...

Pharmaceutical care adalah pendekatan praktik kefarmasian yang menempatkan pasien sebagai pusat layanan. Fokusnya bukan hanya menyiapkan obat, tetapi memastikan penggunaan obat tepat, aman, dan memberi hasil terapi yang jelas.

Di artikel ini, Anda akan memahami pengertian pharmaceutical care, prinsip utamanya, proses kerja apoteker yang bisa diterapkan, contoh layanan yang selaras standar apotek di Indonesia, serta strategi implementasi di lapangan.

Pengertian Pharmaceutical Care

Definisi menurut Hepler dan Strand, WHO, dan FIP

Definisi yang sering dipakai secara luas berasal dari Hepler dan Strand, yaitu “responsible provision of drug therapy” untuk mencapai outcome tertentu yang meningkatkan kualitas hidup pasien. 

Definisi ini juga dikutip dalam rujukan praktik kefarmasian dan publikasi WHO terkait pengembangan praktik farmasi.

FIP pada 2025 menekankan people-centred pharmaceutical care sebagai praktik yang berorientasi hasil, mendorong kolaborasi apoteker dengan individu dan tenaga kesehatan lain, serta menekankan penggunaan obat rasional.

Peran pentingnya dalam pelayanan kesehatan

Peran pharmaceutical care terlihat saat apoteker aktif membantu mencegah masalah terkait obat, meningkatkan penggunaan obat yang rasional, dan membantu pasien memahami terapinya.

FIP juga menyoroti peran apoteker dalam tim multidisiplin dan menyebut manfaat yang dilaporkan dari intervensi apoteker, seperti peningkatan kepatuhan, penurunan rawat inap, dan perbaikan kualitas hidup.

Prinsip inti pharmaceutical care

Prinsip yang perlu Anda pegang saat menerapkan pharmaceutical care:

  1. Berpusat pada pasien dan kebutuhan individual.
  2. Berorientasi pada outcome dan keselamatan pasien.
  3. Kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain untuk memastikan terapi aman dan efektif.
  4. Dokumentasi dan tindak lanjut, bukan berhenti saat obat diserahkan.

Proses Pharmaceutical Care: Langkah Kerja Apoteker

Agar implementasi tidak berhenti di teori, Anda bisa mengikuti alur proses patient care. FIP merangkum proses ini sebagai collect, assess, plan, implement, dan follow-up.

Collect: kumpulkan informasi pasien dan obat

Kumpulkan informasi yang relevan:

  1. Keluhan dan tujuan pasien.
  2. Riwayat obat, termasuk obat bebas, suplemen, dan terapi rutin.
  3. Alergi, kondisi khusus, dan kebiasaan yang memengaruhi terapi.

Assess: identifikasi masalah terkait obat dan kebutuhan terapi

Nilai apakah ada masalah terkait obat, misalnya ketidaktepatan dosis, potensi interaksi, duplikasi terapi, atau risiko efek samping. Prinsip ini selaras dengan pengkajian klinis pada proses layanan resep di standar apotek.

Plan: susun rencana terapi dan tujuan

Tentukan tujuan terapi dan rencana tindak lanjut. Jika ada masalah yang perlu klarifikasi, rencana bisa mencakup komunikasi dengan tenaga kesehatan terkait.

Implement: jalankan intervensi dan edukasi

Implementasi biasanya berupa:

  1. Edukasi cara pakai obat dan apa yang perlu diwaspadai.
  2. Konseling singkat sesuai kebutuhan pasien.
  3. Intervensi untuk mencegah kesalahan penggunaan.

Follow-up: monitor dan evaluasi

Follow-up dilakukan untuk memastikan rencana berjalan dan outcome tercapai. Proses follow-up mencakup monitoring dan evaluasi. 

Contoh Bentuk Layanan Pharmaceutical Care di Apotek sesuai Standar Indonesia

Di Indonesia, standar pelayanan kefarmasian di apotek memuat pelayanan farmasi klinik yang langsung dan bertanggung jawab kepada pasien.

Pengkajian resep dan pencegahan medication error

Permenkes 73/2016 memasukkan pengkajian resep sebagai bagian pelayanan farmasi klinik. Di dalamnya ada kajian administratif, kesesuaian farmasetik, dan pertimbangan klinis seperti ketepatan indikasi, dosis, duplikasi, kontraindikasi, dan interaksi.

Pelayanan informasi obat dan konseling

Permenkes 73/2016 juga memuat Pelayanan Informasi Obat (PIO) dan konseling sebagai bagian pelayanan farmasi klinik. Ini menjadi pondasi pharmaceutical care di apotek karena membantu pasien paham cara pakai obat, durasi, dan risiko efek samping.

Pemantauan terapi obat dan monitoring efek samping obat

Pemantauan Terapi Obat (PTO) dan Monitoring Efek Samping Obat (MESO) tercantum sebagai layanan farmasi klinik di apotek. Ini relevan untuk pasien penyakit kronis, pasien dengan banyak obat, dan pasien yang perlu monitoring respons terapi.

Home pharmacy care

Pelayanan kefarmasian di rumah (home pharmacy care) juga termasuk dalam layanan farmasi klinik di apotek menurut Permenkes 73/2016.

Ini bisa membantu pasien yang butuh pendampingan lebih, terutama untuk kepatuhan minum obat dan penggunaan yang benar.

Implementasi Pharmaceutical Care di Lapangan

Strategi penerapan dalam apotek dan rumah sakit

Di apotek, strategi yang paling realistis dimulai dari layanan yang paling sering terjadi:

  1. pengkajian resep yang konsisten,
  2. PIO dan konseling pada pasien yang butuh,
  3. pencatatan dan tindak lanjut sederhana untuk pasien terapi jangka panjang.

Di rumah sakit, pharmaceutical care biasanya berjalan melalui kolaborasi di tim dan monitoring terapi obat selama perawatan.

Dokumentasi dan komunikasi tim

Dokumentasi membantu continuity of care. FIP menekankan penggunaan sistem informasi dan dokumentasi sebagai bagian dari praktik people-centred pharmaceutical care, termasuk dukungan EMR untuk keselamatan obat dan hasil terapi.

Di konteks apotek, Permenkes 73/2016 juga menekankan pencatatan dan pelaporan pada pengelolaan sediaan farmasi.

Tantangan dan solusi dalam praktik pharmaceutical care

Tantangan yang sering muncul:

  1. Waktu layanan terbatas.
  2. Data pasien tidak lengkap.
  3. Kolaborasi lintas profesi belum rapi.
  4. Dokumentasi belum konsisten.

Solusi yang realistis:

  1. Standarkan alur singkat untuk pasien berisiko tinggi, misalnya pasien polifarmasi dan pasien penyakit kronis.
  2. Gunakan checklist pengkajian resep yang konsisten sesuai standar pelayanan.
  3. Bangun kebiasaan dokumentasi singkat untuk intervensi penting dan follow-up.

Indikator Keberhasilan dan Evaluasi Mutu

Agar implementasi terukur, Anda butuh evaluasi mutu. Permenkes 73/2016 memuat contoh metode evaluasi seperti audit, review, survei, dan observasi untuk mutu pelayanan farmasi klinik.

Contoh yang bisa Anda ukur:

  1. Kepatuhan proses pada SOP layanan.
  2. Kejadian medication error yang berhasil dicegah.
  3. Kepuasan pasien untuk layanan konseling dan informasi obat.

Penuhi Kebutuhan Apotek Anda bersama Mandira Distra Abadi

Pharmaceutical care akan lebih mudah dijalankan jika ketersediaan obat stabil. Mandira Distra Abadi menyebut dirinya sebagai Pedagang Besar Farmasi (PBF) dan distributor obat sejak 1994.

Jika Anda ingin mendiskusikan kebutuhan pengadaan obat untuk mendukung layanan di apotek, Anda bisa melihat informasi layanan Mandira dan menghubungi tim Mandira melalui halaman kontak.