...

Untuk memastikan kelancaran operasional, ada struktur organisasi apotek yang diterapkan pada setiap apotek yang ada. Struktur organisasi tersebut berisi susunan pegawai dengan tugas dan tanggung jawabnya masing-masing.

Memiliki struktur organisasi berarti kinerja apotek sebagai pelayanan kesehatan bisa lebih optimal. Dengan adanya struktur tersebut, masing-masing pegawai dapat memahami dengan jelas perannya sehingga saling terintegrasi dan melancarkan operasional apotek.

Baca artikel ini hingga akhir untuk memahami lebih jelas tentang struktur organisasi pada apotek! Anda juga dapat mengetahui terkait 7 Jenis Bisnis Apotek beserta Fungsinya, sebagai informasi tambahan. Kemudian jika membutuhkan obat-obatan atau suplemen, Anda dapat memperolehnya dari Mandira, salah satu distributor obat terpercaya di Indonesia.

Struktur Organisasi Apotek

Struktur organisasi pada sebuah apotek umumnya berisi garis hierarki untuk mendeskripsikan komponen penyusun apotek. Dalam hal ini, komponen penyusun apotek adalah para pegawai dengan peran dan tanggung jawab masing-masing yang telah ditentukan.

Struktur organisasi membuat posisi serta hubungan antar pegawai ketika bekerja secara profesional lebih jelas. Jadi, tidak terdapat tumpang tindih dalam suatu posisi. 

Terdapat berbagai pegawai dalam sebuah apotek yang mendukung operasionalnya. Mulai dari Apoteker, Asisten Apoteker, Seksi Pembelian, Seksi Penjualan, lalu Seksi Gudang, Seksi Peracikan, hingga Seksi Tata Usaha.

Adapun manfaat yang akan dirasakan dari eksistensi struktur organisasi apotek diantaranya sebagai berikut:

  1. Mengetahui pembagian tanggung jawab secara jelas, sehingga menyelesaikan tugas dan peran ketika bekerja lebih efisien
  2. Memiliki kesempatan membangun kerja sama antara pegawai satu dengan lainnya sebagai sebuah tim
  3. Memudahkan proses koordinasi, khususnya ketika terdapat pemesanan dan juga penerimaan obat hingga pelayanan ke masyarakat

Peran dan Tugas Apoteker

Pada sebuah apotek, apoteker bisa berperan sebagai Pemilik Sarana Apotek (PSA), sebagai Apoteker Penanggung Jawab Apotek (APA), hingga sebagai Apoteker Pendamping. 

Namun, pada umumnya posisi atau jabatan ini menjadi gelar profesi yang diberikan ketika seseorang berhasil lulus pendidikan profesi apoteker. 

1. Sebagai Pemilik Sarana Apotek (PSA)

Apoteker yang memiliki wewenang sebagai PSA akan bertanggung jawab secara penuh atas pengelolaan dan kepemilikan apotek. Sebagai PSA, apoteker akan mengelola manajemen apotek, operasional, ketenagakerjaan, perizinan, keuangan, hingga hal sejenis yang berkaitan dengan regulasi apotek.

Kemudian, PSA sebagai pemilik juga bertanggung jawab untuk keamanan apotek melakukan operasional usahanya. Ini termasuk tanggung jawab jika terdapat kerugian akibat kelalaian pegawai apotek. Pengambilan keputusan terkait apotek pun kewenangannya terletak di seorang PSA.

2. Sebagai Apoteker Penanggung Jawab Apotek (APA)

Posisi APA pada apotek diatur dalam regulasi, yang mewajibkan satu APA harus ada dalam sebuah apotek. APA harus memegang Surat Izin Apotek (SIA) sehingga turut bertanggung jawab atas operasional apotek.

Lebih jelasnya, tanggung jawab APA adalah keberlangsungan dan perkembangan apotek yang sedang dipimpinnya. Selain itu, APA juga akan melapor langsung ke PSA mengenai kondisi apotek.

Tidak hanya sekedar memegang surat izin apotek, namun seorang APA turut berperan dalam kelancaran operasional apotek. APA akan memastikan apotek lancar melayani pemesanan serta penerimaan barang. 

Manajemen melakukan stok apotek, transaksi penjualan, lalu laporan keuangan hingga pembayaran pajak pun dikerjakan oleh seorang Apoteker Penanggung Jawab Apotek.

3. Sebagai Apoteker Pendamping

Untuk apoteker yang berperan sebagai pendamping dalam struktur organisasi apotek, maka tanggung jawabnya adalah membantu dan mendampingi apoteker utama. Pendampingan ini khususnya dalam melaksanakan pekerjaan kefarmasian apoteker utama.

Tugas seperti melayani pengajuan obat resep dan obat bebas hingga mencatat dan melaporkan obat yang keluar masuk menjadi contoh ruang lingkup pekerjaan seorang apoteker pendamping.

Berbagai tugas lain dalam keseharian apoteker pendamping adalah menyusun resep obat berdasarkan nomor urut dan tanggalnya, lalu menjaga kondisi ruang peracikan obat, termasuk lemari obat, rak obat, hingga gudang penyimpanan obat.

Ketika keadaan darurat, seorang apoteker pendamping biasanya bisa berperan menjadi juru resep, lalu melayani penjualan obat bebas, hingga menjadi kasir apotek.

Contoh Struktur Organisasi Apotek

Berdasarkan alur tanggung jawabnya, berikut contoh struktur organisasi pada apotek:

  • Apoteker Penanggung Jawab Apotek (APA) → Pemilik Sarana Apotek (PSA)
  • Apoteker Penanggung Jawab Apotek (APA) → Apoteker Pendamping → Tenaga Teknis Kefarmasian (TTK), Petugas Administrasi, Petugas Gudang

Struktur tersebut menjelaskan bahwa seorang PSA bisa berasal dari golongan non-apoteker. Bila kasusnya seperti itu, maka PSA perlu bermitra dengan seorang APA. 

Perjanjian antara keduanya harus jelas. Sebab, di dalamnya membahas pembagian tanggung jawab, lalu pengambilan keputusan, hingga kompensasi masing-masing posisi atau jabatan. 

Struktur organisasi apotek bermanfaat dalam membantu pegawainya berintegrasi demi mengoptimalkan pelayanan apotek kepada masyarakat. Salah satu posisi dengan tanggung jawab terbesar adalah apoteker, sehingga penting mengetahui ruang lingkup pekerjaannya. Anda juga dapat mengetahui Peran Penting Apoteker di Distributor Obat-obatan Farmasi

Jika Anda membutuhkan berbagai obat tertentu atau suplemen, bisa didapatkan dari Mandira, distributor obat-obatan resmi dan original. Daftar rincinya dapat ditemukan di halaman prinsipal kami. Anda juga bisa memperoleh informasi lanjutan dengan menghubungi kami di sini dan membaca lebih banyak tentang tips kesehatan dan obat-obatan di sini.