terhadap efeknya.
Oleh karena itu, baik tenaga kesehatan maupun apoteker harus memahami standar penanganan, pelabelan, serta edukasi pasien terkait penggunaan obat ini.
Contoh Obat yang Termasuk Kategori High Alert
Obat high alert apa saja yang harus diwaspadai? Berikut ini pembagiannya berdasarkan tempat penggunaan:
Kategori Obat High Alert di Fasilitas Kesehatan
Beberapa contoh yang umum di rumah sakit atau klinik meliputi:
Insulin: Digunakan untuk pasien diabetes; dosis berlebih dapat menyebabkan hipoglikemia berat.
Antikoagulan seperti Heparin: Risiko perdarahan fatal jika dosis tidak tepat.
Kemoterapi (seperti Doxorubicin): Dosis harus presisi dan diberikan oleh tenaga medis berpengalaman.
Elektrolit konsentrat seperti Kalium Klorida (KCl): Pemberian yang salah bisa menyebabkan gangguan jantung mendadak.
Obat High Alert di Apotek atau Penggunaan Mandiri
Beberapa obat yang dijual di apotik, baik dengan resep maupun bebas terbatas, juga termasuk dalam kategori ini:
Kortikosteroid oral jangka panjang Pemahaman yang kurang dapat menyebabkan kesalahan penggunaan, terutama jika pasien tidak berkonsultasi terlebih dahulu.
Risiko Penggunaan Obat High Alert Tanpa Pengawasan
Tanpa edukasi yang tepat, penggunaan high alert secara mandiri berpotensi menimbulkan risiko kesehatan serius.
Potensi Kesalahan Dosis dan Efek Fatal
Kesalahan kecil dalam takaran bisa berdampak besar. Misalnya, pemberian insulin dalam jumlah berlebih bisa menurunkan gula darah secara drastis dan membahayakan nyawa.
Interaksi Berbahaya jika Salah Kombinasi
Beberapa obat high alert dapat bereaksi negatif bila dikombinasikan dengan obat lain, seperti NSAID, antibiotik, atau bahkan suplemen herbal. Konsultasi dengan apoteker atau dokter menjadi kunci untuk menghindari efek samping yang tidak diinginkan.
Risiko pada Pasien Anak, Lansia, dan Pasien Kronis
Kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, atau pasien dengan penyakit kronis memiliki metabolisme dan sensitivitas berbeda terhadap obat. Kesalahan penggunaan bisa menyebabkan komplikasi serius atau memperburuk kondisi yang ada.
Butuh Informasi Lebih Lanjut soal Obat High Alert?
Kunjungi Website Mandira Distra Abadi untuk melihat daftar lengkap produk obat, termasuk kategori high alert. Anda juga dapat mengakses halaman prinsipal untuk rincian obat-obatan lainnya, atau hubungi kami untuk konsultasi produk.
Jangan lewatkan juga berbagai tips kesehatan terbaru yang kami sajikan khusus untuk mitra industri dan tenaga medis.
Dalam dunia medis, farmasi klinis adalah metode peracikan obat yang dinilai efektif. Pendekatan terapi yang aman tentu menjadi kebutuhan utama setiap pasien dengan kondisi kompleks.
Oleh sebab itu peran farmasi klinis menjadi sangat penting. Cabang farmasi ini berfokus pada keterlibatan langsung apoteker dalam proses terapi, mulai dari pemilihan obat hingga pemantauan efeknya.
Artikel ini akan mengulas lebih dalam mengenai apa itu farmasi klinis, perbedaannya dengan farmasi komunitas, serta kontribusinya dalam meningkatkan kualitas layanan kesehatan.
Apa Itu Farmasi Klinis?
Sebelum membahas lebih jauh mengenai fungsi dan peran apoteker klinis dalam sistem pelayanan kesehatan, penting untuk memahami terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan farmasi klinis dan bagaimana konsep ini berkembang dalam praktik medis profesional.
Definisi Farmasi Klinis Menurut Praktik Profesional
Farmasi klinis adalah cabang ilmu farmasi yang berfokus pada optimalisasi terapi obat bagi pasien secara individual. Praktik ini dilakukan oleh apoteker klinis yang bekerja langsung di fasilitas pelayanan kesehatan, seperti rumah sakit, klinik, atau puskesmas.
Perbedaan Farmasi Klinis dan Farmasi Komunitas
Perbedaan utama antara farmasi klinis dan farmasi komunitas terletak pada lingkup pelayanan dan keterlibatan dalam terapi pasien. Farmasi komunitas beroperasi di apotek umum dengan fokus pada pelayanan obat kepada masyarakat.
Sementara itu, farmasi klinis melibatkan interaksi langsung dengan tim medis, penyesuaian dosis, serta pemantauan terapi pasien secara menyeluruh di lingkungan klinis atau rumah sakit.
Tujuan dan Fungsi Farmasi Klinis
Sebelum memahami peran apoteker klinis secara praktis, penting bagi Anda mengetahui mengapa farmasi klinis dibutuhkan dalam sistem pelayanan kesehatan.
Mengoptimalkan Terapi Obat bagi Pasien
Salah satu tujuan utama farmasi klinis adalah memastikan pasien menerima terapi obat yang paling sesuai dengan kondisi kesehatannya. Farmasis klinis menilai riwayat medis, kondisi fisik, serta hasil laboratorium untuk memilih jenis dan dosis obat yang tepat.
Meningkatkan Efektivitas dan Keamanan Pengobatan
Dengan keterlibatan aktif dalam perencanaan terapi, apoteker klinis membantu meningkatkan efektivitas pengobatan sekaligus meminimalkan risiko kesalahan penggunaan obat.
Mereka juga memastikan bahwa obat yang digunakan sesuai pedoman dan protokol medis yang berlaku.
Mengurangi Risiko Efek Samping dan Interaksi Obat
Farmasis klinis memiliki keahlian dalam mengidentifikasi potensi interaksi antar obat maupun efek samping yang mungkin terjadi. Melalui pemantauan berkala, mereka dapat menyarankan perubahan terapi jika ditemukan risiko yang membahayakan pasien.
Peran Farmasis Klinis di Fasilitas Kesehatan
Farmasi klinis tidak hanya berperan dalam aspek teknis terapi obat, tetapi juga dalam mendukung proses penyembuhan secara menyeluruh melalui pendekatan yang kolaboratif.
Konseling Pasien dan Edukasi Penggunaan Obat
Farmasis klinis memberikan edukasi langsung kepada pasien mengenai cara penggunaan obat, waktu konsumsi, hingga efek yang mungkin dirasakan. Edukasi ini bertujuan meningkatkan kepatuhan pasien terhadap terapi yang diberikan.
Monitoring Efek Terapi dan Penyesuaian Dosis
Selama pengobatan berlangsung, apoteker klinis memantau efek obat terhadap kondisi pasien. Jika ditemukan tanda-tanda ketidaksesuaian, mereka dapat merekomendasikan penyesuaian dosis atau bahkan penggantian obat untuk menghindari komplikasi.
Kolaborasi dengan Dokter dan Tim Medis
Dalam praktiknya, farmasis klinis bekerja sama dengan dokter, perawat, dan tenaga medis lainnya. Kolaborasi ini penting untuk merancang strategi terapi yang holistik dan berbasis bukti, dengan tujuan utama meningkatkan kualitas hidup pasien.
Dukung Pelayanan Kesehatan Anda Bersama Mandira Distra Abadi
Mandira Distra Abadi hadir sebagai mitra terpercaya untuk memenuhi kebutuhan obat-obatan bagi rumah sakit, klinik, dan fasilitas layanan kesehatan. Kunjungi halaman prinsipal untuk mengetahui rincian produk atau hubungi kami untuk kerja sama distribusi obat.
Jangan lewatkan juga artikel tips kesehatan lainnya untuk menambah insight Anda dalam dunia farmasi klinis.
Dalam dunia farmasi, tidak semua obat berbentuk tablet atau kapsul. Beberapa zat aktif justru lebih efektif dan mudah dikonsumsi dalam bentuk cair, salah satunya adalah obat suspensi.
Bentuk sediaan ini sering digunakan untuk pasien anak-anak maupun dewasa yang kesulitan menelan obat padat. Selain itu, obat suspensi memiliki keunggulan dalam fleksibilitas dosis dan kenyamanan penggunaan.
Untuk memahami bagaimana suspensi bekerja dan mengapa stabilitasnya sangat penting, mari kita bahas lebih lanjut mulai dari definisi hingga cara penyimpanannya yang tepat.
Apa Itu Obat Suspensi?
Suspensi adalah bentuk sediaan cair yang mengandung partikel zat aktif tidak larut yang tersuspensi dalam cairan pembawa. Partikel ini tidak larut sepenuhnya, tetapi tersebar merata sehingga membentuk campuran homogen sementara.
Biasanya, obat suspensi digunakan untuk pasien yang kesulitan menelan tablet atau kapsul, terutama anak-anak dan lansia. Bentuk ini juga memungkinkan pengaturan dosis yang lebih fleksibel dan rasa yang lebih dapat diterima.
Perbedaan Obat Suspensi dan Sediaan Cair Lainnya
Berbeda dengan larutan, di mana zat aktif terlarut sepenuhnya, suspensi mempertahankan partikel padat di dalam cairan.
Sementara, emulsi melibatkan campuran dua cairan tak saling larut, suspensi hanya terdiri dari partikel padat dalam fase cair.
Hal ini membuat stabilitas fisik suspensi lebih menantang dan memerlukan agen pengental atau surfaktan untuk mencegah pengendapan terlalu cepat.
Bagaimana Cara Kerja Obat Suspensi?
Suspensi bekerja dengan melepaskan zat aktif dari partikel tersuspensi saat dikonsumsi atau diaplikasikan. Zat aktif kemudian diserap oleh tubuh melalui saluran pencernaan (untuk suspensi oral) atau permukaan kulit (untuk suspensi topikal).
Karena partikel tidak larut, pelepasan bisa berlangsung lebih lambat dibandingkan larutan, sehingga dapat memberikan efek berkepanjangan atau terkontrol.
Jenis-Jenis Obat Suspensi
Setelah memahami pengertian dan manfaat Suspensi, penting bagi Anda untuk mengetahui berbagai jenisnya. Tiap jenis memiliki karakteristik dan penggunaan yang berbeda sesuai kebutuhan terapi pasien.
Suspensi Oral: Contoh dan Penggunaan
Suspensi oral banyak digunakan untuk antibiotik seperti amoxicillin, antasida, dan obat antipiretik. Obat ini umumnya diberikan dalam bentuk kering dan perlu dicampur dengan air sebelum digunakan, lalu dikocok agar partikel tersebar merata.
Suspensi Topikal dan Parenteral
Suspensi topikal diaplikasikan langsung ke kulit, seperti pada lotion antijamur. Sedangkan suspensi parenteral disuntikkan, misalnya kortikosteroid intramuskular, yang membutuhkan stabilitas tinggi dan kontrol partikel ketat untuk keamanan pasien.
Suspensi Berdasarkan Ukuran Partikel dan Tujuannya
Suspensi juga diklasifikasikan berdasarkan ukuran partikel mikrosuspensi atau nanosuspensi yang masing-masing memengaruhi laju pelepasan zat aktif dan area permukaan yang terserap oleh tubuh.
Hal yang Perlu Diperhatikan dalam Penggunaannya
Dalam penggunaan obat suspensi, ada beberapa hal penting yang perlu Anda perhatikan agar efektivitas obat tetap optimal dan aman dikonsumsi. Berikut penjelasannya.
Pentingnya Pengocokan Sebelum Penggunaan
Karena partikel cenderung mengendap selama penyimpanan, penting untuk mengocok botol suspensi secara merata sebelum digunakan. Hal ini memastikan dosis yang diberikan sesuai dan konsisten.
Penyimpanan Obat Suspensi agar Tetap Stabil
Suhu penyimpanan yang tepat sangat penting. Sebagian suspensi harus disimpan dalam lemari pendingin, sementara lainnya cukup pada suhu ruang. Hindari paparan cahaya langsung dan pastikan tutup botol selalu tertutup rapat untuk menjaga kualitas obat.
Hubungi kami untuk kerja sama dan pemesanan obat. Jangan lewatkan juga artikel terkait tips kesehatan lainnya dan informasi seputar jenis obat yang aman dan tepat untuk dikonsumsi.
Proses pengadaan obat yang efisien dan terstandar adalah elemen krusial dalam operasional setiap apotek, klinik, maupun instalasi farmasi rumah sakit. Salah langkah dalam proses ini tidak hanya berisiko menyebabkan kekosongan stok yang krusial, tetapi juga dapat sangat memengaruhi arus kas dan kepercayaan pasien terhadap layanan Anda. Oleh karena itu, memahami alur pengadaan yang benar bukanlah sekadar tugas administratif, melainkan sebuah strategi inti untuk keberlangsungan bisnis di sektor kesehatan.
Kunci utamanya terletak pada pemahaman alur yang tepat dan pemilihan mitra Pedagang Besar Farmasi (PBF) yang profesional dan terpercaya. PBF berperan sebagai penghubung vital antara produsen dengan fasilitas pelayanan kefarmasian Anda, memastikan setiap produk terjamin kualitas dan legalitasnya.
Artikel ini akan membedah tuntas alur pengadaan obat yang aman dan sesuai standar, langkah demi langkah, untuk membantu Anda mengoptimalkan operasional dan memberikan pelayanan terbaik.
Pengertian Pedagang Besar Farmasi
Apa itu PBF? PBF atau pedagang besar farmasi merupakan perusahaan berbadan hukum yang memiliki izin melaksanakan pengadaan, penyimpanan, sampai distribusi obat dan bahan obat sesuai ketentuan perundang-undangan.
Salah satu PBF yang sudah berpengalaman dalam bidang penyuplai produk kefarmasian adalah PT Mandira Distra Abadi. Dalam melaksanakan kegiatan bisnisnya, PBF PT Mandira Distra Abadi melakukan distribusi obat dengan alur sebagai berikut.
Pentingnya Kepatuhan CDOB dalam Alur Pengadaan Obat
Seluruh alur pengadaan obat di PBF yang profesional wajib berpedoman pada Cara Distribusi Obat yang Baik (CDOB). CDOB adalah standar yang ditetapkan oleh BPOM untuk memastikan mutu dan keamanan obat selama proses distribusi, mulai dari pengadaan hingga sampai ke tangan pasien. Kepatuhan terhadap CDOB menjamin bahwa obat tidak rusak, tidak terkontaminasi, dan tidak dipalsukan. Di Mandira Distra, prinsip CDOB adalah landasan utama dalam setiap langkah operasional kami.
Alur Pengadaan Obat dari PBF
Untuk mengetahui lebih dalam mengenai PBF, berikut kami jelaskan bagaimana alur pengadaan obat yang biasa dilakukan oleh PBF.
1. Pengadaan dan Pemesanan
Pertama, Pedagang Besar Farmasi melaksanakan proses pengadaan dan pemesanan barang. Dalam melaksanakan pengadaan dan pemesanan, terdapat beberapa faktor yang mendasarinya. Faktor-faktor tersebut meliputi riwayat penjualan, permintaan pasar, program pihak marketing, serta pareto. Lantas, seperti apa prinsip pareto dalam PBF?
Dalam konteks pengadaan produk farmasi, PBF perlu melakukan analisis terhadap kebutuhan barang yang memiliki banyak peminatnya atau biasa disebut sebagai barang dengan kebutuhan yang tinggi (high demand). Sebagai contoh, obat batuk, pilek, asam lambung, dan demam merupakan produk farmasi dengan kebutuhan yang tinggi di pasar farmasi.
Berdasarkan analisis tersebut, produk farmasi dengan kebutuhan yang tinggi akan ditingkatkan jumlah pengadaannya. Hal ini bertujuan agar kebutuhan pasar terhadap produk tersebut dapat tercukupi.
Selanjutnya, dalam melakukan pengadaan, Apoteker Penanggung Jawab (APJ) dari PBF berkoordinasi dengan supervisor penjualan serta bagian pemasaran.
Koordinasi yang strategis diperlukan dalam pembuatan daftar kebutuhan barang secara tepat. Oleh distributor obat, pengadaan barang dibedakan menjadi 3 jenis, antara lain:
Pada saat penerimaan barang, pedagang besar farmasi perlu melakukan pengecekan ulang terkait kondisi, kelengkapan, hingga jaminan produk yang diterima. Bagian transit atau ekspedisi harus melakukan pemeriksaan dengan melakukan checklist pada faktur pembelian serta rincian Surat Kirim Barang.
Pengecekan ini harus dilakukan untuk menyesuaikan prosedur pelaksanaan CDOB (Cara Distribusi Obat yang Baik). Berikut ini adalah unsur-unsur yang perlu diperiksa kembali dalam proses penerimaan barang:
Produk yang telah diterima dan melalui pemeriksaan ketat selanjutnya disimpan oleh bagian penyimpanan dengan sistem FEFO (First Expired First Out). Artinya, obat yang masa kadaluarsanya lebih cepat disalurkan terlebih dahulu.
Selain itu, penyimpanan obat-obatan juga harus disimpan pada rak-rak dan disusun berdasarkan golongan obat, jenis produk, kategori fast moving atau slow moving, serta berdasarkan analisis efisiensi kerja.
Barang yang disimpan di area penyimpanan supplier obat harus pada kondisi yang sesuai berdasarkan petunjuk penyimpanan sesuai ketentuan pabrik (produsen).
4. Penerimaan Pesanan
Sebelum didistribusikan ke berbagai fasilitas kefarmasian, penyuplai atau PBF terlebih dulu menerima pesanan. Penerimaan Surat Pesanan (SP) bisa melalui dua skema, yaitu:
Melalui salesman di fasilitas kefarmasian pelanggan, atau
Menerima pesanan langsung via telepon/fax.
Surat Pesanan (SP) adalah berupa surat tertulis yang ditandatangani Apoteker Penanggung Jawab (APJ). Sedangkan, pemesanan produk NPP (Narkotika, Psikotropika, dan Prekursor) harus dengan Surat Pesanan khusus yang ditandatangani Apoteker Penanggung jawab Apotek dan berstempel asli.
5. Pengiriman Pesanan
Apabila Surat Pesanan telah diterima, selanjutnya supplier obat menyiapkan barang pesanan yang dilakukan oleh bagian logistik. Umumnya, pengiriman obat/bahan obat dilaksanakan oleh pihak ketiga yang telah bersertifikat CDOB (Cara Distribusi Obat yang Baik) dari BPOM.
6. Penagihan Pembayaran
Penjualan yang dilakukan oleh PBF biasanya dilakukan secara kredit. Outlet sarana kefarmasian membuat pesanan ke salesman. Selanjutnya, faktur penjualan dibuat lalu dikirim bersama barang pesanan ke outlet bersangkutan.
Apoteker penanggung jawab harus menandatangani faktur penjualan dan dibubuhi stempel. Kemudian faktur tersebut disimpan oleh PBF sebagai piutang.
Saat faktur penjualan jatuh tempo, oleh PBF diberikan kepada salesman atau kolektor untuk selanjutnya menagih ke outlet.
Penting sekali bagi penjual obat untuk cermat dalam memilih supplier. Dengan memilih PBF yang tepat, Anda akan memperoleh produk pada harga terbaik secara mudah dan efisien.
Memilih PBF yang Tepat: Kunci Sukses Bisnis Farmasi Anda
Penting sekali bagi penjual obat untuk cermat dalam memilih supplier. Dengan memilih PBF yang tepat, Anda akan memperoleh produk pada harga terbaik secara mudah dan efisien.
Peran Krusial Apoteker Penanggung Jawab (APJ)
Di setiap PBF, termasuk Mandira Distra, seorang Apoteker Penanggung Jawab (APJ) memegang peran sentral. APJ bertanggung jawab untuk memastikan seluruh proses, mulai dari pengadaan, penyimpanan, hingga penyaluran, telah sesuai dengan standar CDOB dan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Kehadiran APJ yang kompeten adalah jaminan mutu dan legalitas bagi setiap produk yang Anda terima.
Tanya Jawab Seputar Pengadaan Obat di PBF
Apakah bisa memesan obat dalam jumlah kecil?
Tentu, PBF melayani pemesanan dalam berbagai skala, namun setiap PBF mungkin memiliki kebijakan minimal order yang berbeda. Hubungi tim kami untuk informasi lebih lanjut.
Bagaimana jika terjadi kerusakan barang saat pengiriman?
PBF yang patuh pada CDOB memiliki prosedur penanganan keluhan dan pengembalian barang (retur) yang jelas. Pastikan Anda langsung melapor sesuai prosedur yang berlaku jika menemukan kerusakan.
Apakah Mandira Distra melayani pengiriman ke seluruh Indonesia?
Mandira Distra memiliki jaringan distribusi yang luas. Untuk mengetahui cakupan area layanan kami secara detail, silakan kunjungi halaman kontak kami.
Baca lebih banyak tentang tips kesehatan dan obat-obatan di sini. Daftar obat yang kami distribusikan berdasarkan perusahaan produksi obat mitra kami dapat Anda temukan di halaman prinsipal kami. Jika Anda adalah pabrik obat maupun retail obat yang membutuhkan kerjasama dan informasi lebih tentang Mandira sebagai distributor farmasi, dapat menghubungi kami di sini.